KORESPONDENSI.ID - Saya memilih judul ini karena kesaksian dari beberapa orang yang belajar menulis. Setelah mengikuti pelatihan, mereka benar-benar mempraktikkan. Mereka merasa ada kemajuan dan sebut saja, mulai terbiasa menulis. Kepada salah satu dari mereka, saya menyampaikan ingin membaca tulisannya. Tapi tulisan itu tak kunjung dikirim. Ia berterus terang, merasa malu membagikan karyanya.
Ada beberapa pertimbangan ia enggan
membagikan tulisan. Di antaranya merasa tulisannya belum layak dibaca banyak
orang. Selain itu khawatir terhadap respons pembaca. Itu sebabnya ia juga tak membagikannya
untuk publik (warganet). Ia mau membagikannya hanya untuk orang-orang tertentu
dan amat terbatas.
Sebagian yang lain mengaku tidak
percaya diri membagikan ke publik karena masih merasa tulisannya tak sebaik
karya orang lain yang ia anggap bertema menarik, lebih runtut, penjelasannya
detil, dan berbahasa komunikatif. Ia juga merasa ada kompetensi pelengkap yang
belum menitis ke proses dan hasil karyanya, seperti bagaimana menulis yang
kalau orang membaca menjadi merasa ingin menunggu tulisan berikutnya. Atau
merasa tulisannya seakan-akan menyinggung banyak orang, terlalu berpihak, dan
kurang bijaksana.
Keengganan membagikan tulisan itu
sebetulnya dialami sebagian orang. Menulis adalah satu hal, tetapi
membagikannya ke publik adalah hal lain. Membagikan tulisan atau tidak, itu
pilihan dari sekian banyak pertimbangan. Pertanyaannya, apakah menulis hanya
untuk dibaca diri sendiri? Ya, bisa saja jika itu tulisan yang bersifat privat
(meskipun karya model ini tetap memungkinkan bisa terbaca orang lain kelak,
kecuali dihapus). Tapi kalau menulis tentang banyak hal dan itu pantas untuk
dibagikan ke publik, mengapa keberatan membagikannya? Sebut saja bukan tidak
mau, tapi menunda membagikan ke publik karena merasa tulisannya kurang/tidak
bagus. Apakah cukup menilai karya sendiri secara subjektif? Bukankah akan
lebih baik mempertimbangkan perspektif lain?
Sebagian orang yang enggan atau malu
membagikan tulisannya tetap bisa dimaklumi. Setidaknya karena itu pilihan yang
bersifat pribadi, maupun berdasarkan beragam pertimbangan lain. Saya termasuk
orang yang pernah memiliki rasa malu maupun ‘tidak nyaman’ tulisan saya dibaca
banyak orang. Sampai sekarang rasa itu tetap ada. Lebih tepatnya bukan rasa
malu, tapi menunda atau berpikir berkali-kali. ‘Tidak dulu, lah…’. Ini memengaruhi
keputusan untuk membagikan, belum atau bahkan tidak sama sekali.
Tetapi menulis dan tulisan itu
spektrumnya luas. Bisa jadi karena hal-hal teknis yang dianggap belum sesuai
harapan, orang cenderung menyimpannya ketimbang membagikannya. Karakter
personal bisa juga menjadi latar belakang. Andai mau menulis, orang dengan
karakter tertutup (introvert) akan berpikir panjang untuk berkenan membagikan
tulisannya. Apalagi meyakini adagium ini: ‘dari tulisannya, akan terlihat
bagaimana karakter penulisnya’.
Saya teringat biografi sang
superstar fisika, matematika, dan astronomi, Isaac Newton (1643-1727). Ia
seorang profesor Matematika Lucasian di Universitas Cambridge, Inggris. Temuan-temuannya
tentang hukum gerak, gravitasi, dan beberapa prinsip matematika berpengaruh
sampai sekarang. Banyak ilmuan merujuk ke Isaac Newton untuk menjelaskan cara
kerja alam.
Newton punya riwayat berselisih
pendapat selama bertahun-tahun dengan Robert Hooke tentang siapa yang benar-benar
menemukan hubungan orbit elips dan hukum kuadrat terbalik. Ujung dari perselisihan
ini hanya karena Hooke meninggal dunia pada 1703.
Dua tahun setelah meninggalnya
Hooke, Newton beroleh penghargaan ksatria dari Ratu Anne. Ia melanjutkan
karyanya di bidang matematika. Episode perselisihan pendapat antara Newton
dengan ilmuan lain muncul lagi pada 1709. Kali ini dengan ilmuan matematika
terkemuka Jerman, Gottfried Leibniz. Dialektika perselisihannya tentang siapa
penemu kalkulus yang sesungguhnya.
Newton punya fase kurang bersahabat
dengan kritik. Ia banyak menulis karya, namun karena potensi kritik dari ilmuan
lain, membuatnya menunda mempublikasikan tulisan-tulisan briliannya. Di antara
tulisan lama yang ia tunda publikasinya adalah De Analysi. Tulisan ini baru
terbit pada 1711. Selain itu Principia (baru terbit 1687), Optik (1704), dan The
Universal Arithmetic (1707). Newton meninggal di London pada 1727. Ada beberapa
tulisan spektakuler yang ia simpan dan baru diterbitkan setelah ia meninggal
dunia. Di antaranya Lectiones Opticae (terbit dua tahun setelah Newton
meninggal), Methode of Fluxions (terbit 1736), dan Analytica (1779). Saat ia
menunda mempublikasikan tulisannya, ilmuan lain menulis karya serupa.
Saya tarik jauh ke masa lampau. Sekitar
1.000 tahun sebelum Isaac Newton, ada karya fenomenal di masanya, al-Muwaththa’.
Kitab karya Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir Al-Ashbahi atau
dikenal dengan Imam Malik (wafat pada 795 M) ini punya jejak kisah yang khas. Kitab
berisi hadis-fikih ini menjadi bahan pembicaraan di masanya, viral. Imam Malik ada
dalam atmosfer selalu memvalidasi isi dan riwayat dalam karyanya. Ada ruang
dialektika secara keilmuan yang melibatkan banyak ahli dalam proses
penulisannya. Al- Muwaththa’ menjadi salah satu Kutub al-Tis’ah (sembilan kitab
hadis utama yang menjadi rujukan kalangan Sunni).
Kesaksian Imam Malik sebagaimana
dikutip dalam Kitab Tanwir al-Hawalik (Syarh al-Muwaththa’) karya Imam
Jalaluddin al-Suyuthi menegaskan reputasi dan bobot al-Muwaththa’. “Saya
menunjukkan kitabku ini kepada 70 ahli fikih di Madinah. Semuanya
menyepakatinya, maka saya memberinya nama al-Muwaththa’….,’’ kutip al-Suyuthi.
Itu hanya potongan kisah yang
menunjukkan betapa menulis itu memiliki kisahnya sendiri, dan membagikannya ke publik
punya sisi-sisi pertimbangan yang khas. Boleh juga dilihat kisah-kisah lain. Tentu
saja tidak sekaliber dua kisah beda zaman dan tradisi di atas. Namun dua jejak itu
dapat menjadi refleksi.
Pada sudut tertentu, orang yang
enggan membagikan tulisan ke publik tetap bisa dimaklumi. Bisa karena persoalan
teknis, atau pertimbangan personal seperti tak ingin keputusan membagikan tulisannya
ke publik justru terkonversi dengan hal-hal yang tabu, kontraproduktif, dan tak
esensial.
Motivasi untuk dapat berbagi
kemanfaatan melalui tulisan (atau karya lain selain tulisan) kepada lebih banyak
orang, bisa jadi mengalahkan pertimbangan-pertimbangan personal dan teknis. Membagikan
ke publik juga bisa menjadi panggung untuk menguji bobot sebuah karya. Sehingga
apa saja yang ditulis (setelah berupaya menulis sebaik mungkin, bukan
sembarangan) akan dibagikan ke publik. Tentu saja dengan catatan: dapat
mengatasi beban-beban personal.
Sepanjang zaman, senantiasa ada yang
muncul dengan karya-karyanya dan bermanfaat untuk zaman. Ada pula yang
tersembunyi tetapi menjadi rujukan banyak orang. Dua-duanya punya jejak spesial.
Namun banyak juga yang selain dari kedua kategori itu. Pilihan sering
menghampar, dan selalu ada takdir. Kita bisa memilih yang mana, dan akhirnya
akan seperti apa.


Posting Komentar