KORESPONDENSI.ID – Adakah generasi Z yang menjauhi popularitas? Kalau kata popularitas kurang tepat, bisa diganti dengan “eksis di ruang publik”. Bisa saja ada. Namun padatnya aktivitas online yang dilakukan generasi Z, membuktikan kecenderungan mereka butuh eksistensi di ruang publik dengan cara-cara barunya. Itu bentuk popularitas atau kelaziman gaya hidup zaman sekarang, dua-duanya sulit dipisah.
Khawatir terhadap jalan atau hidup
akan seperti apa, sah-sah saja. Apalagi jalan hidup generasi berikutnya. Sebut
saja kekhawatiran orang tua terhadap pilihan hidup anaknya. Atau, kekhawatiran
orang tua saat anaknya ini mengambil keputusan-keputusan penting yang berdampak
pada masa depannya. Karena ada tuntunan agar seseorang, sebut saja orang tua, mesti
punya ruang untuk takut atau khawatir terhadap lemahnya generasi berikutnya. Kekhawatiran
ini tentu saja masih dalam batas nilai dan koridor untuk mengambil ikhtiar
bagaimana agar apa yang dikhawatirkan tidak terjadi.
Pernah dalam satu waktu, seorang ayah
dari tiga anak, menceritakan betapa khawatirnya dia memiliki (salah satunya)
anak perempuan. Ia memberi catatan satu tebal: pergaulan yang sangat longgar di
masa sekarang, termasuk pergaulan di berbagai jejaring media sosial. Alhasil,
ia “tratapan” saat melepas anak perempuannya ke luar rumah. Contoh ini hanya
satu gambaran kekhawatiran dalam dimensi tertentu. Banyak bentuk-bentuk
kekhawatiran lain.
Seorang anak, biasanya juga memiliki
masa-masa dimana pilihannya akan punya potensi besar berdampak pada
perkembangannya, di semua hal. Di antaranya saat memilih sekolah, berteman
dengan siapa, berguru dengan siapa, dan di lingkungan seperti apa. Masa penting
dan kerap memunculkan pilihan-pilihan sulit juga ada ketika akan masuk ke
perguruan tinggi. Siswa kelas 3 (sekarang kelas 12) SMA/MA/SMK yang ingin
meneruskan ke perguruang tinggi sudah lebih fokus mempersiapkan diri. Di masa
seperti ini, butuh kejernihan dalam menentukan langkah. Kekhawatiran dan
kebingungan kadangkala muncul.
Dengan naik bus patas dari Jateng ke
Jatim, setelah liburan yang padat kegiatan, anak saya berangkat lagi ke
pesantren dan naik kelas 3 SMA. Ia membawa belasan buku yang dibeli dari
Yogyakarta selama libur. Ia memilih sendiri judul-judulnya. Sebagian dari buku
itu adalah buku pelajaran sekolah (semacam referensi untuk pengayaan bacaan),
dan buku-buku umum non pelajaran sekolah. Saya tahu dia sedang memikirkan
hal-hal yang biasanya dipikirkan kebanyakan orang tentang perguruan tinggi, dan
apa yang harus dilakukan pada tahun terakhir di bangku SMA. Dia telah
memanfaatkan banyak waktu dan peluang untuk membentuk sikap dan pilihan-pilihan
dalam belajar dan menempa diri. Ia banyak berdialektika dengan lingkungannya.
Kedua, menguatkan lagi kebiasaan
berolahraga dan membaca. Kesehatan adalah hal paling mendasar bagi seseorang.
Menjaganya adalah keharusan. Kebiasaan berolahraga secara teratur perlu terus
dijaga. Dia memang suka dengan olahraga basket. Fasilitas sekolah
menyediakannya dan ia terbiasa dengan bermain basket. Olahraga adalah investasi
kesehatan. Pembelajar harus sehat secara fisik. Maka, meski sibuk dengan
pelajaran-pelajaran sekolah, kebiasaan berolahraga perlu terus dilakukan karena
ia sangat membantu kebugaran dan itu menunjang proses belajar. Kebiasaan
membaca buku-buku umum (di luar buku pelajaran sekolah) juga perlu terus
dilakukan, apalagi ia sudah menjadi kebutuhan dan rilaksasi sekaligus. Membaca
menjadi kebutuhan sebab otak butuh input pengetahuan. Di titik ini membaca
adalah investasi otak dalam jangka Panjang. Membaca buku-buku dengan tema-tema
yang digemari menjadi rilaksasi sebab seseorang kadang butuh variasi input
otak, dan berselancar dengan buku-buku adalah salah satu jalan terbaik.
Ketiga, fokus pada
pelajaran-pelajaran sekolah dan secara bersamaan memperbarui
informasi-informasi yang dibutuhkan terkait masuk ke perguruan tinggi. Waktu
efektif yang dibutuhkan untuk dua hal ini tidak banyak. Hanya ada di kisaran
enam bulan. Kata kuncinya adalah fokus belajar. Jika ada hal lain yang perlu
dilakukan adalah membuka pintu komunikasi dengan pihak-pihak yang bisa membantu
untuk belajar dan membuka kran informasi masuk perguruan tinggi. Rasa ingin
tahu, usaha mencari jawaban, dan menerjemahkannya dalam sikap-sikap yang
produktif harus terus hidup.
Keempat, sebagai santri maka tetaplah
sebagaimana santri. Keistikamahan dalam mengaji dengan kiai serta muthalaah
harus terus dijaga. Selain ilmu tauhid yang memang wajib dan menjadi prioritas,
kajian-kajian fikih baku yang harus dikuasai, perlu terus dipacu. Fikih
thaharah (bersuci) dari hadas kecil dan besar, fikih salat, fikih, puasa,
fikih, zakat, fikih haji, dan fikih muamalah seperlunya, perlu dipahami. Paling
tidak, Kitab Fathu al-Qarib dan Fathu al-Muin perlu dibaca berulang-ulang
(muthalaah), dan bagian yang sekiranya kurang/tidak paham dicatat dan dicari
jawabannya kepada guru.
Bagaimanapun, saat pulang dari
pesantren, santri punya bekal pengetahuan sebagaimana di atas dan hal itu
menjadi kebutuhan pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat. Selebihnya istikamah
bangun malam untuk salat, tadarus setiap selesai salat, dan menziarahi para
guru-guru agung selagi ada kesempatan. Jalan ini memang terasa sunyi buat usia
remaja. Ia jauh dari hiruk pikuk, keramaian, viralitas, dan popularitas. Tidak
mudah menempuh jalan ini, kecuali didasari kuatnya niat, kesabaran, ketekunan,
serta harapan dan doa. Ia harus menempuh jalan-jalan senyap, sunyi, klasik, dan
bahkan kelihatan kuno itu. Jalan yang sekarang mulai banyak ditinggalkan
generasi baru. Tetapi saya menguatkannya, bahwa disitulah jalan para
leluhurnya. Ia boleh berjalan di dunia yang sekarang, dunia penuh keriuhan,
cepat berubah, dan sangat acak. Kenyataannya hidup ini memang riuh. Tetapi
jalan yang senyap itu harus ditempuh dengan sungguh-sungguh untuk membentuk
siapa dirinya kelak. Jalan sunyi itu akan membuka pintu-pintu langit, pintu
yang basah dengan keberkahan. Ia bekal yang tak akan habis dan selalu
dibutuhkan, di tengah kehidupan yang sering tanpa pedal rem ini. ##


Posting Komentar