KORESPONDENSI.ID - Rasanya di setiap fase perjalanan hidup, selalu ada dinamika. Magnitudonya berbeda-beda. Sebagian dianggap biasa, sebagian lagi terasa begitu berkesan. Masa remaja tentu punya warna khas. Para ahli psikologi perkembangan kepribadian menyebut sebagai masa menemukan identitas diri. Bagi yang sekolah, ia mulai bersosialisasi dan beradaptasi dengan teman-teman baru dari beragam latar belakang. Bagi yang belajar di pesantren, ia punya kekhasannya sendiri, beradaptasi sekaligus menempa kemandirian.
Tak sedikit kehidupan berjalan serasa
datar-datar saja. Namun benturan-benturan rasa dan pikiran sebagai bagian dari
respons spontanitas terhadap dinamika lingkungan sesekali terjadi. Upaya-upaya
penyelesaian masalah diuji. Ada keputusan, juga hikmah atau kebijaksanaan
sebagai pembelajaran penting. Ini adalah momentum yang banyak dilewatkan untuk
dicatat. Sebagian orang merasa cukup mengenangnya, namun waktu biasanya
menggerus ingatan itu, bahkan hingga lenyap. Catatan lebih bisa merawatnya. Bagi
sebagian orang, catatan pengalaman penting itu menjadi sangat
berharga di waktu berikutnya. Setidaknya sebagai spion pembelajaran dari masa lalu untuk masa
depan.
Salah satu yang juga kerap dilupakan
untuk dicatat adalah tuturan, nasihat, maupun penjelasan dari orang yang dianggap
penting dan spesial. Orang penting itu bisa saja orang tua kandung sendiri,
guru panutan, atau orang-orang yang dianggap secara subjektif memiliki pengaruh
besar terhadap kehidupannya.
Bukankah para murid pernah diajarkan
oleh guru-gurunya tentang banyak hal yang amat bermanfaat seketika itu, maupun berguna
sepanjang masa hayatnya? Bukankah guru-guru di kelas itu tak hanya memberikan
penjelasan tentang mata pelajaran, namun juga nasihat-nasihat penting, baik
bersifat personal maupun untuk semua murid? Tidakkah santri melihat secara
langsung teladan dan kebijaksanaan pengasuhnya? Bukankah santri juga mendapati
begitu banyak kalimat-kalimat pengasuh yang amat mengena, mendalam dan berkesan?
Bukankah banyak bertebaran kalimat renyah dan humor dari guru yang sebetulnya
berupa motivasi dan kritik yang amat ramah? Seorang anak, saat terjatuh dari
kehidupan normal, kadang atau sering mendengar petuah-petuah penting dari orang
tua kandungnya sendiri.
Seketika saat mendengar, melihat,
atau merasakan hal-hal yang amat berkesan, tak banyak yang berpikir untuk
mencatatnya. Sebagian meresapi dan menjadikannya sebagai pegangan atau pedoman.
Tak sedikit yang mengenangnya dalam ingatan. Tak banyak yang secara sadar meresapi,
mengingat, menjadikannya sebagai petuah dan pedoman, sekaligus mencatatnya.
Setelah sekian belas dan puluh tahun,
apa yang diingat kuat dalam ruang belajar kala itu, banyak yang lenyap dari
ingatan di masa kini. Hal-hal berharga, berkesan, dan amat bermanfaat seperti
terkubur. Tak ada kalam-kalam berharga dari teladan kehidupan masa lalu yang
bisa diwariskan untuk masa kini dan mendatang. Ini tentu tidak bertentangan dengan
kalam bijak bahwa salah satu cara mengabadikan kebaikan adalah dengan
melupakannya. Mencatat nasihat dan teladan untuk pengingat diri dan kemanfaatan
keluarga atau orang lain, berbeda dengan mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah
dilakukan. Mencatat hal-hal berharga dari orang-orang bijak dimaksudkan sebagai
pengingat. Ia bisa menjadi alarm saat sang pencatat tertidur yang melebihi
batas.
Mencatat bisa dibiasakan. Ia
sebetulnya butuh perencanaan, meski hal-hal yang bermakna dalam kehidupan
terkadang datang tiba-tiba. Selagi masih bisa dipersiapkan, mencatat itu perlu
disiapkan. Momentum berkumpulnya anak dengan orang tua kandung, apalagi di
masa-masa spesial seperti Idulfitri, baik itu bersifat daring (saat pandemi dan
ada larangan mudik) maupun luring, kerap dibasahi dengan nasihat-nasihat. Bagi
yang memiliki tradisi ini, sesungguhnya setiap tahun sekali ada banyak kepingan
mutiara dari apa yang dituturkan orang tua. Seberapa jauh hal ini disadari? Masih
diingatkah nasihat orang tua di awal Ramadan/Idulfitri lima tahun lalu? Satu
tahun lalu? Sebulan lalu? Jika nasihat berharga itu benar ada, pernahkah itu
dicatat dan diabadikan sebagai pembelajaran yang sewaktu-waktu bisa dibuka
untuk kemanfaatan anak atau cucu di masa mendatang?
Saat orang tua sudah tidak ada, anak
akan merindukannya. Setelah sekian puluh tahun, ingatan menjadi kian luntur.
Apa yang diingat dari tuturan dan nasihat orang tua menjadi remang-remang, lalu
hilang. Akhirnya apa yang kita ingat dari orang tua kita sendiri menjadi amat sedikit.
Hal berharga itu akan makin hilang, tak bisa dinikmati anak dan cucu.
Hal yang sama juga bisa terjadi di
kalangan pelajar di sekolah, santri di pesantren, pekerja di tempat kerja, atau
pegawai di ruang pelayanan publik. Mereka memiliki banyak potensi pengetahuan
dan ruang pembelajaran hidup yang sebetulnya bisa dicatat, namun kerap
dilewatkan. Mungkin karena merasa seketika itu ia sudah sangat jelas bisa
memahami, mengingat, bahkan merasuk ke hati, sehingga tak merasa perlu mencatat.
Atau karena tak terbiasa dan tak terencana, menjadi tidak sempat mencatat.
Tak banyak yang berpikir, setelah tertindih
kegiatan lain, pemahaman dan ingatan itu berpotensi besar hilang. Dulu pernah
dikenalkan adagium ini: “lewat sedetik, sejuta ilmu hilang”. Ia pengingat yang
berharga. Tradisi mencatat hal yang bermanfaat sejajar dengan tradisi mendengarkan hal baik-baik. Keduanya langka dan dibutuhkan di tengah kuatnya kebiasaan-kebiasaan
buruk aktivitas di media sosial. Di tengah kegersangan hati, poster di media
sosial berisi sepotong kalimat petikan dari orang yang jadi panutan dan
dihormati bisa jadi sarana mengubah arah kehidupan yang tadinya ruwet dan offside
menjadi normal. Betapa berharga sepotong kalimat berharga yang tersisa dari ingatan
yang tercatat itu.


Posting Komentar