KORESPONDENSI.ID - Sesegera mungkin setiap bakda subuh, saya jalan kaki untuk mengolah raga. Selain itu untuk menghirup udara lebih bersih. Tak jauh, paling satu kilometer. Tapi istikamah. Waktu yang jernih, bening dan hening. Saya harus menyudahinya dengan peregangan di teras sebelum ibu-ibu di kampung keluar rumah untuk belanja kebutuhan dapur di ujung jalan dekat rumah.
Di saat jalan kaki itu pula, saya
terbantu dengan informasi dini tentang meninggalnya seseorang yang diumumkan melalui
pengeras suara di masjid/musala. Jika meninggal dunianya petang/malam dan akan
dimakamkan pagi, informasinya diumumkan bakda subuh. Saya tinggal di batas
kota, di dataran yang agak tinggi di banding pusat kota yang hanya berjarak 2,5
km dari rumah. Posisi itu memungkinkan saya bisa mendengar informasi kematian
dari empat desa/kelurahan. Terkadang sepekan atau dua pekan ada sekali atau dua
kali pengumuman kematian, atau sebulan sekali.
Dalam tiga pekan ini, saya merasa
agak beda. Frekuensi pengumuman kematian saya hitung jauh lebih sering. Pernah
di hari yang sama, sejak pukul 05.00 sampai 08.00 ada lima kali pengumuman dari
arah satu desa dan dua kelurahan. Saya bisa mendengar jelas nama yang meninggal
beserta alamatnya. Terlintas pikiran, mungkinkah ini efek Covid-19? Setiap
terlintas yang demikian, secara reflek saya berupaya mementahkannya sendiri.
Bisa jadi karena memang meninggal sebagaimana sebab-sebab lain meninggal dunia
sebelum masa pandemi. Bisa jadi reflek saya itu bagian dari reflek lain bahwa
saya sedang menenangkan diri dari rasa cemas. Tapi lintasan pikiran saya yang
pertama dan cara saya meragukan/mementahkan pikiran saya sendiri tadi sama-sama
tidak terkonfirmasi validitasnya. Sebab saya hanya mendengar dari jauh pengumuman
kematian itu, bukan sebab kematian.
Apa yang saya dengar itu setali tiga
uang dengan dinamika di media sosial. Hampir di semua platform (paling banyak
di Facebook dan WhatsApp/WA) ada kecenderungan serupa. Begitu banyak informasi "innalillahi".
Ada belasan grup WA yang saya ada di dalamnya dengan berbagai latar belakang, hampir
tiap hari ada informasi "innalillahi" yang berbeda.
Saya punya teman yang karena
pekerjaannya, story WA-nya sering memperbarui informasi pemakaman standard jenazah
terkena Covid-19. Saya tidak membukanya, meski tetap saja kelihatan. Saya
mencoba menyimak dengan tenang dinamika grup-grup WA. Informasinya makin berkembang.
Di sana-sini ruang rawat di rumah sakit penuh. Saya sesekali mengirim pesan
pribadi ke pihak yang kesulitan dan bertanya di grup tentang sesak napas yang
diderita keluarganya. Saya sarankan ke A dan B. Dia sudah mencobanya dan ruangnya
penuh. Seketika saya berpikir betapa penting pembaharuan dan penyebaran
informasi secara cepat, akurat dan terpadu mana ruang perawatan yang masih bisa
menampung orang sakit. Saya pernah bekerja yang ruang lingkupnya bertemu banyak
orang. Tak sedikit yang bertanya soal harus dirawat kemana. Foto-foto penuhnya
ruang instalasi gawat darurat juga menyebar luas.
Saya mengingat beberapa ungkapan spontan
sahabat-sahabat saya, baik yang saya dengar langsung maupun yang saya baca di
grup WA. Ungkapan itu di antaranya seperti ini: "Apotek gak pernah sepi.
Nek antre tuku obat isa sak jam luwih". Ada lagi yang begini, "Karepe
ora nang dokter, tapi obat flu nang warung-warung kampung entek". Ungkapan
ini saya dengar sehari setelah hujan turun dan beberapa hari sebelumnya mendung.
Sebelumnya panas terik terjadi beberapa pekan. Saya termasuk yang flu, hanya
meler di hidung. Saya ke dokter langganan batal karena pelataran dan jalan
ruang praktiknya penuh kendaraan pengantre. Belum lagi teman-teman yang sering
berkata langsung ke saya seperti ini, "Flu itu kan ya biasa. Sering saya
mengalaminya. Tapi masa-masa sekarang, meriang, batuk, pilek, sakit kepala,
rasanya jadi panik. Jangan-jangan… ".
Teman saya yang lain menulis di akun
Facebooknya dengan judul: "Kematian Begitu Dekat". Di tulisan itu ia
bercerita beberapa teman kerjanya meninggal dunia dalam waktu yang berdekatan. Sedangkan
testimoni teman yang tinggal di sebuah desa dekat pabrik dengan ribuan tenaga
kerja seperti ini: "Nang desaku seminggu iki wis ana wong papat sing mati.
Umur e 40-an tahun. Pengumuman terus isine".
Sahabat saya yang lain menulis
begini di grup WA: "Sedina iki maeng wong mati pindo, esuk karo lagi wae. Sing
tukang siaran kematian wonge lara sisan, akhire ngongkon Kang xxx tukang
resik-resik masjid. Tek angger ngene (pengumumane): ‘Innalillahi, Mbah xxx RT
xx pejah’. Wis ngana tok gak ana kembangane blas". Sahabat saya ini sebetulnya
ingin berbagi rasa, betapa banyak informasi "innalillahi" hari-hari
terakhir ini. Juga banyak permohonan doa dari banyaknya orang yang sakit. Orang
yang biasa mengumumkan informasi kematian secara lengkap juga dalam kondisi
sakit, sehingga mengalihkan tugasnya ke orang lain dengan bahasa pengumuman
yang ringkas, tak seperti biasanya.
Meredam Kepanikan
Di
sudut yang lain, media massa dan media sosial terus memperbarui dinamika pandemi.
Saya sudah berbagi di tulisan saat awal pandemi di website ini dengan judul: Tips
Tenang Hadapi Membludaknya Informasi Covid-19. Setiap orang bisa memilih cara
bagaimana bisa menenangkan diri. Sebagian menarik diri dari informasi-informasi
itu dan memilih pasif. Meyakinkan diri bahwa kondisi baik-baik saja. Tapi ini
agak sulit karena informasi seputar wabah ada dimana-mana. Kita tak sedang membawa
telepon pun bisa mendengar informasi-informasi itu. Setidaknya rentetan
pengumuman "innalillahi", dari tetangga, juga teman-teman. Saat berbelanja
dan pasar tutup sementara pun bisa menjadi rangkaian sebuah informasi seputar pandemi.
Sebagian lagi tetap mengikuti
perkembangan itu, namun dapat memilah informasi secukupnya. Ini juga tidak
mudah, terutama di bagian memilah informasi. Saking banyaknya. Menenangkan diri
dengan menyatakan Covid-19 tidak ada, rasanya tidak sejalan dengan fakta klinis
dan serangkaian kejadian. Bukankah ada banyak sekian testimoni dan pesan dari para
penyintas Covid-19? Sebagian lain mengambil peran dengan terjun langsung dalam penanganan, saling bahu
membahu mengurai persoalan dan menyelesaikannya. Mereka berinteraksi dengan
banyak opini, berpeluh, mengambil risiko dan tanggung jawab sekaligus, serta
tetap fokus pada tugasnya.
Pilihan-pilihan sikap yang bijak
lebih dibutuhkan saat ini. Bisa dengan bersimpati dan berempati terhadap mereka
yang sedang berjuang untuk sembuh, juga mendoakan dan mendukung para tenaga
medis yang fokus menangani wabah. Kepada yang sehat selalu saling mengingatkan
untuk menjaga kesehatannya. Para pengambil kebijakan punya wilayah kerja sendiri
dan perlu terus didukung, dievaluasi, diingatkan, dan diberi masukan-masukan
terbaik. Atau sebagai siapapun bisa turut mengedukasi lingkungan terdekat,
keluarga, teman, atau tetangga untuk lebih berhati-hati dan menerapkan prosedur
kesehatan agar sama-sama bisa mencegah penularan.
Pilihan-pilihan sikap yang proporsional
itu penting untuk membantu menguatkan psikis masyarakat yang hampir setiap saat
mengasup kabar "innalillahi". Sakit dan kematian, secara naluriah
selalu ingin dihindari. Ketika keduanya mendekat dan kian dekat, psikis akan
merespons dengan ketakutan, kepanikan, dan kecemasan. Kepanikan sulit
dihindari, tetapi ia bisa dikurangi dan bahkan dinetralisasi. Dampak pandemi
bersifat komunal. Ia memapar tidak hanya ke satu atau dua orang, tidak di satu atau
dua lokasi. Ia menyebar secara acak, mengikuti rute penularan. Sehingga menuntut
banyak pihak agar ada di frekuensi rasa yang sama, sehingga ada jalan keluar
yang juga dilakukan bersama-sama.
Banyak cara bagaimana meredam
kepanikan, rasa cemas, atau takut. Rasa takut muncul dalam dua tahap, dari
reaksi biokimia sampai pada respons emosional. Rasa takut secara otomatis
melepaskan hormon stres. Kecemasan yang berlebihan akan memantik seseorang
untuk menghindar, dengan apapun caranya. Di tengah kepungan kabar "innalillahi"
di masa pandemi, sebisa mungkin menutup rasa panik yang berlebihan.
Menumbuhkan Harapan
Ada
ahli dari berbagai disiplin ilmu yang bisa menjelaskan banyak hal, bagaimana
mengurai rasa panik dan takut. Saya sekadar teringat kalimat dari Abu Sulaiman ad-Darani (wafat pada 215 H), seorang sufi asal kampung Daaraa di Damaskus yang
dikutip dalam Kitab Nashaih al-Ibad karya Imam Nawawi al-Bantani. Kira-kira poinnya
seperti ini: Pokok dari segala kebaikan dunia dan akhirat itu rasa takut kepada
Allah. Mengapa, karena rasa takut kepada Allah itu bisa memindah lembaran amal
ke sisi kanan setelah sebelumnya condong ke kiri. Seseorang yang dalam kondisi
selamat dari sakit (sehat) hendaknya memiliki dua sikap sekaligus, yakni menjadi orang
yang punya rasa takut (khauf) dan orang yang memiliki harapan (raja’). Rasa takut dapat
menjadi alarm untuk mencegah penyimpangan (maksiat), sedangkan menumbuhkan rasa
penuh harap bisa menimbulkan efek produktif, yakni melakukan hal-hal yang baik
dan bermanfaat. Ibadahnya orang yang penuh harap, itu lebih utama dibanding
ibadah orang yang didasari hanya dengan rasa takut. Mengapa? Karena harapan itu
timbul dari rasa cinta (mahabbah).
Saya
membaca apa yang dinukil Imam Nawawi dari ‘dawuh’ Abu Sulaiman ad-Darani itu
dalam konteks rasa takut kepada Allah. Namun saya mencoba mengaitkannya dengan
rasa-rasa serupa dalam konteks menyikapi pandemi. Di tengah banyaknya kabar "innalillahi " dan panjangnya
antrean orang yang ingin dirawat di rumah sakit, apalagi di tengah pandemi,
rasa takut tetap bisa ditoleransi sebagai bentuk kewajaran. Wajar karena orang
yang sehat tak ingin mengalami kondisi yang sama. Ketakutan, atau sebut saja
kekhawatiran yang terkendali itu akan mendorong orang untuk lebih antisipatif.
Jika tak terkendali, rasa takut itu bisa menimbulkan tekanan batin, sehingga efeknya
seperti banyak orang mengatakan, akan rawan ikut menurunkan imunitas tubuh.
Tetapi rasa takut itu mesti
dibarengi dengan harapan (raja’). Harapan-harapan ini sebagaimana ditulis Imam Nawawi,
yab’atsahu al raja-u ‘ala iktisaab-i al amali al shalihi (dapat mendorong tindakan-tindakan
yang baik). Adanya harapan untuk bisa pulih dan keluar dari masa sulit pandemi ini,
menuntut langkah-langkah bersama bagaimana bisa mengatasi Covid-19.
Itu mengapa, putus asa dan frustasi
di tengah masa sulit (pandemi) tidak tepat. Mendengar dan membaca kabar "innalillahi"
berkali-kali dalam sehari juga mesti disikapi secara tenang dan bijaksana. Lagi
pula istirja’ atau mengucapkan/mengabarkan "innalillahi wa inna ilaihi
rajiun" itu sudah menjadi perintah dalam agama di saat terkena atau
terjadi musibah. Pengumuman kematian di pengeras suara, melalui akun media
sosial, atau pesan berantau WA itu perlu dimaknai bahwa kita semua itu "mamlukuna
lillah" (sepenuhnya kita ini milik Allah). Kita tak memiliki apa-apa,
termasuk harta dan jiwa. Kabar "innalillahi" juga bisa menjadi alarm
betapa kita mesti "mudabbiruna tahta amrihi wa tashrifihi" atau patuh
dan ikut sepenuhnya di bawah perintah-Nya.
Sedangkan "wainna ilaihi rajiun"
menguatkan keyakinan bahwa kita semua akan kembali kepada-Nya. Kabar "innalillahi"
yang bertubi-tubi itu juga sekaligus mengingatkan adanya ketetapan Allah, yang siapa
saja harus dan mesti akan menerimanya.
Saat menerima kabar kematian maupun
banyaknya orang yang sakit di tengah pandemi, perlu menanamkan sikap yang
proporsional. Ada porsi sebagai makhluk (manusia); bagaimana menggunakan haknya
untuk berikhtiar seoptimal mungkin. Tetapi juga harus menyadari ada hak Sang Pencipta
yang ketetapan-ketetapannya harus kita terima. Dengan sikap seperti ini,
ketakutan dan kepanikan bisa dikendalikan. Tentu saja dengan terus berusaha dan
memupuk harapan kepada Sang Pencipta. Orang terkena musibah itu sudah diliputi tangis,
tak perlu ditambah tangisnya dengan opini-opini yang tak sehat di tengah pandemi.
Saya menulis ini enam jam setelah seorang
ibu, tetangga saya, tadi pagi memborong nasi bungkus di tempat belanja
kebutuhan dapur di ujung jalan rute saya jalan kaki tiap subuh. Ia membelinya
untuk keperluan makan siapa saja yang membantu proses pemakaman adiknya di desa
sebelah yang dinihari tadi meninggal dunia. Tulisan ini juga saya ketik hanya berselang
satu jam setelah kabar meninggalnya dua ibu dari dua sahabat saya, juga
bersamaan dengan lebih dari 70 komentar di grup WA yang menulis innalillahi
karena ada teman yang meninggal dunia di luar kota. Allahumma ighfir lahum wa-irhamhum
wa ’afihim wa’fu 'anhum.


Alhamdulillah, kegalauan saya sering membaca atau mendengar kabar Innailaihi wa innailaihi rojiiun akhir-akhir ini dapat dijelaskan dengan ilmiah, maturnuwun pencerahan & silaturahmi media digital ini mas Bro mdune, Barakallah 🤲🙏
BalasHapusTerima kasih, Mas Yofi.
BalasHapusTerima kasih, Mas Yofi
HapusKabar duka yang dituangkan dalam narasi seolah mengantarkan kita pada titik kesadaran, bahwa suatu saat kita juga akan dikabarkan entah di masjid atau di musala.
BalasHapusSatu lagi, gaya tulisan kang Madun yang sangat khas.. Hee.. Hee..
Terima kasih, Mas
BalasHapus