Kenthongan, WhatsApp dan Ketenangan Komunikasi
Oleh MuhammadunKORESPONDENSI.id - Pada rentang 1980-an, saat masih kanak-kanak, saya ditempa dengan kebiasaan-kebiasaan yang kala itu saya anggap sangat normal. Jika itu jika terjadi di era sekarang, tentu --menurut subjektivitas saya dan dalam kepentingan saya membela kekhasan masa lalu yang patut dirindukan--masih tetap normal.
Begini, kampung tempat saya tinggal di masa kecil ada di tepi Kali Juwana di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Meski saya tinggal di perkampungan di Kecamatan Jakenan, namun lebih sering ke Juwana ketimbang ke pusat keramaian di Kecamatan Jakenan. Untuk sampai ke pusat kecamatan Jakenan, saya butuh waktu waktu mengayuh sepeda sejauh kira-kira hampir 10 kilometer. Sedangkan untuk sampai ke alun-alun Juwana, saya cukup berjalan kaki lewat belakang rumah sejauh 200-an meter, lalu naik “jukung” bermesin (perahu berukuran sedang) dengan biaya kala itu Rp 75, dalam waktu sekitar 20 menit sudah sampai bawah jembatan dekat alun-alun Juwana. Atau, saya bisa memilih cara lain, yaitu menyeberangi sungai dengan jasa jukung tanpa mesin berbiaya Rp 25 sekali menyeberang. Lalu dilanjut jalan kaki 400-an meter, baru sampai pantura dan naik angkot warna oranye untuk sampai ke pasar Juwana yang terkenal itu. Lagi pula, saya lebih sering punya kepentingan bersama warga sekampung dengan berdagang hasil bumi dan ternak ke Juwana.
Saya fokus ke jukung penyeberangan. Kira-kira sampai pertengahan 1990-an sebelum ada jalur yang sekarang dikenal sebagai Jembatan Sampang dalam bentuk jembatan gantung, yang 2017 dibongkar menjadi jembatan permanen dan bisa untuk menyeberang kendaraan roda empat, penduduk dari desa-desa di Kecamatan Jakenan menggunakan jasa penyeberangan sungai dengan jukung. Mobilitasnya tinggi karena untuk kepentingan berdagang dan jalur pulang-pergi nelayan. Ada dua titik jasa penyeberangan, yang satu di Dukuh Sampang Desa Tondomulyo yang kini menjadi jembatan permanen, dan satunya lagi di Dukuh Pencil desa yang sama yang lokasinya kira-kira 200 m belakang rumah tempat saya tinggal. Saya lebih sering menggunakan yang titik lokasi terakhir karena lebih dekat.
Orang yang melayani jasa penyeberangan di Dukuh Pencil itu akrab disapa Mbah Kasto. Ia sudah meninggal dunia saat saya remaja. Semoga Tuhan merahmati. Saya mengenalnya, pun sebaliknya. Saat saya masih anak-anak dan remaja, usianya saya taksir lebih kurang 60 tahun. Ia agak pendiam. Saya menggunakan jasa jukung itu saat masih anak-anak untuk kepentingan bersama orang tua atau teman-teman sebaya. Baik untuk keperluan ke Juwana, maupun berburu layangan putus di persawahan di seberang sungai di Desa Gadingrejo Kecamatan Juwana. Masa kecil banyak saya habiskan di tepian sungai tumpuan nelayan ini.
Kenthongan Bambu
Saat saya remaja dan harus sekolah di Pati utara, mau tidak mau saya sendirian untuk menyeberangi sungai. Karena di pondok pesantren, saya biasanya sebulan sekali pulang. Di titik seberang yang di Desa Gadingrejo, Mbah Kasto memasang kenthongan dari bonggol bambu. Ia ikatkan di pohon asam jawa, dekat dengan rumpun bambu di tepi sungai. Cukup teduh
Fungsi kenthongan itu simpel. Siapa saja yang datang dari arah Juwana, dan jukung dalam posisi di seberang (Dukuh Pencil Kecamatan Jakenan), maka calon penumpang harus membunyikan kenthongan itu. Membunyikan kenthongan menjadi keharusan, jika Mbah Kasto dalam posisi tertidur di jukung seberang, gubuk tempatnya istirahat, atau di teras rumah terdekat. Kala itu penyeberang memang tidak padat. Memungkinkan Mbah Kasto untuk bersantai, dan terkadang tertidur. Sungai itu lebarnya lebih kurang 100 meter. Perlu suara frekuensi teriak agar bisa terdengar. Suara pukulan kenthongan pun mesti disesuaikan bagaimana posisi dan kondisi Mbah Kasto. Jika ia dalam kondisi tidur, keras pun tak ada jaminan ia terbangun.
Dalam beberapa kali momentum pulang, saya mengalami situasi dimana Mbah Kasto tertidur di seberang, bersama jukung butut tanpa mesin itu. Berkali-kali kenthongan saya pukul tak ada tanda-tanda Mbah Kasto bangun. Saya masih ingat, dalam kondisi seperti itu, saya bisa menunggu satu hingga dua jam. Bahkan bersama saya sudah ada calon penumpang yang lain yang tiba menyusul. Terkadang kejadian itu berlangsung siang atau sore. Bahkan malam hari. Listrik belum menjangkau kawasan itu. Gelap, bahkan terkadang hujan. Belum lagi saat sungai besar itu volume airnya tinggi, atau masa banjir.
Tetap Tenang
Pada titik ini, menjaga tidak marah, terus setia menunggu, dan melambungkan doa/harapan di tengah noise menjadi sebentuk ketenangan komunikasi di masanya.
Sampai di bagian ini, saya menambahkan kisah pendek sebagai pengayaan. Kakak perempuan saya tinggal Desa Dukutalit Kecamatan Juwana, Pati. Di masa kecil, saya sudah sering ke rumahnya bersama Bapak atau Emak saya. Bisa dibilang sebulan atau dua bulan sekali. Bisa naik dokar, atau berjalan kaki dari Juwana karena jaraknya hanya sekitar satu kilometer. Namun dalam satu kesempatan, bersama Emak, usai berdagang di Pasar Juwana, kami bermaksud ke rumah kakak sulung saya itu dengan berjalan kaki. Berangkat dari pasar sekitar pukul 08.30, namun baru sampai ke rumah kakak saya sekitar pukul 12.00. Kami berjalan dan tersesat entah kemana. Blusukan kampung. Wajarnya, kami bisa menempuhnya hanya kurang dari 30 menit. Namun kami tersesat jalan dan butuh 3,5 jam untuk sampai ke rumah kakak. Kami tidak marah. Kami hanya “mak plenggong” atau tak habis pikir, terheran-heran, dan saling tatap mata setengah tak percaya.
Situasi-situasi seperti di atas sering dialami orang-orang segenerasi saya atau sebelumnya. Generasi dimana internet belum ada. Orang di masa itu sudah terkondisikan untuk tidak marah saat janjian bertemu namun tidak tepat waktu karena ada halangan di jalan seperti ban sepeda bocor, kaki tertusuk duri bambu, tersesat arah jalan atau salah satu tiba-tiba sakit dan tak jadi berangkat. Agar tidak salah tafsir, dulu, orang janjian ketemu itu janjiannya bisa sepekan sebelumnya, dan tidak bertemu/komunikasi lagi. Sedangkan janji waktu pertemuannya di pekan berikutnya. Rentang waktu sepekan memungkinkan salah satunya terhalang untuk datang. Karena sebab-sebab tertentu, tak ada sarana komunikasi untuk membatalkan atau menjadwal ulang. Ini akan berdampak kepada yang tetap bisa datang, namun setelah ditunggu berjam-jam temannya tidak juga muncul. Marah? Ya, bisa jadi. Tapi saya melihat karena hal itu memungkinkan terjadi kapan saja, rasanya marahnya masih dalam batas kewajaran, atau memaklumi.
Ini bisa dibandingkan dengan kondisi sekarang. Baik bagi digital native, orang yang terlahir ke dunia sudah langsung bertemu dengan aplikasi WhatsApp dan sejenisnya, maupun bagi orang yang hidup di zaman sebelum ada internet, namun sudah menyatu dengan pola hidup berinternet.
Saya melihat reaksi emosional dalam komunikasi personal di era canggihnya teknologi informasi ini lebih cepat meletup ketimbang era masa lalu. Teknologi komunikasi seperti tak memberi ruang bagi kita untuk sekadar berargumentasi ‘…saya tak tahu alamatnya…’ atau ‘…maaf, saya tersesat…’. Alamat bisa ditelisik lewat aplikasi. Jika belum yakin bisa langsung bertanya. Bahkan alasan kemacetan yang kita sampaikan ke pihak lain, sudah harus dipastikan kebenarannya karena pada saat yang sama, teman kita akan memberikan data pembanding tangkapan layar gawai bahwa rute yang kita lewati macet atau tidak. Selisih waktu janjian satu, dua, tiga menit sudah dianggap amat merugikan.
Cerita ini tentu bukan dalam bingkai kita harus longgar dan memaklumi ketelatan-ketelatan. Namun perkembangan teknologi, amat berdampak pada pola komunikasi. Akurasi dan kecepatan yang melekat dalam teknologi terkadang seolah-olah menoleransi kita untuk cepat naik pitam jika terjadi ketidaktepatan atau selisih-selisih lain. Potret siapa kita terkadang ada pada keputusan menyalakan notifikasi centang biru atau mematikannya dalam pesan WhatsApp, centang satu atau centang dua, dan seterusnya.



Posting Komentar