KORESPONDENSI.ID - Hampir setiap hari saya berbaur dengan puluhan anak. Di antara mereka usianya hampir remaja. Setiap hari mereka menggunakan gawai (milik sendiri dan sebagian milik orang tua) yang terkoneksi dengan internet. Sebagian besar mengaku punya akun media sosial. Dari sedikit yang belum punya akun, mereka mengaku sering membuka beberapa platform media sosial. Sejak dini, anak-anak beradaptasi dengan komunitas pergaulan daring.
Di komunitas baru itu, anak-anak
membawa diri mereka kepada perilaku-perilaku baru. Ia merespons apa yang ia
pilih dan sukai. Sampai di titik ini, sebagaimana pergaulan luring, mereka akan
mendapatkan pengalaman-pengalaman baru. Terkadang terjadi lompatan-lompatan tak
terduga. Pada sisi lain, terkadang bukan lompatan yang terjadi, namun keterjatuhan.
Saat ini belum menjadi siapa-siapa,
tapi karena perantara media sosial yang efeknya kadang menghentak dan jangkauannya
luas, ia bisa saja melompat tinggi di hari, pekan, bulan, atau tahun berikutnya.
Sebaliknya, seorang pesohor, melalui perantara media sosial yang kadang melenakan,
bisa terjerembab ke titik terendah.
Di tulisan-tulisan sebelumnya, di saluran ini, saya beberapa kali menandai fenomena berkomunitas di ruang virtual. Beragam platform media sosial yang dipilih dengan layanan-layanan kemudahan khasnya, memiliki sisi baik dan buruk. Bukan hal baru, sebab media sosial nyatanya mirip kehidupan di masa sebelum internet lahir, yang memiliki sisi gelap dan terang. Pengalaman-pengalaman bermedia sosial dari penggunanya, bisa dijadikan bacaan.
Baru-baru ini perhatian saya tertuju pada nasihat petenis remaja kelas dunia Coco Gauff (17) kepada petenis remaja lainnya yang menyita perhatian dunia setelah menjuarai Grand Slam Amerika Serikat Terbuka 13 September 2021, Emma Raducanu. Reuters, salah satu kantor berita terbesar di dunia melansir nasihat Coco kepada Raducanu pada 7 Oktober 2021. Raducanu diingatkan karena petenis asal Inggris berdarah Romania-China ini baru saja menjadi pusat perhatian dunia dengan capaian terbarunya di usia yang masih belia, 18 tahun.
Coco, petenis asal Amerika Serikat
lebih dahulu memiliki pengalaman tiba-tiba menjadi pesohor di media sosialnya
karena menembus babak keempat Wimbledon 2019 saat usianya baru 15 tahun.
Apalagi saat itu ia mampu menundukkan Venus William, sang juara Grand Slam tujuh
kali.
Ini nasihat berbasis pengalaman yang
disampaikan Coco:
" ... It is exciting when you get all the
retweets, all the follows and all of that, but it can be a bit overwhelming. At
least in my experience. That's probably what I wish I would've known, not to
focus on social media. I put a time limit on my phone because I thought I was
spending too much time on it," (Reuters, 7 Oktober 2021).
(Sangat menarik ketika informasi
tentang saya disebarkan ulang, follower bertambah dan sebagainya. Namun itu kadang
bisa membuat saya kuwalahan. Setidaknya itu pengalaman saya. Itu yang mungkin
saya berharap untuk tidak terlalu fokus pada media sosial. Saya akhirnya
membatasi diri menggunakan ponsel sebab saya berpikir terlalu lama
menggunakannya).
Emma Raducanu diingatkan karena semenjak ia menjuarai Grand Slam Amerika Serikat, jumlah pengikutnya di Instagram melonjak dari 400-an ribu follower menjadi lebih 2 juta follower. Dalam waktu kurang dari sebulan sejak menjuarai Grand Slam, ia memiliki tambahan 1,6 juta follower baru. Sebagai pesohor baru, Raducanu memilih bijaksana terkait pengalamannya bermedia sosial. Ini kata dia: ‘’Sangat menyenangkan ketika saya membaca banyak dukungan. Banyak yang mengatakan hal baik. Tapi saya tidak terjebak di dalamnya”.
Media sosial kini menjadi pilihan untuk banyak tujuan. Bisa untuk ekspresi, promosi, sampai pada ruang untuk berkomunikasi sekaligus jendela mendapatkan informasi. Interaktivitas di media sosial menuntut kesiapan segalanya dari pemilik akun.
Bagi pemilik banyak pengikut di
media sosial, segala aktivitasnya di media sosial akan direspons pengikutnya.
Sedangkan bagi para pemilik akun dengan sedikit pengikut, memiliki
aktivitas-aktivitas tertentu. Dua-duanya sama-sama memiliki potensi membuat
pemilik akun terlena. Mudah tersanjung lepas saat dipuji, dan tertekan kala
dirundung atau dicela. Kehati-hatian, kesadaran, keterukuran, dan kebijaksanaan
setidaknya bisa menekan potensi perilaku buruk bermedia sosial.

Posting Komentar