Tips Tenang Hadapi Membludaknya Informasi Covid-19


Oleh Dune

 

KORESPONDENSI.id - Saat wabah Corona virus disease (Covid)-19 mencuat di akhir 2019, kita yang tinggal di Indonesia masih berposisi sebagai penyimak informasi-informasi dari kejadian di Kota Wuhan Provinsi Hubei, Tiongkok. Secara psikologis, hampir tak terasa ada kepanikan, kecuali rasa empati dan simpati dengan saudara-saudara di Wuhan, sembari berharap virus tak menyebar lebih luas. Mereka yang sudah terjangkit, agar lekas diberi kesembuhan.

Media-media di Indonesia juga masih bisa leluasa memecah konsentrasinya di isu selain Covid-19, meski tetap mengikuti perkembangan di Wuhan karena pada fase berikutnya tak hanya Wuhan yang terpapar. Kota-kota lain di Tiongkok terdampak. Ekonomi terhenti karena sebagian kota-kota di Negeri Tirai Bambu ditutup. Negara lain yang memiliki hubungan intens dengan Tiongkok juga menutup akses dari dan ke Tiongkok.

Di masa-masa lingkaran Covid-19 masih di Tiongkok dan meluas ke beberapa negara Eropa, warganet Indonesia, setidaknya dari yang ramai diunggah di media sosial, masih ‘percaya diri’ tak bakalan terpapar Covid-19. Keriuhan Indonesia bakal terjangkit/tidak menghangatkan media sosial. Iklim tropis dan rempah-rempah Indonesia dilambungkan sebagai yang bisa menangkal Cobvid-19. Dari sini, hoaks beredar. Jahe misalnya, dianggap sebagai rempah terdepan yang mampu membunuh Covid-19. Efek hoaks ini dahsyat. Harga jahe meroket, naik 300-an persen. Bahkan barangnya menjadi langka di pasaran. Sebenarnya, jahe tidak dalam posisi head to head membunuh Covid-19. Saat itu,belum ada vaksin khusus yang bisa mematikan Covid-19.

Setelah jahe, muncul bertubi-tubi konten hoaks lain dalam beragam bentuk. Namun Maret, virus ini akhirnya terbang ke Indonesia. Satu, dua, tiga dan seterusnya. Jakarta jadi episentrum penyebaran, hingga akhirnya meluas. Hoaks ikut irama, turut menyebar luas. Sumber dari Kementerian Kominfo, pada pertengahan April 2020, konten hoaks yang menyebar lebih dari 470 konten. Ia terdistribusi melalui platform Facebook, Instagram, YouTube, Twitter, dan aplikasi WhatsApp (WA).

Pada saat bersamaan, pemberitaan di media massa arus utama juga makin intensif. Frekuensinya naik berlipat-lipat. Hampir semua tema pemberitaan, ekonomi, politik, budaya, sosial basah kuyup dengan sentuhan Covid-19. Setidaknya empat koran berbeda saya baca tiap pagi. Hampir sebagian besar halaman dipenuhi Covid-19. Saya berharap halaman olahraga tidak terimbas, tapi perjalanan waktu halaman ini akhirnya dikuasai Covid-19.

Pemberitaan media arus utama terus berkejaran dengan konten dari beragam platform media sosial.  Bagi para pengguna gawai yang terkoneksi dengan internet dan memiliki akun media sosial, sepanjang Maret, April, hingga Mei 2020 bisa jadi memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda. Ada yang terus mengikuti perkembangan Covid-19, namun bersikap pasif. Ada yang aktif dengan memperbarui status, story, atau cuitan, merespons, dan mengomentari. Namun tak sedikti yang jengah, jenuh, bahkan panik. Sebagian lagi mungkin tetap mengikuti perkembangan, namun tetap bisa tenang.

Nah, bagaimana tips tetap tenang di tengah membludaknya informasi Covid-19 ini, bahkan diperparah dengan banyaknya hoaks. Ini tips bagi mereka yang memang saban saat memegang gawai dan punya akun media sosial, serta ingin tetap bisa mengikuti perkembangan secara proporsional.

Pertama, ikuti informasi dari media arus utama. Soal media arus utama yang mana, bisa soal selera. Namun ikuti media-media yang kecenderungan informasinya mengedepankan keterukuran, proporsional, komprehensif, informatif, dan sangat edukatif. Sebab ada juga media-media arus utama yang memiliki diksi-diksi bombastis, terutama media daring. Tak ada jaminan 100 persen tak terjadi disinformasi maupun hoaks di media arus utama. Namun setidaknya, jika terjadi sesuatu yang menyimpang dari informasi di media arus utama, ada pihak yang bisa dimintai pertanggungjawaban dengan cara mengklarifikasi atau memverifikasi. Media arus utama memiliki mekanisme kerja yang lebih akuntabel dalam memverifikasi data. Apalagi di era hujan hoaks, salah satu funsgi media arus utama adalah menjadi verifikator kebenaran data, meskipun terkadang munculnya belakangan, lebih cepat sebaran hoaksnya.

Kedua, jika mengikuti informasi perseorangan/lembaga, sebut saja akun media sosial, maka bisa memilih yang benar-benar memiliki jejak rekam baik. Benar bahwa susah sekali menemukan kebenaran daring. Finding truth online is hard enough. Namun dengan mengikuti akun-akun dari orang-orang relatif kredibel, tentu akan mengurangi dampak mengasup hoaks atau disinformasi. Contoh ringan, jika kita ingin tahu perkembangan valid sepak bola dari klub pujaan, maka ikutilah akun ofisial resmi dari klub tersebut. Atau jika langsung menggandrungi pemainnya, ikuti akun resmi pemain yang kita tuju. Tentu setelah menyaring bahwa akun yang diikuti bukan palsu. Dalam konteks Covid-19, kalau itu institusi, maka kita bisa mengikuti akun resmi Kementerian Kesehatan. Selebihnya, jika ingin imbangan atau tambahan informasi, seleksilah secara ketat akun-akun yang kita ikuti. Bukankah mudah saja bagi kita untuk mengikuti (follow) atau tidak mengikuti (unfollow) sebuah akun? Pilihan ada di diri sendiri.

Ketiga, sepanjang meluasnya penularan Covid-19, grup WhatsApp atau WAG adalah yang paling riuh. Informasi apa pun soal Covid-19 menyebar di WAG. Apa yang ada di platform Facebook, Twitter, YouTube, Instagram, diangkut ke WAG. Tak cukup itu, masih ditambah dengan narasi-narasi yang memang diproduksi melalui pesan WA dan cepat menyebar luas. Narasi sama, nama penulisnya bisa beda-beda. Semuanya atas nama dokter. Bagaimana mungkin mempercayai informasi pesan berantai dengan reputasi seperti itu.

Dalam konteks ini, pertimbangkan 10 kali lipat untuk mempercayai pesan-pesan berantai di WAG yang tidak jelas asal-usulnya. Kecuali yang kita bisa temukan kebenarannya dengan memverifikasi secara pribadi.  Jika tidak dalam kondisi terpaksa, hindari memverifikasi hoaks melalui WAG. Sebab orang lain di grup tersebut bisa jadi akan melakukan hal yang sama. Sama-sama tidak tahu. Tak ada yang bisa memverifikasi kebenarannya. Alih-alih mendapatkan jawaban yang benar, justru itu sering mempercepat hoaks menjadi viral. Jika mendapati informasi dari WAG yang kebenarannya diragukan, tanyakan secara pribadi ke teman yang dianggap lebih sering tahu, setidaknya bisa memberikan masukan/pertimbangan. Informasi dari WAG yang kita konsumsi secara mentah bukan menenangkan, namun bisa menimbulkan kepanikan.

Keempat, sebisa mungkin menyaring hoaks, memisahkannya dari informasi yang kita konsumsi. Caranya bagaimana? Secara sederhana, cek sumber, penulis, dan tanggalnya. Kontrol bias-bias dalam benak kita, sandingkan dengan informasi dari sumber lain sebagai pembanding, dan sumber pendukung. Di luar itu, perlu memperjelas apakah konten tersebut hanya sebuah joke. Sebab menseriusi joke sama saja salah alamat. Terakhir, tanyakan ke ahlinya. Jika itu tentang Covid-19, bisa bertanya ke hotline/website Gugus Tugas Covid-19, atau ke orang-orang yang memiliki akses terdekat dengan informasi valid dari Covid-19.

Kelima, ikuti dan sebarkan informasi seperlunya. Dengan kemudahan teknologi informasi, kita bisa saja menyerap semua kabar terbaru Covid-19, bahkan dari berbagai penjuru dunia. Tetapi apakah itu sangat diperlukan? Jika itu merepotkan, pilih atau seleksi yang memang dibutuhkan. Setidaknya untuk kebutuhan diri sendiri, keluarga, teman, atau literasi ke komunitas yang kita tahu agar sama-sama bisa saling mendukung data-data terbaru. Ini pun seperlunya saja. Bukankah saat informasi Covid-19 membludak, rasanya setiap orang seperti ahli di bidang per-covid-an? Jika ingin berbagi informasi, seleksi secara ketat. Kita bisa berpikir bahwa informasi yang kita asup adalah yang terbaru, tetapi pikirkan bahwa orang lain bisa lebih cepat atau lebih tahu dari kita. Atau, pikirkan juga, setelah kita berbagi, dalam hitungan detik dan menit kemudian, orang lain juga akan tahu. Jadi hindari merasa bangga menjadi yang pertama membagikan informasi.

Dorothy Gordon, kepala Biro Information for All Programme (IFAP) UNESCO sebagaimana dirilis dalam laman resmi en.unesco.org pada 11 Juni 2020 mengatakan, salah satu pertahanan untuk menghadapi informasi salah dan hoaks adalah dengan kompetensi literasi media dan informasi. Orang yang melek media dan informasi akan mengevaluasi informasi yang mereka dapatkan dengan cara memverifikasinya sebelum menggunakan atau membagikan informasi tersebut.

Belum ada negara maupun lembaga manapun yang menjamin kepastian waktu berakhirnya pandemi Covid-19. Bersama-sama memberdayakan masyarakat agar dapat mengevaluasi membludaknya informasi seputar Covid-19 yang bertebaran menjadi relevan.

Itu beberapa tips yang barangkali bermanfaat seputar kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam mengonsumsi dan membagi informasi seputar Covid-19. Banyak yang bertestimoni, tenang itu menyehatkan. Setidaknya tenang di pikiran. Bukankah tidak panik termasuk bagian yang bisa membantu memperkuat imunitas tubuh? Termasuk tidak mudah panik dalam mengonsumsi informasi.

Posting Komentar

My Instagram

Presented by Korespondensi ID