KORESPONDENSI.ID - Memasuki malam di pertengahan November 2020, beberapa anak memilah-milah buku di sudut ruang tengah rumah. Mereka lalu berebut cepat bisa membaca satu buku cerita. Saya menengahi, agar mengantre, sambil menunjukkan buku lain yang mirip. Sebagian bertanya adakah koleksi buku baru. Tak banyak koleksi bukunya, cuma satu rak kecil. Tingkah mereka berebut buku, seperti memberi bimbingan untuk menyediakan yang lebih banyak lagi.
Sudah lima tahun saya menyediakan rak buku di
ruang tengah, khusus anak-anak. Saya tak pernah menyuruh mereka membacanya, alih-alih
memaksanya. Di tengah kelengketan mereka dengan gawai, melihatnya berebut
membaca buku adalah kemewahan. Saya membatin, setiap pindah tempat tinggal selalu
ramai oleh anak-anak sekitar. Dari rumah kontrakan yang dahulu di desa sebelah,
sampai di rumah yang sekarang saya tinggali.
Dia nyaris tak pernah mengikuti lomba-lomba di
sekolah, apalagi lomba rangkaian acara tujubelasan di kampung saat HUT
Kemerdekaan RI. Sekali ia mengikuti lomba. Bukan akademik, tapi kewirausahaan bertema
kreasi memasak menu khas cafe. Itupun setelah kami berkali-kali merajuknya. Dia
tampil bak koki. Pihak sekolah yang mengirimnya untuk maju lomba tingkat
kecamatan. “Sekali ini saja,” pesannya ke saya soal keputusannya mau ambil
bagian dalam lomba.
Memang ia pernah mengatakan merasa tak nyaman
tampil di depan banyak orang, apalagi dinilai. Meski itu bukan harga mati. Saya
menghormati pandangan dan argumentasinya. Sekilas saya berprasangka mungkin ia
malu tampil, tapi anggapan saya seperti pecah karena di masa yang sama ia pandai
bergaul. Tak hanya ke anak-anak seumuran, tapi ke orang tua dari
teman-temannya. Dua kali saya adaptasi di lingkungan baru, anak saya seperti
penuntunnya, setidaknya dalam mengingat nama-nama dan latar belakang tetangga
sekampung.
Saat tinggal di rumah kontrakan (2009-2013), suasana
rumah dipenuhi anak-anak tetangga. Saking seringnya mereka bermain ke rumah,
terkadang mereka membaur dengan anak saya yang mengerjakan tugas sekolah di
rumah. Mungkin merasa senasib (sama-sama punya pekerjaan rumah/PR), lama-lama
mereka membawa tugas-tugas sekolah dan jilid-jilid mengajinya ke rumah. Kami
pun ikut-ikutan “terbawa” ke dunia riuh itu.
Rumah kontrakan yang menurut saya sudah cukup luas seperti tak muat menampung anak-anak itu. Saya menghitung mereka. Pantas saja, ada 47 anak. Mereka termasuk anak-anak yang putus sekolah, hingga mau tidak mau menyedot perhatian kami untuk berkomunikasi dengan orang tua anak dan pihak sekolah, termasuk mengomunikasikannya ke dinas terkait. Akhirnya terurai persoalan sebagian anak-anak itu. Lebih dari tiga tahun mereka menjadikan rumah kontrakan kami sebagai tempat bermain dan belajar. Saat masa sahur selama Ramadan, halaman depan rumah menjadi markas berkumpul dan berpisahnya rombongan tong-tek.
Sejak awal 2014, kami pindah ke rumah yang sekarang saya tinggali. Berat bagi anak saya berpisah dengan teman-teman sepermainannya. Saya ada di gelombang rasa yang sama dengannya. Ditambah ia akan beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman yang baru. Benar saja, hanya beberapa pekan di tempat tinggal baru, tanda-tanda atmosfer seperti di rumah kontrakan mulai terasa. Satu, dua, tiga, empat lima, anak mulai akrab dengan teras.
Seperti menyalin atau meneruskan tradisi di
rumah kontrakan. Saat musim layang-layang dan sowangan, mereka membikin dan
bermarkas di teras. Saking banyaknya anak, saya tak hafal namanya, namun akrab
wajahnya. Kami biasa tos-tosan dalam awal perjumpaan. Berjalannya waktu, mereka
kemudian tak hanya bermain, namun mulai meminati buku-buku di rak koleksi anak
saya. Mereka membacanya, dan beberapa kitab berjilid untuk mengaji dibukanya.
Lambat laun mereka bergabung dalam ruang privasi saya dengan anak saya setelah
magrib. Saya punya “kurikulum rumahan” agar anak senang dalam pengertian yang
hakiki. Anak-anak tetangga dari dua rukun tetangga (RT) makin banyak. Belasan
anak. Alamiah saja, mereka akhirnya total menjadikan teras sebagai markas
bermain, sekaligus terlibat dalam “kurikulum rumahan” bersama anak saya.
Tingkah teman-teman sepermainan anak saya ini
seperti menggerakkan saya ke banyak hal. Kami juga seperti digerakkan anak-anak
ini bagaimana terus memperbaiki “kurikulum rumahan”, terutama semenjak pandemi
Covid-19, mereka lebih banyak di rumah.
Pada awal Agustus 2020, anak saya harus meninggalkan rumah. Berpindah ke pondok pesantren, kawah candradimuka barunya. Ia harus berpisah dengan sekian banyak temannya. Di tulisan sebelumnya saya telah berkisah bagian ini. Malam sebelum keberangkatannya ke kawah baru itu, ia undang semua temannya. Saya tidak menyebutnya sebagai malam perpisahan, tapi saya amati momentum itu seperti penanda anak saya akan absen dari hiruk pikuk “kurikulum rumahan” tadi dan segala tradisinya bersama teman-temannya. Ia ini memberi kesan akhir kisah panjangnya dengan saling bertukar cerita dan membakar apa saja yang bisa dimakan; ikan dan sosis. Saat satu persatu temannya pulang. Ia bergegas membereskan perbekalan dan esok paginya berangkat ke kawah barunya.
Setelah hampir setengah tahun anak saya ke tempat belajar yang baru, teman-temannya masih istikamah mengikuti “kurikulum rumahan” tadi. Rumah masih menjadi markas bermain anak-anak itu. Setelah sekian waktu saya renungkan, anak saya seolah menitipkan teman-temannya itu ke kami. Ia seperti titip agar kami berperan seperti dia yang tak membosankan bagi teman-temannya dan terus menjaga tradisi yang pernah ia jalani. Ia seakan menyetel sebuah titik temu di frekuensi baru. Frekuensi yang menempatkan dia bersama teman-teman barunya di pesantren, dengan kami yang di rumah bersama teman-teman lamanya. Ya, kami mesti ada di frekuensi yang sama. Sama-sama terlibat dalam keriangan, tanpa kehilangan warna literasi bersama anak-anak. Bersyukur kepada Dzat Pengatur Frekuensi Kehidupan...



Posting Komentar