JALAN Evenida do Estado di kawasan Bras adalah salah satu jalur padat di
tengah kota metropolitan, Sao Paulo, Brasil. Di jalur itu, berdiri Masjid
Brasil, atau Mesquita Brasil.
Dari titik nol kilometer tengah Kota Sao Paulo, dengan naik busway, butuh
waktu sekitar 15 menit untuk sampai di masjid bercat putih tersebut. Masjid itu
sangat mudah ditemukan karena terdapat menara menjulang di tepi Jalan Evenida
de Estado di antara gedung-gedung pencakar langit.
Pada Jumat, 14 Juni 2014, Syeikh Abdel Hamid Metwally yang berasal dari
Mesir menyampaikan khutbah Jumat dengan berbahasa Arab selama lebih kurang satu
jam, dimulai pukul 12.00 waktu setempat. Khutbah yang kemudian diterjemahkan ke
dalam Bahasa Portugis oleh salah satu jamaah asal Sao Paulo itu diikuti sekitar
200 orang.
Luas ruang dalam masjid itu sekitar 400 m2 dan di sisinya terdapat
bangunan megah tiga lantai yang menjadi ruang pertemuan, juga ruang perjamuan
makan bersama seusai shalat Jumat. Desain interior masjid itu tak jauh beda dengan
kebanyakan masjid-masjid di Indonesia. Kalau pun ada bedanya, barangkali di
ketinggian mimbar khatib. Di masjid ini, khatib berdiri di atas mimbar dengan
ketinggian sekitar tiga meter di atas jamaah.
Syekh Abdel Hamid siang itu di antaranya menyampaikan pentingnya
kehati-hatian manusia dalam membawa diri, baik untuk kehidupan pribadi maupun
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Menjaga kerukunan sesama umat beragama
juga sangat ditekankan, termasuk berharganya mengasah kepekaan sosial.
‘’Selamat datang, dan salam untuk Indonesia,’’ kata Syekh Abdel Hamid Metlawy saat menerima saya usai salat Jumat. ‘’Setelah ini, silakan bersilaturahmi dengan jamaah lain. Di sini ada dari Lebanon, Mesir, Madinah, Syuriah juga Maroko dan Somalia,’’ kata syekh berjubah itu.
Imigran
Kota Bras di Sao Paulo, merupakan kawasan dengan denyut Islam paling
terlihat. Ada empat masjid di kawasan ini. Bras adalah kota yang didominasi
para pekerja dan menjadi jantung Islam di negara Amerika Latin itu. Populasi
umat Islam terus meningkat di Brasil. Saat 2014 ada sekitar 1,5 juta pemeluk
Islam dari 190 juta jiwa total jumlah penduduk negara ini. ‘’Aktivitas di
masjid ini juga banyak didanai para donator dari Mesir,’’ kata Majid, pemuda
asal Madinah, Arab Saudi yang tinggal di dekat masjid itu.
Penduduk beragama Islam di Brasil awalnya merupakan imigran Arab tiba di
kota itu pada era 1920-an. Sensus dari Pemerintah Brasil pada tahun 2000,
jumlah muslim yang menetap di Brasil 27.239 orang. Jumlah itu berkembang pesat
dalam 14 tahun kemudian hingga tumbuh menjadi sekitar 1,5 juta orang. Dari
jumlah ini, 15 persennya merupakan penduduk asli Brasil. Di Rio de Janeiro,
populasi umat Islam juga terus bertumbuh. Mereka banyak bekerja di sektor
perdagangan. ‘’Saya sudah tujuh tahun tinggal di Brasilia, dan memiliki saudara
seorang profesor di Rio de Janeiro,’’ kata Habib Haddad yang berdarah Maroko.
Ia seorang pedagang.
Agama Islam tumbuh hampir di seluruh negara Amerika Latin, khususnya di
Brasil sejak budak-budak yang beragama Islam dari Afrika dibawa ke Brasil pada
abad ke-19. Di Brasil sejarah itu baru boleh mulai dipelajari di
sekolah-sekolah dan perguruan tinggi pada 2003 berdasarkan peraturan yang
dikeluarkan pemerintah Brasil. Sejarah itu menjadi latar belakang mengapa
banyak orang-orang Brasil keturunan Afrika memilih masuk Islam. Fenomena ini,
banyak ditemui di kawasan industri di pinggiran kota Sao Bernardo.
Tradisi yang dilakukan muslim yang berkembang di Bras tak jauh beda
dengan umat Islam di beberapa negara lain, seperti Thailand. Mereka menyantap
nasi bersama-sama usai salat Jumat. Di Bras, Jumat itu menu yang dihidangkan
adalah nasi khas Brasil yang tak pulen, dengan ayam goreng, kacang merah,
buncis, kacang hijau, juga beragam buah-buahan. Mereka makan dan minum bersama
di ruang lantai dasar hall masjid itu. Sebuah kehangatan di jantung Islam Sao Paulo yang terkenang.

Posting Komentar