Kebiasaan Membaca Bisa Dibentuk

 KORESPONDENSI.ID – Saat ke Brasil pada 2014 selama hampir 40 hari, sebagian besar waktu saya habiskan di perjalanan. Saya memanfaatkan moda transportasi umum yang ada untuk menjangkau satu provinsi ke provinsi lain, satu daerah ke daerah lain. Pesawat, bus antarprovinsi, kereta, trem, busway, kereta bawah tanah, juga taksi. Dari situ saya dapat melihat bagaimana gaya hidup penduduk di negara Amerika Selatan tersebut.

Salah satunya adalah saya mendapati banyak orang yang membaca buku di tengah perjalanan di dalam transportasi umum tersebut, terutama yang paling banyak adalah di kereta bawah tanah. Mereka rata-rata berusia muda dan paruh baya. Di antara mereka juga memirsa telepon seluler, mendengarkan musik, atau diam/mengobrol saat di dalam transportasi umum tersebut. Saya pernah bertanya dan mengobrol dengan salah satu dari pembaca itu. Dia bilang, untuk perjalanan dengan waktu lebih dari tiga jam, ia membiasakan membawa bekal paling tidak dua buku. Saat itu perjalanan menggunakan bus umum dari Sao Paolo, tempat saya tinggal selama dua pekan, menuju Brasilia, ibukota Brasil yang berjarak lebih dari 1.000 km, atau hampir 13 jam perjalanan. Ia membawa dua buku, yaitu novel dan buku psikologi. Ia hampir menyelesaikan bacaan novelnya saat baru separo perjalanan.

Saya bercerita ke anak saya yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar tentang potongan cerita gaya hidup membaca itu. Saya katakan, setiap orang diberikan karunia untuk hidup dengan segala yang dimiliki. Dengan akalnya, orang dapat memilah mana yang baik dan tidak baik, mana yang tepat dan tidak tepat. Ia bisa memilih, baik dengan pertimbangan matang maupun tidak. Setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi. Siapa yang akan menanggung konsekuensi? Tentu saja yang menangung adalah setiap orang yang mengambil pilihan itu. Namun tak menutup kemungkinan orang lain pun bisa saja menanggungnya, bahkan lingkungan/alam sekitarnya.

Selain menceritakan kisah kebiasaan orang-orang membaca, juga menulis, saya juga membeli banyak buku pada saat tertentu. Sengaja saya memesan dan membeli rak buku, lalu memenuhinya dengan buku-buku. Pada jam-jam tertentu, saya membiasakan membaca buku-buku itu. Jika anak saya sedang ada di dekat, saya penggalkan sebagian dari isi buku itu dalam bahasa yang mudah dia cerna/senangi. Tiap pembelian buku yang melalui jasa pengiriman, saya membiarkan anak saya yang menerima dan membuka paket kiriman buku tersebut. Saya biarkan dia membukanya. Dia mesti mengetahui bahwa buku-buku tersebut saya beli untuk dibaca.

Setelah fase itu dia sesekali meminta mampir ke toko buku saat kami ada di luar kota. Saat dia masih sekolah dasar, di hari yang sela, kami menyempatkan naik angkutan umum, lalu setibanya di kawasan kota, kami berjalan kaki menyusuri trotoar. Kami ingin saat berjalan kaki dan tiba di sebuah toko buku memiliki kesan yang menyenangkan, ibarat menyusuri padang yang tandus, panas dan membuat lelah/harus, namun akhirnya menemukan oase yang didalamnya ada mata air yang segar, serta pepohonan yang meneduhkan dan banyak berbuah.    

Sekitar tujuh tahun dari masa-masa seperti itu, saya mendapatinya sebagai pembelajar yang mandiri. Kemandirian untuk mengelola diri sebagai pembelajar. Membaca sudah menjadi kebutuhan dan gaya hidupnya. Kami terpisah oleh jarak ratusan kilometer dan setahun hanya bertemu dua kali. Jika ada kesempatan bertemu dan ke luar kota, ia hanya butuh dua situasi: menemukan dan menikmati kuliner jalanan favoritnya, serta menemukan buku-buku yang ia butuhkan dan memborongnya. Saya mengantarnya ke Yogyakarta pada liburan pertengahan 2025. Ia menikmati kuliner jalanan, lalu ke toko buku yang ia incar. Pulang dengan membawa setumpuk buku serta beberapa nomor kontak pemilik toko-toko buku.

Ia bawa sebagian buku-buku itu ke tempat ia belajar di Jatim. Ia tak membawa bekal banyak. Buku-buku itu bekalnya, memenuhi tas gunung yang hampir setinggi tubuhnya. Ia menyelesaikan membaca paling tidak empat sampai lima buku selama sebulan.  Ia masih sangat aktif membaca jurnal untuk mendapatkan riset-riset terbaru, tentang hal-hal yang dibutuhkan untuk belajar. Efek dari gaya hidupnya itu, saya sering dijadikan samsak diskusi dari apa yang ia baca. Ia menyelinginya dengan berolahraga dan merawat kebun pesantren agar rilaksasi dan oksigen di otak tetap terjaga dengan baik. Membaca perlu terus dibiasakan, sejak dini dan untuk seterusnya. Titik terbaiknya adalah membaca sebagai kebutuhan dan gaya hidup. # #

 

 

 

Posting Komentar

My Instagram

Presented by Korespondensi ID