KORESPONDENSI.ID - Saat membikin Korespondensi.id pada akhir Juni 2020, sahabat yang sering mengobrol secara virtual dengan saya mengingatkan agar jika mengisi konten, narasinya tidak panjang. Saya membenarkan sarannya. Semata-mata mempertimbangkan pengaruh media sosial dengan atraktivitas dan keinstanannya yang mampu menyita perhatian banyak orang, ketimbang menekuni membaca buku atau narasi panjang di website.
Dua hari kemudian, saya menulis http://www.korespondensi.id/2020/06/tips-tenang-hadapi-membludaknya.html?m=1. Tulisan ini hanya pengamatan
serampangan saya sejak awal munculnya Covid-19 di banyak media massa dan media
sosial, hingga saya ulik di laman Kominfo yang menemukan banyak hoaks dan misinformasi tentang covid. Banyak yang bertanya, semacam verifikasi kebenaran informasi A, B,
dan C yang dirasa sumir, mengganjal, bias, bahkan yang nyata-nyata sulit
diterima akal. Saya tak menyebarkan tulisan ini di platform media sosial, kecuali hanya mengunggahnya di website dan satu dua
teman yang membutuhkan. Ada hampir 150 kali yang melihat tulisan ini.
Di pekan-pekan berikutnya saya kukuh dengan
menyajikan narasi agak panjang. Bahkan jauh lebih panjang lagi dalam tulisan
kelima, http://www.korespondensi.id/2020/08/nyilih-uyah-sejumput-demi-kehidupan-baru.html?m=1. Tulisan naratif tentang kemerontaan
sekaligus kebahagiaan batin orang tua yang memondokkan anak di pesantren ini dilihat
461 kali. Lebih banyak pembacanya karena saya unggah dengan agar berat hati di
akun Facebook pribadi saya. Berikutnya saya menyajikan tulisan lebih panjang lagi dalam http://www.korespondensi.id/2020/09/mengikat-pengetahuan-dengan-tulisan.html?m=1
Pilihan untuk bernarasi agak panjang mempertimbangkan niat saya membikin website pribadi hanya untuk mendokumentasikan tulisan secara digital. Jika orang lain hendak membaca, atau memberikan tanggapan, jelas boleh saja. Setidaknya sejak awal 2005, banyak yang berinteraksi dengan saya tentang banyak hal. Sebagian besar tentang literasi informasi dan komunikasi. Beberapa saya respons dengan buku, jurnal, atau tulisan karya siapapun yang saya anggap sesuai dengan kebutuhan. Namun sebagian saya jawab dengan tulisan-tulisan saya. Masih ada ratusan tulisan, namun tidak saya publikasikan.
Membikin rumah digital dalam bentuk tulisan ini sesungguhnya saya peruntukkan kelak bagi anak, cucu, buyut, cicit, canggah, dan seterusnya yang segaris keturunan dengan saya. Tulisan yang terdokumentasi adalah cara saya merawat momentum, sekaligus menjaga harapan masih bisa bersurat dan bicara dengan cucu-cucu kelak. Tentu saja tulisan tak bisa menggambarkan secara utuh, tapi dengan membaca tulisan kakeknya, cucu bisa berdialog dengan tafsir subjektifnya mengenai kakeknya. Bukankah tulisan, sedikit banyak menunjukkan siapa dan seperti apa penulisnya. Tak hanya tulisan, untuk anak cucu, mulai sekarang saya telah membelikan beberapa kitab dan buku, tentu yang isinya tak aus oleh masa. Hanya sebagai pilihan jika suatu saat dibutuhkan.
Kisah Tertimbun Masa
Dalam beberapa tahun terakhir, pada momentum
sowan/silaturahmi ke sesepuh yang segaris keturunan, saya mencoba keras
mengetahui potongan-potongan kisah kakek, orang tuanya kakek, dan kakeknya
kakek dan terus ke atas. Bahkan sekadar menelisik ejaan namanya yang sahih. Ini
kewajaran bagi saya yang punya kekangenan (lebih tepatnya yakin adanya mata
rantai ruhani) masa silam dengan masa kini, terutama dengan leluhur. Alam bawah
sadar selalu mengingatkan betapa ingin bertemu, sowan, dan berterima kasih
dengan leluhur yang sudah ke alam lain ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Keterbatasan
(untuk tidak menyebut kebuntuan) data kisah leluhur ini hanya bisa saya respons
dengan aliran doa-doa. Sang Khalik menakdirkan bahwa melalui perantara para
leluhur itu kita terlahir. Orang punya banyak cara untuk menenangkan diri,
dengan satu atau beberapa cara. Bagi saya, melintaskan nama-nama orang tua,
kakek, bapaknya kakek, kakeknya kakek, seringkali cukup untuk menormalkan
aliran darah. Alangkah nikmatnya jika ada potongan kisah masa lalu para leluhur yang sewaktu-waktu kita baca dan cerna.
Tentang hal ini, saya pernah beberapa kali
menanyai teman. Teman akrab tentunya. Ringan dan acak pertanyaannya. Misalnya “dalam
benakmu, bapak/ibumu, kakekmu, kakeknya kakek seperti apa…’’, Atau, ‘’hal
berharga apa yang kamu ingat dari kakekmu…’’ Saya mendapati jawaban-jawaban yang
tak terduga. Misalnya teman tadi merasa tidak bisa menceritakan sosok bapak/ibunya
dengan baik dan runtut. ‘’Aku nek cerita ra isa. Bapakku ya ngono kae lah
mbendina…,’’ jawab teman saya. Di sini saya melihat ada ‘mutu interaksi’ anak dengan
orang tuanya yang tidak disadari dan tak tertanam dengan baik dalam benak. Saya
sebut mutu interaksi karena dalam kenangan, pantasnya teladanlah yang laik dihadirkan.
Teladan dari leluhur biasanya terekam dari pencatatan sekaligus pemaknaan atas
interaksi yang bermutu itu. Bagi saya, pandangan-pandangan hidup sesepuh yang
terpilih secara subjektif itu perlu dicatat dan dikisahkan untuk tujuan baik agar tak tertimbun masa.
Jika seorang anak tak bisa menyifati orang
tuanya sendiri seperti apa, ditambah ia tak bisa bercerita (dalam bentuk
tulisan misalnya) dengan baik ke anaknya, maka akan menambah gelap bagi anak
dan cucunya yang boleh jadi nanti merindukan dan ingin tahu teladan-teladan dari
leluhurnya. Bukankah kita punya sederet
teladan leluhur-leluhur yang luhur pekerti, budi, dan perjuangannya melalui sebuah
narasi-narasi. Dari kitab atau buku yang pernah ditulis, misalnya. Atau dari
catatan-catatan murid dan temannya. Ada juga yang berupa barang peninggalan,
namun ini tetap sulit jika tanpa penuturan kisah dari orang-orang terpercaya. Andai kisah itu dari mulut ke mulut, akan lebih rawan pudar dan menyebabkan rusaknya otentisitas
isi kisah.
Saya tak punya apa-apa, kecuali tulisan-tulisan
sederhana yang bisa saya hadirkan sebagai pilihan investasi untuk anak. Di era digital,
rasanya kita dimanjakan fasilitas menulis sekaligus teknis pendokumentasiannya.
Kita tak berpikir soal biaya pembelian kertas karena sepanjang apapun
narasinya, bisa kita lakukan. Itu mengapa tulisan pribadi yang saya peruntukkan
bagi anak cucu bisa saya narasikan bebas. Jika memang pesannya lebih mengena
saat disajikan utuh dan panjang, mengapa memaksa diperpendek yang berpotensi
kering. Namun jika tulisan pendek bisa dianggap cukup, seyogyanya tak perlu
diperpanjang.
Tak khawatir tulisannya tak dibaca
oleh banyak orang karena narasinya terlalu panjang ? Bukankah sekarang orang enggan
membaca narasi panjang dan memilih konten-konten atraktif-sensasional yang
pendek dan singkat?
Saya tidak menutup mata era digital menandai
zaman dengan bergesernya pola konsumsi informasi yang cenderung lebih menyukai
informasi-informasi instan, atraktif, dan pendek. Teknologi dengan sifatnya
yang cepat dan mudah membuat orang atau lembaga kini banyak menyajikan
informasi dan pesan-pesan literasi dalam bentuk animasi, video pendek, infografis,
dan –ini yang paling membanjir—flayer.
Dalam situasi-situasi tertentu, tanda zaman
seperti itu mesti direspons dengan pilihan-pilihan. Ada kebutuhan-kebutuhan
yang perlu dijawab dengan pesan instan berantai, atraktif, video, juga
infografis. Tetapi sinis dengan narasi panjang, menepikan buku-buku induk, menanggalkan
karya-karya klasik yang runtut, detil dan berjilid-jilid bukan pilihan bijak
sekaligus berisiko tinggi terhadap mutu literasi generasi kita.
Pada sebuah diskusi dengan 50-an pelajar pada 20
Oktober 2020, ada yang berkisah betapa rumit berpegang pada pesan-pesan di
media sosial. Pada titik-titik tertentu sulit mendeteksi kebenaran. Satu persoalan
yang rumit dan mengendap bertahun-tahun, dijelaskan dan dijawab dengan selembar
flayer berisi infografis dan bumbu gambar animasi agar menarik. Sejurus
kemudian muncul flayer tandingan yang kontennya berseberangan. Adu data melalui
flayer memenuhi beranda media sosial. Persoalan itu ada jejak rekamnya. Mempercayai
begitu saja konten instan flayer tanpa membaca akar persoalan yang bisa saja
telah tercatat dalam buku, riset dan laporan-laporan, akan rawan menyuburkan
kebiasan-kebiasan baru.
Sandaran Pengetahuan
Apakah generasi ke depan akan terus dibiasakan
dengan hanya mengonsumsi bacaan media sosial dengan pesan-pesan instannya?
Bukankah mereka perlu mempelajari bahasa kehidupan melalui narasi-narasi panjang
baik dari kitab-kitab klasik, buku cetak maupun digital, naskah, jurnal-jurnal
yang amat akademis dan berbasis riset, dan media massa terpercaya?
Tak mudah memang membiasakan membaca buku
ratusan dan ribuan halaman secara rutin, dibanding asyiknya bermedia sosial
melalui gawai. Di tengah kemruyuknya konten digital, narasi panjang yang diolah
dalam bahasa tulis seperti dinomorsekiankan. Madzhab ‘’aktualitas’’ mendewakan kecepatan
dengan orientasi sensasi, kejutan, dan kemenarikan. Ia mengasyikkan tetapi
sulit untuk mengangkat mutu literasi generasi kita.
Perlu ikhtiar lebih untuk membiasakan membaca
narasi-narasi panjang, apalagi sampai bisa istikamah. Kita ada di masa betapa mudah
mendapatkan informasi beragam dan menyajikan aneka ekspresi cukup melalui jari-jari
dan tombol-tombol. Di tengah situasi itu para pembaca kitab, buku-buku tebal, jurnal-jurnal
termutakhir, dan media massa terpercaya bagaikan pengambil jalan sunyi. Tetapi
sesunyi apapun, generasi kita mesti menempuhnya. Jika membaca telah menjadi
kultur, maka generasi akan punya basis pengetahuan yang memadai. Dengan membaca
narasi panjang, memungkinkan belajar memahami dan menyelami bahasa, menemukan pemaknaan
yang tepat, serta melatih kesabaran dan ketekunan. Ini akan bermakna untuk
menjawab dinamika kehidupan yang padat data. Sandaran pengetahuan yang cukup
bisa mencegah generasi digital dari percakapan-percakapan yang tak sehat di
media sosial. Sebaliknya, menjadi penerang dalam belantara data yang padat dan
bias.
Itu mengapa saya tak ada beban menulis panjang
dan tak lelah mengobrol dengan anak-anak digital agar tidak menanggalkan
buku-buku bacaan, sekalipun itu buku elektronik. Ada potensi membaca maupun
menulis narasi panjang ditinggalkan dan tak diminati generasi digital penyuka
informasi instan. Tetapi ini pilihan. Saya pernah belajar ilmu marketing, secara
teori maupun praktik lapangan selama beberapa tahun. Jangkar perusahaan jangan
semuanya terjun ke red ocean, laut yang airnya sudah keruh memerah disebabkan darah
biota laut akibat persaingan dan kanibalisme. Ia memang ruang seru dengan
banyak pemain, namun agak dangkal. Berhasil pun ia akan berjangka pendek. Harus
ada jangkar yang masuk ke blue ocean, lautan dalam dengan air membiru dan
tenang. Ia sunyi dan senyap. Butuh ikhtiar lebih ke ruang ini. Kedalamannya menyimpan lebih banyak sumber bekal kehidupan. Ia jalan sunyi, namun menyejukkan.


mantab bang madun, sangat menginspirasi, salam takdhim dari peserta jurnalistik yang diselenggarakan di Jepara kemarin
BalasHapusTerima kasih. Salam...
Hapus