KORESPONDENSI.ID - Beberapa hari setelah Iduladha 1442 H, saya ada di antara anak-anak yang malam itu “nyate” bareng di teras rumah. Ada delapan anak. Usianya delapan sampai 14 tahun. Mereka patungan membawa sekerat daging dari rumah masing-masing, lalu membikin satai bersama. Sarana untuk membakarnya sederhana. Mereka menata delapan batu bata di atas paving dan dijadikan tempat untuk membakar. Bahan bakarnya arang yang dijadikan bara.
Jika lebih dari dua anak berkumpul,
apalagi acaranya seperti itu, yang terlihat adalah keceriaan. Saya membantunya,
tapi menjaga jarak agar tak mengganggu rasa kesebayaan mereka. Anak-anak akan
lebih lepas bercanda jika usia mereka sepantaran, tak terpaut jauh. Meski jaga
jarak, tetap saya bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Saya juga cukup mengenal
karakter mereka karena saban hari ketemu.
Saat proses membakar satai, salah
satu anak yang memang paling sering bicara, paling kocak, dan suaranya paling
kencang, melihat ada beberapa satai yang dianggap sudah matang tapi masih di
pembakaran. Tusuk satainya terbakar. Ia terus nerocos menjelaskan keadaan itu ke
rekan-rekannya yang juga saling bantu dalam membakar. Anak-anak yang lain sibuk
dengan bagian kerjanya masing-masing. Ada yang menyiapkan bumbu untuk menyelup
satai setengah matang untuk dibakar lagi, menyiapkan buah, minuman, juga
mencincang bawang merah, cabai dan tomat. Semuanya sibuk.
Satu anak tadi terus bicara. Kali
ini mengabarkan ke teman-temannya dengan setengah berteriak bahwa sebagian
satai-satainya diyakini sudah matang, mulai gosong dan tusuk satainya terbakar.
Asap dari pembakaran dan suasana sibuk bercampur dengan teriakan anak tadi.
Akhirnya muncul kepanikan.
Di tengah kondisi demikian, ada satu
anak yang lain–barangkali tak betah dengan teriakan temannya—akhirnya angkat bicara
dengan nada menasihati. “Nek ngerti sataine mateng, tusuk sataine kobong, mbok
ra usah bengak-bengok tok. Mbok diselametke. Jupuk piringe. Kawit mau isane
bengak-bengok tok (Kalau tahu satainya sudah matang dan tusuk satainya
terbakar, tidak usah teriak-teriak. Diamankan saja, ambil piringnya. Dari tadi
cuma bisa teriak-teriak saja),” sergah salah satu dari mereka. Anak yang tadi
teriak-teriak, menjawab sekenanya dan menuruti saran temannya. Dia, dengan
kicat-kicat (kepanasan) mengambil satu-persatu satai yang tusuknya terbakar,
dipindah ke piring.
Namanya juga anak paling riuh kalau
bicara, ada saja tingkahnya. Setelah satai yang agak gosong tadi dipindah ke
piring, ia meninggalkannya begitu saja. Dari kejauhan ia melihat ada kucing
mendekat, dia teriak lagi. “Awas kucing, awas kucing,” teriaknya. Anak yang
tadi menasihati, kembali menyergah. “Kowe kan nganggur. Amanke dewe. Ora usah
bengak-bengok. Liyane gek sibuk dewe-dewe (Kamu kan tidak mengerjakan apa-apa
dan bisa. Amankan saja, jangan teriak-teriak. Teman-teman lainnya sedang sibuk)’’.
Kisah anak-anak itu saya sudahi
sampai di bagian ini, meski selanjutnya ada banyak keceriaan lain. Menikmati satai
di suasana Iduladha itu enaknya tidak hanya di menunya. Tapi juga di momentum
kebersamaannya. Anak-anak itu punya caranya sendiri. Saya hanya “mak deg” ada
potongan dialog yang saya dengar secara tak sengaja tadi.
Spontan saja, potongan pendek obrolan
anak-anak malam itu mengingatkan saya pada Kevin Carter, salah satu penerima
Pulitzer Prize, penghargaan paling bergengsi untuk karya jurnalistik (salah
satunya foto) terbaik dunia. Fotografer asal Afrika Selatan itu mengambil
sebuah foto di Sudan pada 1993.
Foto jepretan Kevin Carter tersebut
diambil dalam momentum seperti ini: saat itu orang tua dari seorang anak
mengantre dan berebut mendapatkan makanan di tempat pemberian bantuan makanan
dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Orang tua itu terpaksa meninggalkan
anaknya sendirian. Pada saat itu Kevin Carter melihat anak yang ditinggalkan
tersebut dalam kondisi lemah dan terlihat amat kurus. Anak itu, dalam kondisi demikian,
memaksa membawa tubuhnya sendiri ke arah lokasi orang tuanya yang mengantre
bantuan makanan. Anak itu diintai burung pemangsa bangkai di belakangnya. Kevin
mengabadikan momentum tersebut dengan jepretan kamera. Berikutnya anak itu
diketahui bisa sampai ke pusat pemberian bantuan makanan, namun nasib
berikutnya belum terungkap.
Foto karya Kevin Carter yang oleh
publik kala itu disebut sebagai foto menakjubkan namun amat miris, dianugerahi
Pulitzer Prize di tahun berikutnya, 1994. Namun Kevin justru depresi dengan apa
yang ia saksikan dari momentum tersebut. Banyak yang mengecam karya fotonya
yang berjudul The Vulture and The Little Girl tersebut. Publik mempertanyakan
mengapa ia tak menolong anak itu, dan justru menjadikannya sebagai objek foto. Pada
27 Juli 1994, di usia yang ke-33 tahun, atau dua bulan setelah menerima
penghargaan kelas dunia itu, Kevin Carter diketahui bunuh diri di dalam truk di
tebing sungai Braamfonteinspuit, Johannesburg.
Kisah Kevin Carter tidak saya
perpanjang karena sejatinya saya tidak begitu berselera berkisah hal tragis.
Tapi kisah itu memang dicatat dalam sejarah karena karya fotonya yang
bereputasi dunia, peristiwa saat pengambilan foto, respons dunia, kisah tragik
sang fotografer di kemudian hari, dan pelajaran khusus dari kejadian itu.
Pada masa-masa berikutnya, peristiwa
itu sering dijadikan sebagai salah satu ‘slide’ pembelajaran kehidupan. Ada
kisah tragik menyangkut kemanusiaan di balik karya fotografi bereputasi dunia. Dunia
ruang publik, sebut saja media massa maupun media sosial yang sepanjang waktu terus
berevolusi, terus menjadikan kisah itu sebagai pengingat.
Ada sekian banyak pilihan untuk
dijadikan pegangan bagaimana bersikap dan bertindak di tengah situasi panik,
kekacauan, atau musibah. Di tengah kehidupan, orang memperhatikan betul soal
hukum benar-salah. Tetapi norma kepantasan, kelayakan, kepatutan, dan hal-hal
yang bertalian dengan etika, juga patut mendapatkan tempat khusus untuk
diperhatikan. Pantaskah melakukan swafoto sambil terus mengembangkan tawa di tengah
upacara pemakaman dengan banyak orang berduka? Di tengah musibah jatuhnya
pesawat terbang dengan sekian jumlah korban meninggal dunia dan banyaknya
keluarga yang berduka, patutkah membuat, mengunggah dan atau menyebarkan meme lucu-lucuan
seputar tragedi itu?
Pada sudut kehidupan yang lain, di
ruang internet, sebut saja media sosial setiap hari (tentu saja banyak juga yang
baik-baik dan hikmah yang dapat ditemukan) terus terjadi keributan dan debat
kusir dari dua atau banyak pihak. Tepatkah terus menerus mendengungkan
keributan-keributan dan perdebatan yang sudah tidak sehat lagi dari sisi kepantasan
berpendapat di ruang publik? Kalau pun telanjur masuk di lingkaran tersebut, bukankah
ada pilihan peran lebih tepat yang bisa diambil? Jika ruang perdebatan itu mengarah
ke ruang diskusi yang sehat, tentu saja bisa terus dilakukan. Tetapi jika ruang
itu sarat dengan emosi dan banyak keluar dari konteks, tentu ada pilihan yang
bisa diambil. Atau jika perdebatan sudah buntu dan lebih mengarah mudarat, ada
pilihan sikap lagi untuk menutup ruang mudarat tersebut.
Kalau tidak diikuti banyak orang dan
tidak dibaca banyak warganet, buat apa susah-susah membuat konten? Konten itu
dibuat agar ide, gagasan, serta kreativitas bisa dinikmati/diakses lebih banyak
orang. Ya, tetapi apakah demi mengisi konten, mengejar trending topic dan viral,
lantas harus menepikan kaidah-kaidah, nilai-nilai, kode etik, kepatutan, dan
kepantasan? Bukankah kreativitas itu juga lahir dari pilihan-pilihan. Teknologi
memberikan cara lebih mudah dalam memproduksi, menyimpan dan menyebarkan
konten. Tetapi substansi konten ada di ranah pilihan manusianya. Selain logika,
konten juga bersentuhan dengan rasa. Lebih dari itu, ia punya ekses yang tak
terduga, bisa baik, bisa sebaliknya.
Apakah akan terus mengabarkan ke
orang-orang di sekitar tatkala melihat kejadian mirip tusuk satai yang terbakar,
satai yang mulai gosong dan masih terpanggang di bara? Bisa saja, karena
terkadang orang tahu ada masalah karena ada yang tahu, lalu mendengungkan dan
itu bisa saja baik. Pendengung itu bisa menjadi alarm atau pengontrol. Tetapi jika
pendengung itu sekaligus menjadi bagian dari pihak yang bisa mengambil peran
untuk menghindarkan tusuk satai dari keterbakaran dan daging satai dari kegosongan, bukankah sebaiknya mengambil peran itu?
Para sesepuh dulu sering
mengingatkan kaidah ini: ‘sikap/langkah (yang dipilih) untuk menghindari
kerusakan/bahaya lebih didahulukan daripada sikap/langkah yang bisa mengunduh
kemaslahatan’. Kaidah ini bisa menjadi lonceng pengingat sepanjang waktu dari
sekian episode kehidupan yang terus berubah. Kisah Kevin Carter di balik
penghargaan Pulitzer-nya, juga obrolan anak-anak yang “nyate” itu membuka mata
rasa betapa mengamplifikasi atau mendengungkan lebih keras sebuah tragedi/kekacauan
itu ada tatanannya. Ia terkadang tidak di ruang benar-salah. Jauh lebih lembut
dari itu, ia sering masuk ke bilik pantas atau tidak.


Posting Komentar