Menikmati Adzan di Pelataran Masjid Brasilia (Memoar-Seri 1)

 

     PULUHAN orang sudah berkumpul di pelataran Mesqueta Islamico do Centro Brasilia (Masjid Islamic Center Brasilia), menjelang berbuka puasa. Kala itu tahun 2014 dan pas di Bulan Suci Ramadan. Mereka sudah memegang gelas berisi air putih dan jus buah. Muhammad Ali, muslim asal Brasil membagikan kurma dengan piring. Tiap orang mengambil ala kadarnya. Tepat pukul 17:52 waktu setempat, imam besar masjid Brasilia berdiri di tengah pelataran masjid. Dengan berjubah dan mengenakan peci putih, ia mengumandangkan adzan tanpa pengeras suara, pertanda masuk waktu salat magrib sekaligus berbuka puasa.

Setelah adzan dan menikmati beberapa butir kurma serta meneguk air/jus buah, mereka menunaikan salat magrib berjamaah. Usai salat, semua jamaah memasuki sebuah ruang terbuka tanpa atap di belakang masjid.  Di tempat itu sudah disediakan nasi kuning, kacang-kacangan, semangka, bubur, serta opor ayam. Setiap orang satu-persatu mengambil lalu duduk di sebuah meja bundar. Itulah sepintas situasi menjelang dan saat berpuka puasa di masjid Brasilia, satu-satunya masjid di ibukota Brasil.

Adalah Syekh Muhammad Zidan, imam besar masjid tersebut yang mengumandangkan adzan tanpa pengeras suara di pelataran masjid. ‘’Kami menghargai umat lain di sini. Tak hanya di adzan magrib ini, tapi juga di adzan salat lima waktu, semuanya tak pakai pengeras suara,’’ kata pria berkebangsaan Mesir yang sudah lebih dari tiga dasawarsa tinggal di Brasil. Lahan tempat masjid itu luasnya mencapai 2,8 hektare, berada sekitar 20 km dari pusat kota Distrik Federal Brasilia.

Syeikh Muhammad Zidan menilai toleransi beragama di Brasil benar-benar dijaga, bahkan dalam satu keluarga banyak ditemukan orang-orang berbeda agama. Karena ingin memastikan tak ada yang terganggu lingkungan yang beragam itu, masjid Brasilia memutuskan adzan tak memakai pengeras suara. Sedangkan untuk khutbah Jumat menggunakan pengeras yang hanya cukup untuk orang di dalam masjid. ‘’Di Brasil, tak ada Kementerian Agama. Di sini, agama sangat privasi,’’ tutur dia.

Di Brasil yang berpenduduk hampir 200 juta jiwa (saat 2014), umat Islam hanya 1,7 juta. Dari jumlah itu, 3.500-an umat Islam tinggal di Brasilia. Dari umat Islam yang ada di ibukota itu, hanya 200 orang yang asli penduduk dan kelahiran Brasil dan kebanyakan dari mereka adalah kaum mualaf. Sisanya adalah para imigran dari Maroko, Lebanon, Libya, Mesir, Syuriah, dan Palestina. Brasil dikenal sebagai negara “open arm”, sebutan untuk negara yang terbuka terhadap kaum imigran.

Pada Agustus 2014, di masjid Brasilia ini diselenggarakan kongres makanan halal yang dihadiri seluruh perwakilan masjid tiap kota di Brasil. Kongres itu memperbarui perkembangan kebijakan makanan halal yang lisensinya dikeluarkan otoritas resmi di Sao Paulo. Umat Islam di seluruh Brasil menghimpun diri dalam sebuah asosiasi, dan komunikasinya sangat intensif melalui para syekh perwakilan dari masing-masing masjid.

Saat Ramadan, silaturahmi di antara umat Islam di Brasil lebih intensif. Tiap pekan mereka berkumpul. Momentum salat tarawih, juga kegiatan lain seperti belajar mengaji untuk para mualaf pagi sampai siang hari juga dijadikan ajang silaturahmi. Salat tarawih di masjid Brasilia diimami Syekh Muhammad Zidan. Tarawih dimulai pukul 20.30 waktu setempat dengan delapan rekaat. Ditambah tiga rekaat salat witir. Tiap dua rekaat mereka salam. Meski tarawih delapan rekaat, selesainya sampai pukul 22.30 karena tiap dua rekaat mereka memanjatkan doa dan zikir cukup panjang, ditambah istirahat. Beberapa perempuan asli Brasil yang masih mualaf belajar mengaji usai salat magrib. Kaum perempuan disediakan ruang khusus. Masjid tersebut dibangun pada 1990 oleh Pemerintah Arab Saudi. Pengelolaannya dilakukan Kedutaan Arab Saudi di Brasilia. (Bersambung)

Posting Komentar

My Instagram

Presented by Korespondensi ID