KORESPONDENSI.ID - Sesekali berbincang dengan orang-orang yang jauh lebih sepuh. Pun kadang mengobrol dengan anak-anak remaja. Mereka memiliki pengalaman berbeda. Kisah-kisah masa lalu kini menjadi khas. Tidak atas dorongan apa-apa, kecuali sebagai penanda masa, kenangan, juga pembelajaran. Dalam sekali tempo, dengan cara dan bahasa lain, kisah ini diserap belasan anak-anak yang saban hari bermain dan belajar di teras rumah.
Misalnya saat paceklik,
untuk sekadar mengganjal isi perut, dulu kerap berburu “telo ganthong” di tegalan/kebun. Tahu
telo ganthong? Ubi jalar sisa hasil panen yang terpendam berbulan-bulan setelah
dipanen. Ia terlewatkan oleh pemilik tegalan. Rasa telo ganthong lebih manis,
bahkan dulu dimakan mentah-mentah. Saya tak bisa menjelaskan mengapa memakannya
tidak menyebabkan sakit perut kala itu. Pokoknya itu (dulu) enak sekali. Ia camilan penjeda nasi jagung, atau campuran nasi jagung dengan nasi dari beras.
Pernah mengalami masa kecil di
salah satu desa yang baru teraliri jaringan listrik pada 1997. Jaringannya masih semipermanen karena tiang
listrik berupa potongan bambu. Kekuatan dayanya untuk tiap rumah hanya dibatasi
satu sampai dua lampu. Empat tahun kemudian baru ada tiang listik beton dengan
daya yang lebih. Air bersih (dari perusahaan daerah) baru bisa dirasakan pada
2016. Sebelum 2016, untuk mendapatkan air bersih ada tiga cara; menunggu
hujan turun, saat kemarau harus membeli air dari desa sebelah yang sudah ada
air bersih berlangganan, serta menunggu ada bantuan air datang dan ini sangat
terbatas.
Sekitar 1980-an, untuk bisa mendapatkan air saat kemarau,
warga membikin sumur sedalam lima sampai tujuh meter di bekas kubangan air. Disebut kubangan karena ia belum berfungsi sebagai bendungan air. Bahkan
sering sebagai tempat memandikan kerbau. Saat surut dan mengering, dasar
kubangan berdiameter sekitar 25 m itu digali. Sebut saja membikin sumur, meski
bentuknya seperti lingkaran kawah. Dasar
sumur itu berpasir dan memiliki mata air. Karena amat sedikitnya sumber mata air, warga harus menunggu berjam-jam dan
mengantre. Warga bisa turun ke dasar sumur dan mengambil air dengan menggunakan
cangkir. Setelah jeriken atau kelenthing (terbuat dari tanah liat yang dibakar)
penuh, baru naik ke bibir sumur. Saking antrenya,
warga membikin sumur anakan di sekitarnya. Berisiko, namun dapat mengurangi
antrean. Risikonya, dengan munculnya sumur baru, mata air di sumur induk
berkurang.
Sepanjang pagi hingga
sore, air di sumur yang terkumpul itu tak pernah lebih dari 10 liter. Sebab
setiap mengalir dan terkumpul dua sampai tiga gelas sudah diambil. Warga yang rumahnya berjarak paling dekat dengan mata air terkadang memanfaatkan waktu tengah malam untuk mengambilnya dengan penerang
lampu teng. Lampu teng mirip lampu senthir yang terlindung kaca agar tak padam
oleh terpaan angin. Saat tengah malam, cadangan air lebih banyak. Sedemikian khas
cara warga mendapatkan air.
Untuk mandi tiap orang membatasi
tak lebih dari tiga liter. Karena air keruh bercampur lumpur dan pasir, agar bisa
digunakan untuk mandi mesti diendapkan dulu agar lebih jernih. Warga mandi rata-rata cukup
sekali dalam sehari. Kebutuhan lain yang penting adalah wudu (ini pun sering
tergantikan dengan tayamum) dan ternak. Warga, termasuk anak-anak bisa mandi lebih sering jika air Kali
Sungai Juwana tidak asin, sebab bisa langsung mencebur ke sungai. Namun
sepanjang kemarau, selalu sungai yang membelah Kabupaten Pati bagian utara dan
selatan dan bermuara di Laut Jawa ini airnya asin. Tak masalah, warga tetap mandi air
asin, lalu dibilas dengan air sumur hasil antrean tadi agar tak lengket di
badan.
Efek-efek lain dari
sulitnya mendapatkan air terkadang juga memengaruhi cara pandang orang setempat
dalam memilih jodoh. Jika sampai berjodoh dengan orang kota/desa yang terbiasa
dengan air melimpah, maka dikhawatirkan tidak akan betah tinggal di desa kami.
Atau setidaknya kalau memang berjodoh, adaptasi menjadi beban tersendiri.
United Nation atau Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2019 menyebut krisis air global diprediksi terjadi pada 40 tahun ke depan. Prediksi ini didasarkan atas kenyataan saat ini 40 persen populasi dunia mengalami kelangkaan air. Kelangkaan air, sebagaimana tertuang dalam riset berjudul An Agenda for Water Action, akan terus berlanjut dan makin parah pada 2030. Ilmuan memprediksi dan mewaspadai ketegangan bangsa-bangsa bisa terjadi karena berebut air.
Bagi warga setempat, 30-40 tahun sebelum peringatan dari PBB itu, kelangkaan air sudah menjadi bagian dari kehidupan di kampung tersebut. Setidaknya saya mengalaminya selama lebih kurang 12 tahun, sebelum akhirnya pindah tempat tinggal karena sekolah. Persisnya di tempat baru yang tak ada kesulitan air bersih.
Kerap Banjir
Istilah mangsa ketiga ra isa cewok, rendeng ra isa ndodok sudah melekat di desa kami, kala itu. Jika potret kemarau sedemikian tragik dinamika kekeringannya, berbalik dengan kondisinya saat curah hujan tinggi. Hampir tiap tahun di kampung itu dan desa tetangga menjadi kerap dilanda banjir. Air berasal dari selatan menerjang areal persawahan, sedangkan dari barat melalui luapan Kali Juwana.
Sudah masyhur kala itu
(setidaknya era 1980-an, 1990-an, dan awal 2000-an), setiap ada banjir, pertanyaan
identifikasinya jelas; banjir sangka kidul, apa sangka kulon? Kalau dari
selatan (kidul), ia sering dalam bentuk banjir bandang. Airnya keruh bercampur
lumpur. Jika menerjang persawahan, tanaman padi akan rata dengan tanah dalam
waktu singkat. Banjir model ini lebih cepat surut. Kalau banjir dari barat, proses
pasang air agak lambat. Pun surutnya, lelet. Banjir model ini, jika curah hujan
terus-terusan tinggi, ditambah tata kelola air belum beres, hampir pasti merendam rumah-rumah warga selama sekitar
dua bulan. Saking lamanya surut, air terlihat jernih. Ia seperti tak mengalir
karena permukaan tanah di desa saya lebih cekung daripada permukaan air di Kali
Juwana. Air akan surut jika debit air Kali Juwana surut. Melalui sungai itulah
banjir di desa ini airnya terbuang. Karena lama tak surut, tak ada tanaman di
sawah dan tegalan yang tersisa. Rumput pun mati. Sejauh mata memandang,
permukaan tanah tertutup lumpur (warga setempat menyebutnya ‘linet’) sisa
banjir.
Anak-anak di kampung itu
bisa mahir berenang karena banjir yang model ini. Untuk mobilisasi, tentu dalam
jarak kurang dari 2 km, mereka menggunakan gethek (terbuat dari rakitan bambu
atau pohon pisang). Air setinggi sekitar dua meter di atas permukaan jalan juga
kerap dijadikan wahana berenang. Dengan masa lalu seperti ini, hampir tak ada
anak yang tak bisa berenang. Saat tak banjir saja, anak usia delapan sampai 12
tahun sudah berani berenang menyeberangi Kali Juwana yang lebarnya kira-kira
100 meter. Menyeberang dan kembali lagi dengan berenang. Itu sama dengan
panjang lintasan kolam renang yang dipertandingkan di olimpiade. Mereka mahir
secara otodidak.
Banjir kian meluas jika
datang dalam bentuk gabungan antara keduanya, kiriman air dari selatan dan dari
barat sekaligus. Apalagi saluran air banyak yang tak normal, baik drainse
maupun sungai-sungai dan ditambah curah hujan tinggi. Berkali-kali warga
kampung mengungsi ke rumah sanak saudara yang masih terbebas banjir, maupun ke tempat
penampungan pengungsi yang disediakan atau diupayakan secara kelompok di desa
lain yang tak terendam banjir. Saat masih sekolah di madrasah tsanawiyah,
setidaknya kami anak-anak desa dua kali mengungsi. Paling lama dua bulan. Ya, mengungsi di
rumah salah satu guru yang rumahnya dekat dengan sekolahan, atau berjarak sekitar
tiga kilometer dari kampung yang seluruhnya terendam tadi. Pelajar yang mengungsi membawa bekal seadanya.
Bekal-bekal itu dimasak untuk kebutuhan makan sehari-hari. Jika bekal habis, maka akan mendapatkan kiriman seadanya. Atau, anak-anak itu pulang mengambil perbekalan dengan
transportasi gethek. Hanya bekal seadanya. Di kampung yang tenggelam
seperti itu, jambu biji yang masih bertahan hidup di masa-masa awal banjir bisa menjadi bahan pokok menu sarapan.
Saat kangen rumah dan
pulang (tentu saja dengan dijemput gethek dari titik yang memungkinkan), kami mendapati satu pohon kedondong di tepi masjid dekat rumah berbuah lebat dan
banyak yang masak. Pohon ini masih bertahan hidup meski daunnya mulai layu
tanda akan mati. Buah kedondong yang masak itu saat jatuh menimbulkan suara
percikan air. Ada beberapa warga yang mengungsi di masjid (tinggal di atas
kerangka bambu karena lantai masjid terendam sekitar satu meter). Saat
mendengar suara kedondong jatuh, kami langsung semburat
dari peraduan, dan menyelam ke dasar untuk mencari kedondong tersebut.
Harus menyelam
karena ketinggian air di pelataran rumah mencapai sekitar dua meter. Pohonnya
cukup besar. Tanpa tahu titik jatuhnya, menuntut kami harus mencarinya di titik
seluas jangkauan dahan-dahannya. Di sini kami belajar bertahan di dalam air
sedalam dua meter, sambil mencari sebutir kedondong yang tak terdeteksi
koordinatnya. Setelah kedondong ditemukan, kami selebrasi dan berbagi cokotan . Semangat berburu itu sebetulnya
spekulatif. Tak ada yang tahu pasti yang jatuh itu kedondong, atau pengelabuan
salah satu dari kami dengan menjatuhkan benda di bawah pohon tersebut agar
tampak seperti jatuhnya kedondong. Ini beberapa kali terungkap melalui
pengakuan salah satu dari kami setelah kekesalan kami menanggung risiko telah
basah kuyup tak mendapatka apa-apa.
Menyelamatkan Padi
Dalam beberapa tempo,
warga di kampung yang bekerja sebagai petani kalah cepat dengan datangnya
banjir. Mereka berpikir menunggu padi betul-betul tua lalu dipanen. Namun apa
daya, saat padi sudah menguning namun belum masa panen, banjir lebih dulu
menenggelamkannya. Curah hujan tinggi berhari-hari dan banjir terus pasang. Ada
persoalan ketakseimbangan ekologis barangkali. Namun kami yang anak-anak
menandainya dengan manancapkan sebatang lidi ke batas air di halaman-halaman
kami yang bertanah landai. Dari posisi lidi itu, terlihat pasang-surut banjir. Saat banjir anak-anak terkesan riang gembira. Sikap
berkebalikan tampak dari para orang tua karena berpikir soal nasib padi di
sawah dan tanaman di tegalan yang mati.
Tanaman padi yang sudah
tua masih bisa bertahan jika terandam banjir kurang dari empat hari. Namun jika
lebih lama dari itu, padi akan membusuk. Jika sudah mengira banjir tak surut,
tak ada pilihan selain memanen padi di tengah banjir. Saya, saat usia di
kisaran 13-14 tahun pernah beberapa kali membantu memanen padi dengan cara
membawa sampan (perahu kecil), atau gethek. Sampan itu kami beri
jangkar/tambatan di tengah sawah.
Bagaimana kami mengambil
padi di sawah yang teredam air sedalam dua meter? Dari atas sampan/gethek, kami
mencebur dan menyelam dengan membawa sabit. Di bagian yang airnya jernih, petani bisa melihat tanaman yang harus dipotong dengan cara menyelam. Saat menyelam
sambil memotong, mesti mengandalkan kompetensi mengatur napas dan mempertajam
indra peraba dari tangan. Kehati-hatian saat memotong tak bisa diabaikan karena
ada sabit yang tajam dan jari-jari. Di sini pula daya tahan diuji.
Sulit menjelaskan secara presisi mengapa berjam-jam melakukan hal
demikian, bahkan di saat hujan kami tetap sehat. Di atas kertas kami layak
meriang. Namun Tuhan dengan keluasan rahmat-Nya membawa kami dalam kondisi baik-baik saja. Tak terlalu buruk.
Bulir padi hasil panen yang
kondisinya sudah tidak karuan karena sudah terendam banjir selama tiga hari itu
kami keringkan di geladak bawah atap rumah sambil berharap tiupan angin di
antara sela-sela dinding rumah yang terbuat dari kayu/bambu. Sinar matahari
sangat langka karena langit sepanjang hari tertutup awan. Saat mengering, kami
menumbuk padi itu di lumpang (tempat tumbuk terbuat dari kayu). Itulah keberkahan sekaligus
kebahagiaan yang kami dapatkan. Dengan itu sebagian masyarakat mengurangi lapar
dan bertahan. Sesekali ada bantuan berupa mi instan. Warga memasak dengan
membikin kerangka kayu. Sisa bekas talang yang terbuat dari seng menjadi alas
untuk membakar kayu bakar yang sudah disimpan sebelum banjir datang sebagai
stok.
Ketika banjir benar-benar surut, kegiatan pemulihan dilakukan. Di antaranya membersihkan lantai dan dinding rumah dari lumpur, memeriksa setiap sudut ruang untuk memastikan tak ada hewan berbisa. Selama 1-2 bulan banjir merendam rumah, hanya sebagian ruang dari rumah yang ditempati/dijamah. Ini memungkinkan beberapa binatang masuk dan menepi di sudut-sudut ruangan. Untuk permukaan lantai rumah yang masih berupa tanah, perlu ditata dan diratakan kembali. Agar cepat kering dan bisa segera digunakan, biasanya ditaburi sekam padi. Saat tanah lantai masih gembur, tentu membutuhkan dua batang kayu/bambu sebagai titian untuk lalu lintas ke tiap ruangan rumah. Ini mengajarkan anak-anak di masa itu lihai meniti jembatan dari bambu. Selain terbiasa di dalam rumah, sungai-sungai kecil dan saluran irigasi di kampung di kala itu juga banyak menggunakan jembatan dengan dua atau bahkan satu batang bambu.
Pada beberapa tahun terakhir, kondisinya sudah tak seperti dua atau tiga dasawarsa lalu. Kalau pun banjir, kedalaman air di jalanan tak sampai dua meter. Seperti halnya di kampung-kampung lain, pembangunan dan peninggian jalan beberapa kali dilakukan. Kali Juwana juga setidaknya dua kali dinormalisasi dalam 20 tahun terakhir. kendati begitu banjir masih juga terjadi, merendam sebagian areal persawahan, permukiman, dan jalan. Pun kekeringan, tak seperti dulu. Sudah ada jaringan air bersih yang masuk sejak 2016.
Tak Menyalahkan Tuhan
Hujan deras
berhari-hari, juga banjir melatih kami bagaimana menjalani kehidupan. Kemampuan
menghadapi tantangan dan memosisikan rasa dengan tepat akan menguji mentah-matangnya
sikap. Sejak melewati kenyataan masa lalu yang demikian, juga sering beririsan
dengan sikap-sikap manusia yang paradoksal tentang hujan deras, penting untuk belajar
tentang hujan dan air kehidupan.
Manusia tertaklif untuk
mengelola bumi demi kemanfaatan sekaligus pembelajaran. Hujan membentangkan
pintu masuk dua kecerdasan sekaligus; kecerdasan nubuwah (profetik) dan kecerdasan sains. Dari
hujan, penting untuk melatih kecerdasan nubuwah sehingga memberi kesempatan dapat memperbaiki celah, bopeng maupun keretakan tauhid. Bukankah
sering kita menjumpai kata-kata dan sikap yang menyudutkan hujan sebagai
penyebab bencana alam. Bukankah di waktu lain dan bersamaan, kehadiran hujan amat
dinanti alam raya dengan segala isinya. Menempatkan posisi hujan sebagai biang
bencana bukan saja tidak arif, tetapi mengesankan ketertutupan mata batin akan hikmah
dari maksud sebuah penciptaan segala hal, termasuk hujan (air). Bukankah dengan
air hujan itu Tuhan menghidupkan negeri yang tandus, lalu hewan-hewan bisa
meminumnya, juga manusia yang tersebar di muka bumi. Orang-orang bijak dan
saleh di masa lampau mengajarkan kepada generasi berikutnya bagaimana mereka
dengan sukacita menyambut datangnya hujan. Itu bisa dipahami karena yang paling
halal dari segala yang halal adalah air hujan yang turun langsung dari langit.
Alam raya menghidangkan sekian banyak temuan bagaimana kehidupan menghampar. Bertahun-tahun ilmuan mencari potensi kehidupan di planet luar bumi. Air menjadi salah satu komponen paling terdepan dianalisis. Bersama udara, air adalah elan vital sebuah kehidupan. Di sini mendekati hujan dengan nalar sains juga tak kalah penting. Termasuk dalam menjaga taklif bahwa manusia mesti berikhtiar dalam mengelola sumber daya untuk kemanfaatan dan kemaslahatan. Terlalu panjang untuk mengulas pentingnya manusia menyadari dan menata kearifan ekologis. Musim kemarau dan hujan sama-sama memberi manfaat dan pembelajaran sekaligus.
Dengan menyeimbangkan kecerdasan nubuwah serta sains, hujan dan terik matahari akan terlihat sebagai pemberian dan keberkahan yang mesti dikelola dengan baik. Setidaknya di tengah kerumitan tata kelola air, bara ikhtiar untuk menata ekologi harus tetap hidup, sekaligus menghindari kecenderungan menyudutkan dan menyalahkan alam, terlebih Penciptanya. Pantaskah bertahan dengan kebiasaan bergumam seperti ini? >"Duh, malah hujan. Kacau..."// "Payaaah, malah hujan deras..."// "Gara-gara hujan, gagal deh semuanya...". (Jika masih sering bergumam seperti itu), lekas tanyakan ke diri sendiri: Memangnya saya itu siapa?


Posting Komentar