Setelah adzan
dan menikmati beberapa butir kurma serta meneguk air/jus buah, mereka
menunaikan salat magrib berjamaah. Usai salat, semua jamaah memasuki sebuah
ruang terbuka tanpa atap di belakang masjid.
Di tempat itu sudah disediakan nasi kuning, kacang-kacangan, semangka,
bubur, serta opor ayam. Setiap orang satu-persatu mengambil lalu duduk di
sebuah meja bundar. Itulah sepintas situasi menjelang dan saat berpuka puasa di
masjid Brasilia, satu-satunya masjid di ibukota Brasil.
Adalah Syekh Muhammad Zidan, imam besar masjid tersebut yang mengumandangkan adzan tanpa pengeras suara di pelataran masjid. ‘’Kami menghargai umat lain di sini. Tak hanya di adzan magrib ini, tapi juga di adzan salat lima waktu, semuanya tak pakai pengeras suara,’’ kata pria berkebangsaan Mesir yang sudah lebih dari tiga dasawarsa tinggal di Brasil. Lahan tempat masjid itu luasnya mencapai 2,8 hektare, berada sekitar 20 km dari pusat kota Distrik Federal Brasilia.
Syeikh
Muhammad Zidan menilai toleransi beragama di Brasil benar-benar dijaga, bahkan
dalam satu keluarga banyak ditemukan orang-orang berbeda agama. Karena ingin
memastikan tak ada yang terganggu lingkungan yang beragam itu, masjid Brasilia
memutuskan adzan tak memakai pengeras suara. Sedangkan untuk khutbah Jumat
menggunakan pengeras yang hanya cukup untuk orang di dalam masjid. ‘’Di Brasil,
tak ada Kementerian Agama. Di sini, agama sangat privasi,’’ tutur dia.
Di Brasil yang
berpenduduk hampir 200 juta jiwa (saat 2014), umat Islam hanya 1,7 juta. Dari
jumlah itu, 3.500-an umat Islam tinggal di Brasilia. Dari umat Islam yang ada
di ibukota itu, hanya 200 orang yang asli penduduk dan kelahiran Brasil dan
kebanyakan dari mereka adalah kaum mualaf. Sisanya adalah para imigran dari
Maroko, Lebanon, Libya, Mesir, Syuriah, dan Palestina. Brasil dikenal sebagai
negara “open arm”, sebutan untuk negara yang terbuka terhadap kaum imigran.
Pada Agustus
2014, di masjid Brasilia ini diselenggarakan kongres makanan halal yang
dihadiri seluruh perwakilan masjid tiap kota di Brasil. Kongres itu memperbarui
perkembangan kebijakan makanan halal yang lisensinya dikeluarkan otoritas resmi
di Sao Paulo. Umat Islam di seluruh Brasil menghimpun diri dalam sebuah
asosiasi, dan komunikasinya sangat intensif melalui para syekh perwakilan dari
masing-masing masjid.
Saat Ramadan,
silaturahmi di antara umat Islam di Brasil lebih intensif. Tiap pekan mereka
berkumpul. Momentum salat tarawih, juga kegiatan lain seperti belajar mengaji
untuk para mualaf pagi sampai siang hari juga dijadikan ajang silaturahmi.
Salat tarawih di masjid Brasilia diimami Syekh Muhammad Zidan. Tarawih dimulai
pukul 20.30 waktu setempat dengan delapan rekaat. Ditambah tiga rekaat salat
witir. Tiap dua rekaat mereka salam. Meski tarawih delapan rekaat, selesainya
sampai pukul 22.30 karena tiap dua rekaat mereka memanjatkan doa dan zikir
cukup panjang, ditambah istirahat. Beberapa perempuan asli Brasil yang masih
mualaf belajar mengaji usai salat magrib. Kaum perempuan disediakan ruang
khusus. Masjid tersebut dibangun pada 1990 oleh Pemerintah Arab Saudi.
Pengelolaannya dilakukan Kedutaan Arab Saudi di Brasilia. (Bersambung)

Posting Komentar