Menyadari Pentingnya Literasi Internet Bagi Anak
Oleh Muhammadun
KORESPONDENSI.id - Hampir setiap Sabtu atau Minggu sekitar pukul 06.30, saya berjalan ke arah timur dari rumah tempat saya tinggal di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Di salah satu tikungan, terdapat bangunan semipermanen tempat jasa tambal ban. Pagi, sebelum tempat tambal ban itu dibuka, selama masa pandemi Corona virus disease (Covid)-19 ini, sering ada empat sampai enam anak yang duduk di depan dan samping bangunan itu. Semuanya memegang gawai (gadget). Dari wajahnya, mereka sepertinya belum mandi dan masih usia sekolah dasar. Saya perlambat jalan, dan melihat mereka tak bicara satu sama lain. Mereka fokus ke gawai masing-masing.
Pada lain waktu, saya ke desa tempat orang tua saya tinggal, di Kabupaten Pati. Satu dukuh di desa yang dulu saya identifikasi sebagai perkampungan paling tertinggal dibanding kampung tetangga terdekat. Dulu, pada 1993, ada istilah Inpres Desa Tertinggal (IDT), sebuah program yang ditujukan untuk pengentasan kemiskinan di desa-desa tertinggal di Indonesia. Desa tempat orang tua orang tua saya tinggal, adalah salah satunya. Secara infrastruktur, desa ini tertinggal 10-15 tahun dibanding desa sekitar. Contohnya, desa sekitar sudah terjangkau air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sejak awal 2000-an, kampung orang tua saya itu baru terkoneksi pipa PDAM pada 2016. Di kawasan pusat kecamatan dan desa-desa di dalamnya sudah teraliri listrik pada 1970-an dan awal 1980-an, di kampung saya listrik baru bisa dinikmati secara terbatas mulai 1997. Kondisi itu memengaruhi bentuk dan pola-pola komunikasi di tengah warga.
Ketertinggalan infrastruktur itu lumayan terkejar dalam beberapa tahun terakhir. Alhasil, internet yang kini dinikmati separo (sekitar 4 miliar orang) dari populasi manusia di bumi, juga bisa dinikmati warga di kampung itu. Awalnya masih dengan pola membeli pulsa kuota, namun kini ada fasilitas internet Wifi unlimited berbayar Rp 2.000/hari. Itu saya lihat sejak 2020. Entah seperti apa awal prosesnya, perangkat Wifi ditempel oleh pihak penyedia ke setiap tiang listrik. Dengan membayar Rp 2.000/hari ke warung terdekat, bisa mengakses internet unlimited dari jarak maksimal 25-an meter dari tiang listrik. Belakangan, beberapa rumah juga sudah bisa memasang perangkat Wifi di rumah.
Pada 29 Februari 2020, sebuah pemandangan saya abadikan melalui foto. Pada sekitar pukul 20.00, saya menjumpai 10 anak berkerumun di dekat tiang listrik, di bawah temaram cahaya lampu. Ada tiga gawai, dan mereka membentuk tiga kelompok. Tiap gawai dilihat tiga sampai empat anak. Saya mendekat, dan tahu apa yang mereka nikmati dari gawainya. Saat menonton video-video lucu dari platform Youtube dan aplikasi Tiktok, sesekali tawa mereka pecah. Tak lama berselang, mereka pindah platform. Mereka bersepakat mabar, istilah yang dikenal di antara mereka untuk menyebut main bareng sebuah game yang mereka unduh dari PlayStore. Selama mabar, mereka tak saling bicara. Raut mukanya menjadi sedemikian serius. Saya menyebutnya tampak tegang. Jika sudah seperti ini, sulit mengajak mereka bicara. Mereka hanya bicara (dengan mata tetap tertuju ke layer gawai) tentang strategi pemenangan game. Selebihnya, akan diabaikan. Itu kalau beruntung. Jika tidak, bisa kena bentak. Mereka tak mau diganggu. Mereka punya dunianya sendiri.
Terpapar Konten
Dua contoh fenomena yang saya lihat sepintas di dua kampung beda kabupaten tadi menguatkan temuan riset-riset tentang kenyataan meluasnya penggunaan gawai yang terkoneksi internet oleh anak-anak.
Riset yang ditulis Srinahyanti dkk berjudul Influence of Gadget: A Positif and Negative Impact of Smartphone Usage for Early Child dan diterbitkan jurnal EAI pada 2019 menunjukkan meluasnya penggunaan gawai di kalangan anak. Ia mengutip riset dari The Asian Parent Insight akhir 2014. Riset itu menyebutkan 98 persen dari responden orang tua yang berjumlah 2.714 di Asia Tenggara mengizinkan anaknya mengakses teknologi komputer dan smartphone. Riset ini menjangkau orang tua di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina. Alasan orang tua mengizinkan penggunaan gawai disebut dalam riset itu adalah untuk tujuan hal-hal yang bersifat edukatif, meski dalam kenyataan yang ditulis di riset yang sama, digunakan untuk tujuan hiburan dan permainan.
Dampak positif penggunaan gawai dalam riset itu diungkap. Selain mampu meningkatkan pengetahuan anak, juga dapat melatih sikap mental menghadapi kompetisi, serta mengimprovisasi keterampilan kognitif. Dampak negatifnya, selain anak menjadi sangat kecanduan dengan gawai serta potensi menimbulkan obesitas, juga mengganggu perkembangan komunikasi, menurunkan kemampuan konsentrasi, dan terpapar radiasi.
Riset tersebut tidak menyatakan bahwa gawai itu buruk untuk anak-anak, namun lebih pada sebuah tantangan besar. Karenanya perlu dibarengi dengan kesiapan terhadap penggunaan gawai. Bagaimanapun gawai meskipun memungkinkan anak mendapatkan kesempatan positif, namun tetap memiliki dampak buruk jika tidak terkendali dengan baik.
Badan di Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani pendidikan anak, Unicef pada 2014 melakukan studi dengan Kemenkominfo tentang Digital Citizenship Safety among Children and Adolescents in Indonesia. Studi tersebut menunjukkan 69 persen responden anak-anak dan remaja menggunakan komputer untuk mengakses internet, 34 persen melalui laptop, dan dua persen dengan video game. Meski masih kalah dengan penggunaan komputer dalam mengakses internet, namun anak dan remaja di Indonesia pada 2014 sebanyak 52 persen menggunakan gawai. Bukan tidak mungkin angka ini terus meningkat di tahun-tahun berikutnya seiring dengan meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia yang terus naik dari tahun ke tahun.
Literasi
Pada kasus di kampung yang saya jumpai di atas, dari semula sebagai kawasan tertinggal tanpa jaringan internet, lalu kini dengan Rp 2.000 mereka bisa mengakses internet sepuasnya dalam sehari, potensi dampak-dampak yang merugikan bisa muncul. Terlebih nyaris tanpa sentuhan literasi apapun terkait penggunaan teknologi digital melalui gawai yang terkoneksi dengan internet. Media digital membuka peluang untuk kemajuan, namun jika tidak diimbangi dengan literasi dari orang tua maupun lingkungan, tentu berisiko sosial tinggi. Potensi lumpuhnya sikap dan keterampilan sosial di kalangan anak dan remaja benar-benar menganga. Konsumsi pornografi melalui gawai salah satunya.
Studi yang dilakukan Wellcome Trust dari Departemen Psikiatri Universitas Cambridge menunjukkan, otak yang menyerap informasi hasil menonton video/gambar porno menunjukkan aktivitas yang lebih tinggi. Reaksinya mirip dengan saat kecanduan narkoba.
Anak-anak yang sekarang menikmati gawai dan terkoneksi internet, lahir saat jaringan internet memang sudah meluas, bahkan ke desa-desa. Mereka sering disebut sebagai digital native. Mereka lahir dan mata terbuka, sudah langsung bertemu gawai orang tuanya. Konten dari beragam platform seakan memapar bebas. Mereka langsung membaca dan menonton apa saja yang tersaji di gawai. Tanpa dibarengi dengan literasi atau pendidikan konsumsi informasi, mereka rawan terpapar sisi negatif dari apa yang mereka baca dan tonton di media. Dalam sejarahnya, kultivasi, salah satu teori komunikasi massa meneliti pengaruh tayangan televisi terhadap khalayak. Teori yang dicetuskan George Garbner dan Larry Gross dari Universitas Pennsylvania ini menyebut televisi menjadi media atau alat utama penontonnya dalam belajar kultur lingkungan. Persepsi yang dibangun khalayak pemirsa ditentukan oleh televisi. Dari televisi orang belajar tentang nilai-nilai kehidupan. Melihat perkembangan sekarang, dimana banyak anak mulai beralih dari televisi ke gawai, maka konten gawai berpotensi besar membentuk atau memengaruhi pola komunikasi anak. Saya menyebut pola komunikasi untuk tidak menyebut karakter.
Pertanyaannya, siapa yang masih memberikan perhatian terhadap pentingnya literasi penggunaan internet kepada anak-anak ini. Saat anak memegang gawai dan terlihat lebih menguasai teknologinya, butuh energi besar bagi orang tua untuk mengendalikannya. Atau kalau tidak, orang tua justru kalah. Meski secercah, upaya-upaya yang digagas kelompok mana pun untuk memberikan literasi internet terhadap anak harus didukung, diapresiasi, ditiru, dan terus dilakukan. Di luar orang tua, penyedia platform perlu memberikan perhatian besar persoalan bagaimana memagari anak dari konsumsi bebas konten internet. Pemerintah dengan otoritasnya perlu memberikan stimulus-stimulus terhadap upaya memassifkan literasi teknologi informasi. Terutama untuk orang tua. Sebab pintu masuk literasi digital anak, bisa dilakukan oleh orang tuanya.


Posting Komentar