KORESPONDENSI.ID larut dalam sepotong diskusi pendek dengan seorang alumni pondok pesantren yang ingin sekali menulis, tapi belum melakukannya. Ia merasa belum bisa, namun belum mencoba. Menulis apa saja; bisa opini, artikel, kolom, novel, maupun buku. Sebisanya, asal bisa menulis dan pantas dinikmati pembaca. Ruang digital yang sekarang tersedia dengan mudah, memantiknya untuk melahirkan karya, sesederhana apapun karya tulisnya. “Ya sekadar ruang berbagi pengetahuan. Barangkali bermanfaat”. Demikian motivasi sederhananya. Korespondensinya kami apresiasi.
Saya memiliki sahabat-sahabat alumni pondok pesantren
dengan sekian banyak ragam kiprah di masyarakat. Di luar kiprah keseharian itu,
ia rajin menulis. Tulisan-tulisannya bernas. Sebagian karya-karya itu dibukukan.
Tak sedikit di antara mereka mendokumentasikan dan mendistribusikannya secara
digital.
Dan di luar itu ada banyak sahabat dari kalangan yang
sama namun belum juga muncul karya-karya tulisnya. Ada yang sudah berniat,
namun “awang-awangen”. Ada juga yang sudah mencoba, namun merasa belum percaya
diri mempublikasikannya. Dan ada yang belum mencoba sama sekali. Tapi dari yang
belum menulis, tak ada yang menolak untuk bisa menulis.
Ulasan dalam unggahan ini bisa dinikmati siapa saja,
khususnya santri atau alumni pesantren yang berkeinginan kuat bisa menulis
namun merasa belum menemukan jalannya.
Dalam seri sebelum ini, saya mengunggah ulasan
prasyarat menulis memulai http://www.korespondensi.id/2020/08/ini-prasyarat-untuk-memulai-menulis.html. Sedikit banyak ulasan yang terbaru ini bertalian
dengan unggahan sebelumnya. Bedanya, ulasan terbaru ini lebih spesifik pada
beberapa tradisi di pesantren yang menurut saya sangat mendukung bisa
mengantarkan santri maupun alumninya menjadi penulis. Ini sekaligus merespons
korespondensi singkat alumni pesantren yang berniat menulis namun masih
“awang-awangen” tadi. Berikut beberapa poin usalannya.
Pertama, saat awal santri masuk ke pesantren, ia harus beradaptasi. Setiap
santri memiliki pengalaman ini. Bisa merasa berat, sedang, atau ringan.
Tergantung latar belakang lingkungan sebelumnya, juga cara dia menyesuaiakan
diri di lingkungan barunya (pesantren). Saya menyejajarkan proses ini dengan
bagaimana wartawan pemula saat awal bertugas di medan liputan. Ini pengalaman
saya, sekaligus testimoni sahabat saya, seorang jurnalis media nasional yang
kebetulan memiliki bahasa yang sama soal penugasan awal oleh pimpinan. “Anda
bekerja sekaligus beradaptasi. Ketika masuk ke satu daerah, pegang daerah itu. Orang-orang
kunci, data apa saja, jangan sampai lepas. Jika kelewatan, cari, dan temukan. Jalin
relasi sebaik-baiknya”.
Mentalitas adaptatif juga ada di santri yang memulai
menginjakkan kali pertama di lingkungan pesantren. Ia sudah masuk ke ruang
kajian-kajian dan hafalan-hafalan, sekaligus beradaptasi dengan lingkungan. Ia
belajar berinteraksi dengan sasama santri baru, juga santri yang sudah lama
menetap. Bagi anak-anak, ini bukan pekerjaan ringan. Dalam sunyi, tangis bisa
pecah di sini. Apalagi bercampur dengan materi-materi pembelajaran dan hafalan
yang belum pernah dicercap sebelumnya. Ia harus menyelesaikan persoalannya.
Proses adaptasi ini memberi andil dalam kelancaran
proses berikutnya. Sama seperti wartawan pemula, adaptasi awal dan cara ia
merawat proses itu akan membentuk karakternya. Bukankah kita pernah mendengar
kisah ada santri yang tak kerasan lalu boyong setelah beberapa pekan saja masuk
pesantren. Dan kita juga mendapati wartawan pemula yang memilih mengundurkan
diri di pekan atau bulan pertama penugasannya. Mereka yang kemampuan
adaptasinya baik, akan berlanjut ke proses-proses berikutnya.
Poinnya, santri dengan tradisi pesantren yang
demikian, sudah memiliki modal besar seorang penulis, yakni mental adaptatif.
Menulis membutuhkan proses mental yang luwes, baik saat menyerap
informasi/data, mengklasifikasinya, sampai menuangkannya dalam ide-ide tulisan.
Sikap-sikapnya dalam mempertahankan nilai lama yang terawat dan kebaruan akan diuji.
Mentalitas adaptasi yang kuat akan banyak membantu. Pada bagian ini, santri
sebetulnya telah melahapnya sejak awal masuk pesantren.
Kedua, di pesantren kita mengenal tradisi akademik yang sangat kuat. Sebut
saja sorogan, bandongan, muthala’ah, maupun halaqah atau musyawarah. Metode
sorogan dilakukan dengan cara santri membaca kitab tertentu secara individu di hadapan
ustadz/kiai/guru. Ada interaksi intensif antara santri dan kiai soal akurasi
bahasa, makna, maupun bacaan. Dari sini, santri sudah akrab dengan
tradisi dikoreksi. Santri, dengan tradisi akademik yang demikian menjadi
terbiasa mengekspresikan kompetensinya, termasuk untuk diuji.
Metode bandongan dilakukan dengan cara santri-santri hadir dan mendengarkan guru, ustadz, atau kiai yang membaca kitab, menerjemah atau memaknai, menjelaskan, serta memperkayanya dengan referensi-referensi (ma’khad) yang kira-kira diperlukan. Metode ini memungkinkan santri mendapatkan makna tiap kata dari kitab yang dibaca, sekaligus mendapatkan penjelasan dan pemahaman-pemahaman baru. Penulis memerlukan tradisi akademik seperti ini. Sikap terbuka dengan pejelasan dan pemahaman baru. Ini input paling berharga dalam kultur kepenulisan.
Tradisi akademik lainnya adalah muthala’ah. Ini
tradisi membaca yang dilakukan santri secara mandiri, di luar forum sorogan
atau bandongan. Ia membaca kembali materi yang dibacakan ustadz atau kiainya.
Kitab-kitab yang dibaca menyesuaikan ‘kurikulum’ pesantren setempat, dan ia
bisa memperkayanya dengan bacaan-bacaan lain. Kitab yang dibaca bisa al kutub
al-qadimah (kitab-kitab klasik) maupun al kutub al-‘ashriyah (kitab-kitab
modern). Santri menguji dirinya sendiri tentang redaksi, makna, juga pemahaman
dalam konteks-konteks tertentu. Tradisi muthala’ah biasanya dilakukan dengan
suara agak keras. Ini memungkinkan santri lain bisa mendengarkan, bahkan
mengoreksi, lalu sesekali ada ruang diskusi. Muthala’ah ini memungkinkan santri
terbiasa dengan upaya-upaya untuk menajamkan dan memperdalam data secara
mandiri. Lewat metode ini, santri akan terbiasa menghadapi teks dan pesan-pesan
di balik teks. Sebuah tradisi yang amat dibutuhkan seorang calon penulis. Di
luar kepenulisan, muthala’ah dengan gaya dan frekuensi suara tertentu, secara
alamiah juga mendukung kompetensi public speaking (khitabah).
Tradisi akademik di pesantren yang juga amat mendukung
karakter menjadi penulis adalah halaqah atau musyawarah. Ini ruang yang amat
dinamis. Saya menyebut di unggahan sebelumnya sebagai kultur diskusi. Dalam
tradisi musyawarah, santri, tentu dalam pantauan kiai atau ustadz, atau tim
pemandu (biasanya dari santri yang dianggap senior dan berkompeten), berdiskusi
untuk memahami isi kitab tertentu, fikih atau nahwu (gramatika Bahasa Arab)
misalnya. Tujuannya memahami maksud dari tema dari kitab yang sudah dipelajari,
terlebih dengan sandingan persoalan-persoalan mutakhir. Di sini santri belajar
bagaimana berargumentasi dengan referensi-referensi yang bisa dipertanggung
jawabkan. Logika benar-benar terasah di sini. Ada pertanyaan, sanggahan,
kritik, dan jawaban.
Kilas Sejarah
Tradisi halaqah ini sebetulnya sudah ada sejak zaman
nabi bersama sahabatnya, para sahabat dengan para tabiin. Lalu tumbuh subur pula
pada masa-masa sesudahnya. Tradisi literasi dalam intelektual Islam sejarahnya panjang.
Ada tahap penerjemahan karya-karya era Yunani Kuno ke dalam Bahasa Arab. Ada
juga dialektika para teolog muslim terhadap pemikiran-pemikiran Yunani kuno
(Aristoteles dan Plato), sampai kepada kebangkitan kaum Sunni dengan ditandai
munculnya empat madzhab; yakni Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali. Para
pendiri madzhab ini memiliki tradisi halaqah yang kuat melalui
madrasah-madrasahnya.
Imam Abu Hanifah yang memiliki nama an Nu’man bin
Tsabit Al Kufi (80-150 H/699-767 M), pendiri madzhab Hanafi misalnya, memiliki
halaqah yang terkenal di masanya di Kufah, Irak. Dalam halaqahnya, selain Alquran
dan Hadits dan dinamika sosial masa itu, ilmu diskusi secara beradab pun
diajarkan. Halaqah Imam Abu Hanifah masyhur dengan tradisi ilmiahnya yang
kuat. Ia pernah mengatakan, “Tidak dibenarkan bagi siapa pun yang berfatwa dari
buku-buku saya untuk memberikan fatwa kecuali sesudah mengetahui landasan atau
alasan pendapat saya”. Di masanya, kultur menulis tak semassif di masa-masa
sesudahnya. Namun Syeikh Mas’ud bin Syaibah dalam Kitab Muqaddimah at-Ta’lim
halaman 181 meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah menyusun kitab al-Fiqh
al-Akbar, Al-Fiqh al-Ausath, dan kitab al-Alimwa al-Muta’allim. Dalam buku
Isyarat al-Marami min Ibarat al-Imam, Syeikh Kamaluddin Ahmad bin Sinanuddin
al-Bayadhi menuliskan,” Imam Abu Hanifah adalah orang pertama yang menulis
ilmu-ilmu agama, menyusunnya secara sistematis disertai dalil-dalil yang kuat
dan meyakinkan pada sekitar tahun 100 H”. Imam Abu Hanifah pula yang disebut
kali pertama mendiktekan dan menyusun ilmu fikih dan ushul fiqh.
Imam Malik bin Anas bin Malik al-Madani (93-179
H/712-798 M), pendiri madzab Maliki adalah orang yang masa kecilnya sudah masuk
dalam tradisi halaqah yang diasuh Rabi’ah ar-Ra’y di Masjid Nabawi, Madinah.
Juga melalui gurunya Ibnu Syihab az-Zuhri. Kita tahu Imam Malik melahirkan Al
Muwattha’, kitab yang berisi lebih kurang 1.180 hadits yang fenomenal itu. Ia
juga menulis Risalah fi al-Aqdhiyah, sebuah risalah setebal 10 jilid yang
ditulis Imam Malik untuk para qadhi. Di luar itu masih ada beberapa karya Imam
Malik. Salah satunya Risalah fi al-Adab wa al-Mawa’idh yang ia tulis untuk
Khalifah Harun ar-Rasyid dan dipublikasikan kali pertama oleh Ibnu Habib di
Andalusia.
Muhammad bin Idris bin Abbas bin Ustman bin Syafi atau
yang dikenal dengan Imam Syafi’i (150-204 H/767-820 M), pendiri madzhab Syafi’i
kali pertama menimba ilmu di sebuah madrasah (kuttab) dan masuk dalam tradisi
halaqah di Masjidil Haram, Mekkah. ke halaqah di Masjid Nabawi di Madinah yang
diasuh Imam Malik. Syafi’i kecil, saat masih usia tujuh tahun sudah hafal
Alquran dan di usia sembilan tahun hafal seluruh isi kitab al-Muwattha’ karya Imam
Malik. Tradisi akademik dan literasinya sangat kuat. Yaquth bin Abdillah ar-Rumi
dalam kitab al-Mu’jam al Udaba’ halaman 369 menukil apa yang ditulis Imam Syafi’i
tentang semangatnya dalam menulis.
“Pada tiap kali ada kesempatan keluar dari tempatku
belajar, lalu aku memungut dedaunan, sobekan kecil kulit binatang, atau pelepah
pohon kurma yang terjatuh di pelataran, atau tulang pundak dari unta. Merekalah
‘buku’ dimana aku menulis sejumlah Hadits. Aku juga melangkahkan kaki menuju
kantor-kantor pemerintahan untuk menyortir kertas-kertas terbuang yang masih
berguna, sehingga aku bisa menulis pelajaran di atasnya”
Saat remaja, ia juga mengembara ke Bani Hudzail, salah
satu kabilah yang masyhur dengan ilmu sastra Arab dan kehebatan syair-syair dari
para pujangganya yang terangkum dalam Diwan Hudzaliyyin, berisi bunga rampai
syair terhebat di masanya. Hingga pada masa kemudian hari, Imam Syafi’i setelah
belajar bahasa dan sastra Arab itu, ia menulis syair-syairnya ke dalam Diwan
asy-Syafi’i. Muhammad Afandi Musthafa menjuduli syair-syair Syafi’i itu dengan
al-Jauhar an-Nafis. Sampai di sini, jelas reputasi Syafi’i remaja sebagai
sastrawan, sebelum ia mendalami ilmu-ilmu yang kelak menjadi sumber madzhabnya.
Setelah fase itu, Imam Syafi’i masuk ke halaqah di sekitar
Ka’bah yang diasuh Muslim bin Khalid az-Zinji, seorang mufti Mekkah terkemuka
di masa itu, juga ke Sufyan bin ‘Uyainah, seorang pakar Hadits. Ia
lantas ke halaqah Imam Malik di Masjid Nawabi yang diasuh Imam Malik. Ia juga ke Yaman, Palestina, Irak, Syam, hingga Mesir. Di tempat ia berada
itu, Imam Syafi'i mendirikan halaqah. Di Irak, Imam Syafi’i melahirkan karya besar Kitab
ar-Risalah yang bersisi qaul qadim-nya, dan di Mesir ia menulis qaul jadid yang masih ada hingga sekarang. Karakter sebagai penulis yang muncul sejak kecil
terus terawat.
Di masa kemudian ia juga menulis banyak kitab. Abu
Muhammad Husain menyebut Imam Syafi’i menulis 113 kitab, Ibnu Zaulaq menyebut
200-an kitab, dan Yaquth al-Hamawi ar-Rumi menyatakan 147 kitab. Penjelasan perbedaan
jumlah karya Imam Syafi’i ini bisa dibaca dalam kitab al-Majmu’, Syarh
al-Muhadzdzab li as-Syairazi karya Imam an-Nawawi. Selain ar-Risalah, karya
fenomenal Imam Syafi’i adalah kitab al-Umm, kitab induk dari sekian risalah
yang ditulis Imam Syafi’i. Tradisi halaqah itu juga ada di masa Imam Ahmad bin
Hanbal (164-261 H/780-855 M), pendiri Madzhab Hanbali yang juga murid Imam
Syafi’i. Bahkan halaqah Imam Ahmad diikuti oleh ribuan murid. Dari
halaqah-halaqah itulah akhirnya terbukukan Musnad Imam Ahmad.
Pada beberapa abad berikutnya, tradisi menulis ini
makin kuat. Seperti pada masa Imam Bukhari (lahir di Bukhara, Uzbekistan,
194-256 H) yang melahirkan Kitab Shahib Bukhari, Imam Muslim (lahir di Naisabur,
Iran, 204-261 H) dengan Kitab Shahih Muslim-nya, sampai kepada Imam Abu Dawud,
Imam at-Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, dan Imam an-Nasa’i. Al-Mawardi misalnya
dengan karyanya, al-Ahkam as-Sulthaniyah, Abu Ishaq asy-Syairazi (wafat tahun
476 H) menulis al-Muhadzdzab dan at-Tanbih. Abu Hamid al-Ghazali (wafat tahun
505 H) melahirkan banyak karya, salah satu yang terkemuka Ihya Ulumiddin. Imam
Ghazali menulis tak kurang dari 51 kitab. Ratusan tahun setelahnya ada asy-Syihab
ar-Ramli (wafat 957 H) yang menulis Fath al-Jawwad. Imam Jalaluddin as-Suyuthi,
penulis Tafsir Jalalain yang terkenal menjadi bahan kajian di pesantren-pesantren
di Indonesia dan negara-negara lain itu menulis 600-an kitab. Pada masa
berikutnya, Syeikh Zaini Dahlan (wafat 1304 H) menulis Tanbih al-Ghafilin, Syeikh
Bakr Syatha (wafat 1310 H) menulis I’anat ath-Thalibin. Dua kitab terakhir amat
terkenal di pesantren-pesantren di Indonesia.
Tradisi menulis itu terus hidup, bahkan sampai ke
ulama-ulama Indonesia. Sebut saja ar-Raniri (wafat 1068 H) dengan kitab Shirat
al-Mustaqim-nya. Syeikh Muhammad Nawawi Al Bantani yang asal Banten (wafat
1315 H) dan pernah menjadi imam di Masjidil Haram ini menulis tak kurang dari 115
kitab dan sebagian karyanya sampai sekarang masih diajarkan di
pesantren-pesantren di Indonesia. Murid-muridnya adalah para ulama besar di
nusantara yang sampai sekarang tradisi kepesantrenannya masih terjaga. Pada masa-masa berikutnya ada Syeikh Muhammad Ihsan bin Muhammad Dahlan (1901-1953 M), Pendiri Pondok Pesantren Jampes di Dusun Jampes Desa Putih Kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri. Ia menulis karyanya yang terkenal di kalangan ulama, yakni kitab Siraj ath-Thalibin, yang merupakan penjelasan (syarh) dari kitab Minhaj al-Abidin karya Imam al-Ghazali. Syeikh Muhammad Ihsan Jampes juga menulis beberapa kitab lain.
Motivasi Menulis
Kilas sejarah di atas menunjukkan betapa kultur
literasi dan tradisi-tradisi ilmiah khas halaqah, madrasah, dan pesantren bertahan
selama berabad-abad dan melahirkan banyak penulis dengan karya-karya agung.
Hingga sekarang, tradisi ilmiah di pesantren itu masih terjaga. Tradisi-tradisi
tersebut melahirkan ulama-ulama, juga santri-santri di masa kini yang produktif
menulis.
Santri maupun alumni pesantren dengan tradisi khasnya,
setidaknya telah melahirkan tulisan-tulisan yang menurut saya punya perspektif khas.
Tentu saja gaya penulisan, perspektif, dan tema-tema pilihanya amat beragam.
Ini bergantung bagaimana latar belakang dan dialektikanya masing-masing. Sebagian
menuangkan tulisannya di jurnal-jurnal ilmiah, buku, novel juga di media massa
dalam bentuk berita, kolom, opini, dan artikel, atau di website dan media
sosial.
Jika melihat sejarah masa lampau, tulisan-tulisan yang
muncul banyak lahir dan bersumber dari halaqah-halaqah dalam proses transfer
ilmu dari guru ke murid, diskusi-diskusi, dan tak sedikit yang muncul dari
dialektika dan problematika yang muncul di masyarakat. Santri, juga alumni
pesantren sangat akrab dengan tradisi ini. Apa yang disampaikan kiai, guru,
ustadz, adalah hal-hal yang selain perlu untuk dipahami dan diinternalisasi
nilai-nilainya dalam kehidupan, juga dicatat dan ditulis.
Ilmu-ilmu itu penting untuk santri itu sendiri, juga
pada generasi di masa-masa berikutnya. Bukankah ada Abu Yusuf yang mencatat dengan baik fatwa-fatwa
Imam Abu Hanifah, gurunya. Ratusan karya Imam Syafi’i itu terbukukan setelah ia
wafat. Orang yang mendokumentasikan dengan rapi adalah murid-muridnya seperti al-Buwaithi, ar-Rabi’ bin Sulaiman, dan al-Muzani. Imam Syafi’i banyak melahirkan karya
saat periode di Baghdad. Murid-muridnya di Irak yang mendokumentasikan, seperti
Abu Tsaur Ibrahim, Abu Ali Hasan bin Muhammad az-Za’farani, Husain al-Karabisi, dan Ahmad bin Hanbal.
Catatan-catatan santri atas guru/kiainya, baik berupa
ucapan, sikap, teladan, bahkan tulisan, bisa saja menjadi data atau informasi
berharga untuk menulis –sebut saja buku biografi- guru/kiai tersebut. Seorang
kiai, saat membahas tema akhlak tentu menyampaikan pendapat, penjelasan dan
pemahaman dengan sekian banyak referensi. Itu adalah tema menarik
yang bisa diperdalam, dikaji, dan ditulis sesuai konteks dan perspektifnya. Sekian
banyak kitab klasik yang diajarkan di pesantren berisi banyak nilai yang
menurut saya “amat hidup” jika diaktualisasi dan dikontekstualisasikan.
Era internet memudahkan seorang penulis mendokumentasikan
tulisan. Jika sudah lengkap dan tulisannya kuat, bisa didistribusikan ke
pembaca sesuai kebutuhan. Tradisi membaca (muthala’ah) dan pidato (khitabah)
sudah kuat di kalangan pesantren. Namun demi masa depan agar sebuah nilai itu terawat, tradisi menulis (kitabah) bisa lebih diperkuat.
Imam Syafi’i saat masih nyantri sedemikian kuat kultur
menulisnya, hingga di masa kemudian, ia berujar: al-ilmu shaidun, wa
al-kitabatu qayyiduhu (pengetahuan adalah buruan, dan tulisan adalah pengikatnya).
Seperti tak ingin bahwa menulis itu sekadar menulis asal-asalan sekaligus
menekankan pentingnya kredibilitas, mutu dan kedalaman tulisan, Imam Syafi’i juga
menyatakan: qayyid shuyudaka bi al-hibal al watsiqah (ikatlah segenap buruanmu
menggunakan temali yang kuat).
Kurikulum, tradisi ilmiah, serta ruang digital yang
memudahkan siapa saja mengakses informasi, seperti tak memberi ruang bagi
santri dan alumni pesantren untuk tidak menulis. Santri maupun alumni pesantren,
dengan caranya mereka digembleng di pesantren memiliki bekal yang melimpah ruah
untuk sekadar menjawab: “apa sebenarnya yang layak ditulis”. Sebab satu pokok
bahasan saja, jika mau diperdalam dan dikontektualisasikan dengan problematika
atau dinamika kekinian, akan melahirkan tulisan yang khas, baru dan menarik.


Posting Komentar