KORESPONDENSI.ID - Seorang teman di akun media sosialnya pagi itu
menulis status yang relatif pendek. Hanya lima kalimat. Satu kalimat di
antaranya panjangnya sebaris penuh. Sisanya setengah baris, bahkan kurang.
Menjadi lima baris karena dispasi ke bawah. Menurut saya itu informasi ringkas
namun padat isi. Di status itu ia menawarkan sebuah rumah yang siap untuk dikontrak
dan siap huni. Lokasi, akses, spesifikasi detil dan inti dari rumah sangat
jelas, termasuk nomor telepon yang bisa dihubungi dan harga kontrak tiap
tahunnya.
Setelah beberapa waktu, muncul banyak interaksi
like dan komentar di status teman itu. Di antara sekian komentar, perhatian
saya tersedot di salah satu komentar. Bagaimana tidak, isi salah satu komentar
itu menanyakan harga kontrakan tiap tahun/bulannya. Padahal di status media
sosial teman saya yang amat singkat itu sudah sangat jelas, termasuk informasi
harga.
Saya tidak kaget. Hanya melewati kenyataan itu
dengan membatin, Tidak mbateg (Jawa). Batin saya, bagaimana caranya membaca sebuah
status sampai pada keputusan untuk membuat komentar? Boleh jadi ia hanya iseng
berkomentar? Bisa saja karena begitu ringkas dan padatnya detil info di status
itu, hingga soal harga terlupakan kalau sudah dibaca. Tapi bukannya makin
ringkas dan padat sebuah informasi, makin mudah dipahami dan diingat? Atau
mungkin membacanya dengan buru-buru sehingga belum tuntas. Tapi kalau belum
tuntas membaca, mengapa memutuskan langsung berkomentar? Bagaimana dengan konten
status level “tepi jurang” yang berisiko. Apakah dalam posisi belum tuntas dalam
membaca/memahami langsung memutuskan berkomentar?
Membatin terkadang bisa kemana-mana. Saya mencoba
membatasinya dengan mengambil posisi: ini kenyataan, bahwa orang itu
bermacam-macam, termasuk pembawaan di media sosial.
Kenyataan itu posisinya menguatkan kisah
seorang pegiat literasi beberapa bulan sebelumnya yang dalam akun YouTube-nya
bercerita hal yang mirip. Ia penulis buku, lalu menjual dengan menawarkannya di
salah satu akun media sosialnya. Sama, ia menjelaskan detil spesifikasi; judul,
jumlah halaman, ukuran dan ketebalan buku, harga, juga nomor kontak telepon
untuk pemesanan. Sebagai pegiat literasi, ia heran mengapa seketika itu juga
ada yang berkomentar menanyakan nomor telepon untuk pemesanan. Padahal dalam
informasi singkat yang diunggah, jelas-jelas tertulis nomor telepon dimaksud.
Dua kenyataan yang saya jumpai di atas
sebetulnya menyangkut literasi hal yang sangat dasar, yakni membaca. Bahkan membaca
informasi yang sangat singkat, hanya satu alenia pendek. Responsnya benar-benar
mereduksi keutuhan informasi. Bagaimana dengan membaca satu artikel utuh di
media massa yang rata-rata panjangnya sekitar 7.000 karakter. Bagaimana dengan
membaca satu berita dari media daring/cetak, bagaimana membaca jurnal
penelitian, atau mungkin buku. Satu, dua, tiga, sembilan, 21 jurnal/buku? Itu baru membaca tulisan. Bagaimana membaca kenyataan; membaca konflik, kebencanaan, kegembiraan, kepiluan, atau bahkan kesalahpahaman.
Di kanal ini, dalam tulisan http://www.korespondensi.id/2020/10/jalan-sunyi-yang-seksi.html?m=1 secara khusus saya menggarisbawahi kecenderungan generasi digital betah membaca pesan-pesan instan, pendek, dan menarik. Sebaliknya, enggan atau tidak betah dengan membaca narasi panjang dan mendalam. Generasi yang saban menit memburu video-video pendek, flayer, dan pesan instan di platform media sosial.
Membaca adalah satu kompetensi, dan memahami
bacaan ada ruangnya sendiri. Dua-duanya butuh kompetensi, dan bisa
dilatih/dibiasakan. Selain dua kompetensi ini, di era riuh konten/informasi, masih
dibutuhkan kecakapan lain, yakni seberapa kritis dalam menyerap informasi. Ini
soal bagaimana cara berpikir, disiplin memilah, memfilter, membandingkan,
menelaah, menganalisis, jernih dalam memahami, dan bersikap tenang. Jika sampai
di titik ini belum tuntas, seyogyanya tidak merespons sampai benar-benar memahami isi, maksud, bahkan konteks sebuah informasi. Di alam raya
media sosial, respons bisa menunjukkan siapa kita.


Posting Komentar