Nyilih Uyah Sejumput Demi Kehidupan Baru

 

KORESPONDENSI.ID - Dengan anak, saya lebih sering berposisi sebagai teman. Dalam banyak bentuk komunikasi, pola-pola kesetaraan lebih terlihat. Dalam momentum tertentu misalnya, saat bersalaman, anak mencium tangan orang tua. Namun pada momentum lain, kami tos-tosan ala teman sepermainan.

    Pola komunikasi anak dengan orang tua tidak tunggal. Ada sekian pilihan yang semuanya berkosekuensi. Bahkan satu orang tua, dengan beberapa anaknya bisa saja menerapkan pola komunikasi yang berbeda. Ini lebih ke ranah keragaman karakter, psikologi, dan konteks. Jadi sangat cair.

    Kebetulan dengan anak, saya --sebut saja lebih nyaman-- berkomunikasi layaknya teman di banyak hal. Kami sering berdiskusi, adu argumentasi dan saling mengoreksi. Pada saat tertentu secara alamiah kami larut dalam suasana jenaka. Soal ide, kami saling terbuka. Jika ide saya dianggap kedaluwarsa dan argumentasinya masuk, saya tak ada beban untuk menanggalkan ide saya. Sebagai gantinya menerima idenya yang lebih bernas.

    Suasana dinamis juga terjadi di antara kami untuk memilih mana yang masuk dalam ranah privasi dan mana yang masuk ke public sphere, khususnya dalam hal konten digital. Kami pernah berdebat sangat liat dengan anak soal ini. Ia punya pengalaman dan persepsinya sendiri. Pun saya. Dia digital native, lahir dan membuka mata sudah ada internet dan media sosial. Saya tidak. Lahir di daerah dan era serba ketinggalan –untuk tidak menyebutnya primitif. Bagi saya, digital privacy itu “having control and the ability to delete information I have not explicitly given the right to use or disseminate”. Terpenting adalah saya bisa mengontrol dari data-data online yang saya miliki, termasuk menghapusnya. Tapi bagi dia, “privacy being able to feel like his personal information is safe”.

    Adu argumen kami sempat buntu. Untuk meyakinkannya, saya sempat kebablasan pamer pengalaman di hadapannya; pernah bertani delapan tahun, menggembala kambing dan sapi enam tahun, di media kampus selama tiga tahun, bekerja di media konvensional lebih kurang 14 tahun, berdialektika dengan mahasiswa di kelas bertahun-tahun, dan sekolah lagi yang khusus membahas media massa, media sosial, dan beragam pola bentuk komunikasi personal dan massa. Singkat kata, pola komunikasi dengan tumbuhan, hewan, manusia, serta dengan teknologi pernah saya gumuli. Hingga pada titik klimaks, kami menyepakati ruang-ruang privasi dalam berkomunikasi di media sosial. Misalnya ini boleh diunggah, tapi tidak detil. Ini boleh detil dan diunggah, dan yang ini harus seizinnya. Dalam tarik menarik persepsi masing-masing, saya tetap respek karena diskusi kami dalam ranah literasi. Ia sering men-challenge saya dengan argumentasinya soal hal-hal yang berbau virtual.

    Dalam hal-hal ringan dan tidak begitu prinsip, saya memilih supercair. Kami misalnya, adalah tim yang solid dalam membuat dan bermain layang-layang. Hampir tak ada perdebatan di bidang ini. Dengan sedikit pembuktian dari saya, ia seperti mengetahui bahwa ayahnya punya masa kecil sebagai kampiun dalam membuat, bermain, dan berburu layangan. Untuk kegiatan elektro-robotiknya, saya mengapresiasi. Di tangannya, barang elektroik apa saja, bisa ia bongkar dan ia pasang lagi dengan fungsi yang sama atau dengan modifikasi baru. Beberapa kali ia mendapatkan dinamo bekas, dan ia rangkai menjadi kipas angin portabel. Saya sekali membelikannya drone dengan harga terjangkau (karena saya mempertimbangkan, pasti dalam dua atau tiga hari akan dibongkar). Benar, drone itu dibongkar dengan alasan sasisnya kurang oke. Ia mengkombinasikan dengan bahan-bahan sesuai seleranya dan drone bisa lebih lincah bergerak. Untuk hal-hal seperti ini, saya cukup memegang nilai-nilai positifnya. Kreativitas anak untuk hal baik memang perlu didukung.

 

Deadlock Terlama

    Ada pilihan tema diskusi yang kami harus mengalami kebuntuan (deadlock) terlama dalam sejarah dialektika saya dengannya. Empat tahun…! Ya, sejak ia kelas dua sekolah dasar, saya sudah menjajaki agar setelah lulus, ia mau melanjutkan sekolah dengan tinggal di pondok pesantren. Mungkin karena kenyamanannya di lingkungan dan kedekatannya dengan teman sepermainan, ia resisten dengan tawaran saya. Saya memahami barangkali ia membayangkan betapa berat kehilangan kebersamaan dengan teman-teman sepermainan. Apalagi rumah kami bisa dibilang sebagai markas anak-anak itu, baik dalam bermain, berkreasi, juga mengaji. Mereka membikin layang-layang dan sowangan juga di teras rumah kami. Saat HUT Kemerdekaan RI, mereka yang kurang puas dan tersisih secara dini dari lomba-lomba di tingkat RT, mengajukan bisa lomba lagi di teras rumah. Sepulang dari bermain di sungai dan mendapatkan ikan, mereka membakarnya di teras rumah. Jika tak ada ikan, merebus telur bersama pun dilakukan. Keasyikan-keasyikan ini yang dibayangkan akan hilang oleh anak saya, sehingga ia merasa berat jika harus ke pesantren setelah lulus sekolah dasar.

    Saya tak menyerah dengan resistensinya. Saya membaca ada ruang pendidikan yang ia perlu mengalaminya sebagai bagian dari perjalanan hidupnya. Beragam argumentasi dan pengkodisian yang halus saya berikan sepanjang empat tahun itu. Saat ia sudah kelas enam, resistensi itu masih kuat. Rayuan yang saya sisipkan saat ia sedang riang gembira berkali-kali ditolaknya. Sampai akhirnya saat wabah Covid-19 datang pada Maret 2020, membuatnya lebih sering di rumah karena pembalajaran dilakukan daring, bahkan sampai ia dinyatakan lulus SD.

    Pada suatu hari, entah apa yang melatarbelakangi, ia ingin mendapatkan cerita tentang Nabi Ibrahim a.s. Saya menjanjikannya akan bercerita dan minta waktu satu dua hari. Waktu yang saya minta sebenarnya hanya untuk memperkuat referensi. Butuh cara tepat untuk mengisahkan tentang sejarah nabi di kalangan anak. Soal nubuwah, saya menyadari ada ruang-ruang transenden yang butuh penjelasan spesifik agar diterima dengan tepat.

    Saat ia meminta kisah itu, seketika saya girang. Kisah Nabi Ibrahim adalah kode kuat pentingnya literasi tauhid ke anak. Saya tak ingin bercerita dalam konten yang garing. Ia, saat meminta, sudah di ujung kelulusan SD. Tentu saya tak bisa bercerita layaknya ia masih kanak-kanak. Kekritisannya menantang saya bisa menghadirkan konteks-konteks sejarah sirah Nabi Ibrahim.

 

Mulai Meleleh

    Petualangan saya selama empat tahun mengalami deadlock komunikasi kepesantrenan seketika mencair saat ia mau mendengarkan dan merespons dengan baik kisah Ibrahim a.s.. Pesan dari kisah bahwa tauhid adalah hal penting, ia terima. Juga bahwa Nabiyullah Ibrahim adalah moyangnya Nabi Muhammad Saw. Pada fase berikutnya, ia mengajukan proposal membahas nabi-nabi lain, seperti Nabi Musa, Nabi Isa, hingga Nabi Muhammad. Kami akhirnya juga membeli buku-buku, dan kisah terus berlanjut sampai kepada Umar ibn Khattab, serta para imam mujtahid seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Kami fokus pada kisah bagaimana para peletak sejarah peradaban itu memulai kehidupan sejak kecil.

    Di tengah wabah Covid-19, dimana kami bisa lebih banyak bersama anak, kami akhirnya juga mencapai deal dengannya untuk mendaras Kitab Aqidat al Awam karya Syeikh Ahmad Marzuqi al Maliki al Makki yang tersaji dalam bentuk syair-syair (nadham). Saya pernah diajari kitab yang sama oleh Bapak saya sewaktu masih kecil, di sebuah langgar atau musala pada 1980-an. Kitab Aqidat al awam memang berisi dasar-dasar ilmu tauhid. Dalam sebulan, kami akhirnya mengkhatamkannya. Saya memenuhi permintaannya agar membaca dan diskusi soal tauhid melalui kitab tersebut tak boleh lebih dari 30 menit setia usai mendaras Alquran bakda magrib.

    Respons positif itu saya tingkatkan jangkauannya. Anak perlu belajar bersuci, serta ibadah-ibadah yang pokok.  Salat misalnya. Saya menawarinya Kitab Al Ghayat wa At-Taqrib karya Imam Abu Syuja’ yang bermadzhab Syafi’i.  Kitab ini lebih popular dengan sebutan Taqrib, kitab fikih dasar yang setahu saya diajarkan di pesantren-pesantren. Ia menerima tawaran itu. Meski anak saya belum memiliki dasar-dasar ilmu nahwu (semacam gramatika Bahasa Arab), saya tetap minta teks versi terjemah arab pegon dia yang membaca. Saya memberikan bandingan versi kitab kuning gundul. Tujuannya simpel: agar ia tak minder atau kaget dengan kitab kuning gundul saat masuk pesantren. Untuk memudahkan penjelasan, tiap pokok bahasan atau fasal dalam kitab itu saya bikinkan bagan-bagan.

    Setelah tauhid dan fikih saya usulkan konten baru, tafsir. Ia menerimanya. Tapi saya ambil yang pokok dan surat yang setiap salat ia baca, yaitu Surat al Fatihah. Saya ambil seadanya di rak kitab dan menemukan Tafsir Jalalain karya Syeikh Jalaluddin al Mahalli yang diteruskan Syeikh Jalaluddin as Suyuthi. Saya perkaya lagi dengan Tafsir al Maraghi karya al Maraghi yang lahir di era modern, abad ke-20. Kami hanya mengulas Surat al Fatihah. Saya anggap penting untuk anak karena didalamnya ada keilahian, penghambaan, serta peta jalan kehidupan. Di tafsir ini, saya mendapatkan pertanyaan bertubi-tubi darinya, terutama di ujung surat itu, ayat 7. Diskusi kami melebar ke Pancasila, beragama di tengah keberagamaan, dan klaim kebenaran.

    Respons-responsnya seperti memberi pertanda ia bisa berdamai dengan pembelajaran khas pesantren. Namun saat saya tanya soal kesediaan di pesantren, ia masih ragu. Saya amat respek dengan keraguannya. Setidaknya tidak lagi resisten. Bagi saya, mulai ada sikap ia mau mempertimbangkan. Saya tengok kanan kiri pendaftaran sekolah dan pesantren mulai dibuka.

    Saat berkas pendaftaran saya tunjukkan, saya dihadapkan pada permohonan-permohonannya. Kami diskusikan. Tujuannya meneliti proposal yang poinnya memungkinkan dan tidak. Kami merasa plong karena akhirnya saya menemukan kode jawaban ia menerima di pesantren, meski ia terus menggoda kami dengan kode-kode yang tak mudah buat kami.

 

Nilai Plus Pesantren

    Sampai sehari sebelum keberangkatan ke pesantren pun, kami masih mendapati kode ia berat jika meninggalkan lingkungan rumah yang mungkin menurutnya mengasyikkan. Sampai di titik ini, saya akhirnya berbagi cerita tentang masa lalu saya di pesantren pada awal 1990-an. Apa yang saya hadapi dan yang anak saya akan alami detilnya mungkin berbeda, tetapi secara prinsip relatif sama.

    Alkisah, saat anak-anak dan remaja, saya memiliki masa di rumah lebih lama dibanding anak saya. Sebab saya ke pesantren saat lulus SLTP. Ini artinya, saya memiliki kenangan lebih lama yang berat untuk ditinggalkan di lingkungan rumah. Selama 15 tahun kehidupan awal saya adalah masa yang sarat dengan kenangan dan pengalaman hidup di desa tertinggal. Ia seperti setumpuk buku kehidupan jika ditulis.

    Saya disarankan oleh Bapak untuk ke pesantren dan beliau sendiri yang mengantar di salah satu pondok pesantren di Desa Cebolek Kecamatan Margoyoso, Pati. Sebelum berangkat, saya tak mengerti seperti apa kondisi pondoknya. Dengan berat namun penuh harap, saya berangkat. Oleh Bapak, saya disowankan ke kiai pengasuh dan hanya kata “inggih” yang bisa saya ucapkan dari setiap nasihat yang dialamatkan ke saya. Saya masih tegar saat Bapak masih di pondok. Namun begitu Bapak pulang, suasana hati menjadi tidak karuan. Kenangan bersama teman-teman sepenggembalaan dan sepengaritan terus melintas. Menu-menu makan yang setiap waktu bisa saya temukan di pawon rumah terbayang. Hari-hari yang berat itu saya lalui sampai tiga bulan pertama. Ditambah suara-suara santri lama yang sudah cakap dan fasih dalam membaca literatur klasik dari kitab kuning gundul. Di titik ini, sebagai santri baru, saya merasa harus mengelola diri dengan baik. Fokus nyantri adalah kata kunci.

    Pesantren era 1990-an, seingat saya masih sangat khas. Kebetulan saya di pesantren yang santrinya bisa memilih: memasak sendiri atau membeli menu makan di warung terdekat. Oleh orang tua, saya disarankan memasak sendiri. Saya tahu saran itu atas pertimbangan ekonomis, dan mungkin cara mujarab mengasah kemandirian, serta menguatkan mental. Saya tak sendiri. Ada banyak teman santri dari berbagai daerah yang memilih jalan seperti saya, memasak sendiri. Pesantren memiliki ruang dapur sendiri. Hanya sekadar bangunan dapur tembok beratap, tak lebih. Menggunakan kompor berbahan bakar minyak tanah atau kayu bakar juga pilihan dan mesti diusahakan santri sendiri. Oleh Emak (ibu saya, al-maghfur laha), saya boleh pulang sebulan sekali untuk mengambil bekal. Tahun 1993 saya masuk pesantren, setiap akan kembali ke pondok dibekali beras lima kilogram dan uang Rp 25.000 (di luar uang bulanan sekolah dan syahriah pondok). Harus cukup untuk makan sebulan.

    Saya tak perlu membandingkan angka inflasinya dibanding sekarang, namun saya ingat Rp 25 ribu untuk sebulan di masa itu butuh manajemen keuangan yang superketat.  Gambarannya begini, jika saya berani mengambil keputusan dalam satu hari itu lauknya sambal goreng dikasih telur/tempe, maka di hari berikutnya harus berani ambil risiko makan dengan lauk garam. Pilihan apakah sambal ini bahan-bahannya cukup dikukus atau digoreng membutuhkan “ijtihad”. Juga pilihan apakah sekali memasak untuk makan dua kali, atau setiap akan makan harus memasak agar segar. Pilihan itu berpengaruh pada persediaan bahan bakar (kayu, atau minyak tanah). Efisiensi di bahan bakar penting karena memengaruhi ketahanan pangan selama sebulan.

    Perencanaan memiliki kodratnya. Sematang apapun rencana, ada potensi meleset di bagian tertentu karena hal yang tak terprediksi. Sampai di sini kita bisa belajar bahwa syahwat kadang terkendali, kadang tidak. Dalam rencana untuk kepentingan efisiensi, sayur kacang panjang cukup dikukus dengan sambal yang bahanya juga dikukus, namun syahwat menginginkan harus ditumis dengan minyak goreng. Belum lagi jika masih harus menambahnya dengan tempe.

    Di dinamika ini pula saya bisa terampil mengolah satu jenis sayur, sebut saja terung, bisa dibikin beragam resep menu. Semuanya berkonsekuensi terhadap biaya. Di sini perencanaan sesekali ambrol. Daya tahan pangan habis sebelum waktunya kerap terjadi. Tak heran, sering di antara kami sesama santri, sesekali saling pinjam sana sini. Bukan pinjam uang, tetapi pinjam bahan bumbu dapur. Santri yang krisis bekal bisa saja punya bumbu seadanya untuk dimasak, namun kurang garam. Solusinya meminjam sejumput garam kepada santri lain. Pembayarannya dengan bahan serupa. Cara mengatasi krisis juga bisa melalui memasak bersama dengan biaya atau bahan secara patungan. Ini dilakukan untuk dua alasan; memasak sendiri dianggap lebih boros, dan untuk memenuhi rasa kebersamaan. Jika ada deretan kenangan di papan atas dalam kehidupan di pesantren, memasak dan makan bersama di tengah keterbatasan bisa dicatat sebagai salah satunya.

    Berkah besar jika di tengah krisis seperti itu, ada warga kampung sekitar pesantren yang selamatan dan mengundang santri-santri. Atau, ada haul ulama terkemuka, dan panitia mengundang untuk khataman Alquran. Itulah masa perbaikan gizi paling sempurna.

    Gambaran yang demikian secara alamiah memberikan pelatihan (riyadlah) kepada setiap santri akan nilai-nilai kemandirian, kecanggihan membuat perencanaan, kebersamaan dalam mengatasi persoalan, dan tentu tentang komunikasi yang cair di antara teman.

    Saya belum meneliti secara komprehensif, bagaimana kehidupan di pesantren yang sekarang. Namun setidaknya, beberapa pesantren yang saya jumpai sudah banyak menerapkan pola praktis. Untuk mencuci menggunakan jasa laundry, dan kebutuhan makan sudah disediakan pihak pondok (meskipun yang seperti ini di masa lalu juga sudah diterapkan).

    Cerita saya soal kehidupan pesantren di masa lalu, dengan sisipan kisah-kisah para alumnus pesantren yang survive dengan beragam bentuk pengabdiannya di masyarakat, bangsa dan negara, mulai bisa dipahami anak saya. Kemantapan dan keikhlasan untuk di pesantren ia sampaikan dua jam sebelum keluar rumah melalui pesan WhatsApp saat saya masih di meja kerja. Seketika saya hanya melangitkan doa sembari memastikan niatnya tertata dengan dibasahi keikhlasan, keyakinan, dan kemantapan.

    Model pendidikan untuk anak sebetulnya pilihan. Setiap orang tua atau anak memiliki pertimbangan masing-masing. Rasanya tak ada orang tua yang tak memberikan nasihat dan arahan pilihan terbaik untuk anaknya. Namun setiap pilihan tentu ada konsekuensi. Untuk pendidikan pesantren, dengan segala kekhasannya, terlebih di masa pandemi Covid-19 seperti ini, saya anggap cukup tepat. Ada perasaan khusus, baik di anak maupun orang tua saat hendak memulai proses ini. Pada masa awal meninggalkan lingkungan rumah, tentu ada rasa berat di anak. Namun soal ini, berangsur anak akan beradaptasi dengan lingkungan pesantren, dengan teman-teman baru yang lebih beragam dan dalam prosesnya akan mengasyikkan.

    Saya membangun argumentasi dalam diskusi seimbang dengan anak saya. Ia saya beri ruang untuk menyampaikan ganjalan di pikiran dan perasaannya dalam setiap ruang diskusi selama lebih kurang empat tahun terakhir. Saya mengandalkan keyakinan, pengalaman, kisah-kisah, dan komunikasi lembut dengannya sepanjang masa itu. Hingga di titik akhir, ketika kode resistensi itu masih muncul, saya menciptakan kultur pesantren di rumah saya sendiri dengan membikin kurikulum sekiranya anak bisa beradaptasi. Tentu dengan konsep pembelajaran yang kompromistis.

    Masih dalam membangun kultur pesantren di rumah, saya membeli lemari khusus buku dan kitab kuning. Beberapa kitab tafsir, Fath al-Bari (syarakh Shahih Bukrori), Al-Minhaj (syarakh Shahih Muslim), Fath al-Mu’in (fikih), Ihya Ulumiddin (fikih, akhlak dan tasawuf), serta beberapa kitab lain, termasuk buku-buku. Ikhtisar masing-masing kitab itu saya sampaikan ke anak. Sebelum berangkat mengantar ke pondok kali pertama, saya katakan ke dia: “…Saya akan membelikan lebih banyak lagi kitab. Untukmu. Jika kamu bisa mendarasnya, dengan bimbingan guru, di sana ada banyak ilmu. Kamu butuh bekal ilmu untuk melanjutkan kehidupan. Kamu sudah mengaji tafsir Alfatihah di rumah ini. Ikutilah siraath al mustaqiim. Siraathalladziina an’amta ‘alaihim, ghairil maghdluubi ‘alaihim wa la al dhaallin...”.

    Walau diwarnai meminjam sejumput garam ke teman untuk sekadar sebagai lauk pengganjal perut, hidup di pesantren, dengan segala tantangannya, harus dijalani dengan ikhlas. Ilmu adalah bekal kehidupan yang paling berharga.

    Saya tak melewatkan sedikit pun gestur tubuhnya saat memasuki area pesantren Rabu (5/8) siang itu. Tugas pertamanya memang adaptasi dengan lingkungan baru. Gesturnya memberi tanda ia bisa menjalani. Saat hendak pamit pisah di lokasi pengantaran, saya masih mengajukan satu pertanyaan. “Masih berat?” Ia hanya menjawab dengan senyum. Saya memeluknya, dan mata kami basah oleh doa.

 

2 komentar :

My Instagram

Presented by Korespondensi ID