KORESPONDENSI.ID - Saya
memirsa tayangan dokumenter The Social Dilemma pada 15 September 2020 lalu,
atau sepekan setelah Netflix merilisnya. Sebuah dokumenter karya Jeff Orlowski yang banyak mengungkap testimoni orang-orang ‘dalam’ tentang efek media sosial. Diperankan
aktor, aktris dan para mantan orang-orang media sosial. Skyler Gisondo, aktor
asal Italia yang pernah tampil di sinema Vacation (2015) dan The Amazing
Spider-Man (2012) adalah salah satunya. Selain Gisondo, juga ada Kara Hayward,
aktris kelahiran Massacushetts yang pernah tampil di film Moonrise Kingdom pada
2012.
Saya
sebut testimoni orang-orang ‘dalam’ karena dokumenter ini melibatkan orang-orang
yang pernah ada di garis depan beragam platfom media sosial dan ahli dalam
algoritma. Tristan Harris, mantan Design Ethicist Google dan Vinchent
Kartheiser, orang yang punya pengalaman di periklanan dan tahu betul artificial
intelligence ada di antaranya. Di luar itu ada para mantan orang-orang ‘dalam’
beragam platform media sosial. Sebut saja Jeff Seibert (Twitter), Sandy
Parakilas (Facebook), Guillaume Chaslot (Youtube), dan Bailey Richardson
(Instagram). Mereka adalah orang-orang yang dulu turut serta dalam mendesain
media sosial, namun kini mengkhawatirkan dampak buruknya. “50 desainer membuat
keputusan yang berdampak pada dua miliar orang. Belum pernah ada sebelumnya,” demikian Tristan Harris dalam potongan The Social Dilemma.
Ada
juga penjelasan-penjelasan dari Lynn Fox (mantan direktur korporat public
relations-nya Apple, serta Jaron Lanier, perintis virtual reality, ahli komputer,
sekaligus penulis buku media sosial. Ahli yang intens terhadap studi adiktif
atau kecanduan dari Stanford Universiti Anna Lembke juga terlibat di dalamnya.
Sisi kelam media sosial yang oleh kita mungkin tampak alamiah dan natural,
dalam dokumenter itu dinarasikan sebagai sebuah insiden dan telah didesain
secara canggih. Mereka orang-orang yang tahu betul bagaimana dapur teknologi komputasi
dan platform media sosial itu bekerja, sehingga amat berkompeten memberi
kesaksian sekaligus mengungkap kekhawatiran dampak negatif dari media sosial.
Saya
tak kaget dengan konten dokumenter ini. Sejak 2009 saya mengulik dan merasakan dua hal secara
bersamaan; kontraksi sekaligus kompromi individu maupun media massa dalam
berdampingan dengan media sosial.
Para
narasumber dalam The Social Dilemma ini benar-benar eksploratif menjelaskan
sisi gelap media sosial. Bukan sesuatu yang berlebihan. Sebab sisi buruk itu bisa jadi kita telan
sehari-hari. Misalnya bagaimana pengguna menjadi sedemikian kecanduan dengan
media sosial. Sejak bangun hingga kembali akan tidur, media sosial adalah
perangkat pertama dan terakhir yang disentuh.
Secara
psikologis, seseorang mungkin merasa tidak bisa mengendalikan diri saat melihat
konten media sosial. Tatkala membuka platform media sosial, spontan merasa seolah-olah
di tepi dan terpinggirkan. Itu karena melalui perangkat tertentu, memungkinkan
seseorang membangun impresi atau kesan tak alamiah namun seperti natural. Tampilan di luar kebiasaan keseharian, namun diyakini sebagai
sebuah idealitas atau kesempurnaan. Psikologi pengguna media sosial yang tak
terkendali bisa saja merasa tertekan, untuk tidak menyebut menderita.
Banyak
yang menyebut media sosial sebagai kemajuan untuk menguatkan demokrasi
informasi. Kran kebebasan terhadap akses informasi publik terbuka. Konstitusi juga
menjamin hak setiap orang merdeka berpendapat dan berekspresi. Benarkah
demikian? Bisa jadi benar. Tapi telisik lagi, apakah pendapat dan ekspresi kita
benar-benar original dan natural sebagai insan merdeka? Sebab boleh jadi
pendapat dan ekspresi yang kita munculkan di akun media sosial merupakan
cerminan pengaruh total dari kelompok-kelompok dominan dalam platform media
sosial yang selama ini rajin membangun opini dengan kepentingan-kepentingan
tertentu. Ruang publik dunia digital dikendalikan akun-akun tertentu, sebut
saja influencer atau buzzer. Pribadi-pribadi yang semestinya merdeka
berpendapat, seperti masuk ke ruang gelap yang bias dan akhirnya terbawa arus opini publik yang terdesain sedemikian rupa. Bentuknya bisa
diam (atas pertimbangan risiko buruk atau takut), atau sekadar mengikuti arus dominan.
Gagasan-gagasan otentik menjadi langka. Wacana-wacana di media sosial yang
mestinya mencerdaskan, subur dan sehat, menjadi terbonsai dan bermutasi dalam
sekat-sekat yang kaku dan amat rawan.
Sampai
di titik ini, saya punya pengalaman kecil bertanya secara acak ke beberapa
pemilik akun lintas platform. Mengapa saat pemilu lalu akun-akunnya sepi, tak
dipakai untuk menyampaikan aspirasi, harapan, gagasan, kontrol atau mendiskusikan
program para kandidat pemimpin. Toh bisa dengan menandai (tag/mention) ke akun
media sosial calon-calon pemimpin yang akan dipilih. Delapan dari 10 orang menjawab
mereka memilih tidak membuat pernyataan (status) politik karena merasa takut
dengan perundungan (bullying). Mereka tak ingin kalimat atau kata-katanya
ditafsirkan salah sehingga masuk dalam kubu A dan B. Belantara media sosial
bukan memerdekakan seseorang berpendapat. Justru sebaliknya, dapat membikin
orang diam. Ruang interaksi yang sehat dalam apa yang saya sebut sebagai
demokrasi digital yang sehat menemui jalan terjal.
Belum
lagi soal cek silang disinformasi maupun hoaks yang bertebaran di media sosial.
Bagaimana sikap-sikap yang ditunjukkan seseorang saat bermedia sosial dalam
menghadapi padat dan derasnya informasi. Meleset sedikit dalam memencet
tautan-tautan informasi, algoritma akan bekerja dengan caranya. Keingintahuan
kita tentang satu informasi yang kemudian kita baca, maka lingkungan media
sosial akan membuka ruang-ruang baru informasi serupa. Apalagi secara alamiah, orang
cenderung percaya pada apa yang ingin dipercayai. Orang mempercayai informasi
apa saja yang sesuai dengan kecenderungan, kesukaan, atau pilihannya. Tanpa
banyak berpikir bagaimana akurasi informasi itu. Ini secara lembut bisa
mengganjal langkah-langkah seseorang dalam menemukan keberimbangan yang
bijaksana (saya tidak bisa menemukan kata yang pas untuk ini). Ilmuan
komunikasi menyebutnya sebagai konfirmasi bias. Media sosial dengan
algoritmanya, menuruti kecenderungan kita sebagai konsumen sehingga rawan
terjebak kebiasan-kebiasan. Jika ini berlangsung terus menerus, maka pengguna
media sosial akan terpapar hal-hal bias, dan menjadi pribadi yang bias. Saya
sebut penting menemukan ‘keberimbangan yang bijaksana’ dan tidak menyebut
‘kebenaran’ karena di media sosial, terang dan gelap adalah sesuatu yang amat
subjektif.
Dua Bilah Guna
Tiga tahun sebelum The Social Dilemma ini dirilis, bersama teman-teman perguruan tinggi yang meriset media sosial, saya mendiskusikan beberapa jurnal ilmiah tentang plus minus media sosial. Salah satunya jurnal tentang sisi buruk media sosial yang dipublikasikan European Management Journal. Christian V Baccarella dkk di jurnal ini menulis Understanding the Dark Side of Social Media. Ini salah satu jurnal yang menyembul dengan mengambil dimensi khusus, yakni sisi gelap media sosial. Sebelumnya telah banyak riset-riset yang mengungkap bright side atau dimensi positif dari media sosial.
Saya mencoba mengetengahkan tujuh fungsi media sosial sebagaimana diungkap Kietzmann (2011). Di dalam fungsi-fungsi itu, melekat sekaligus dua hal, sisi baik dan sisi buruknya. Pertama, conversations atau percakapan. Rata-rata platform media sosial menyediakan ruang ini. Sebut saja Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube. Setidaknya ada ruang 'like', 'reply', 'comment', juga 'direct message'. Pengguna bisa mendiskusikan apa saja tentang informasi atau berita, musik, olahraga, kesehatan, hiburan, juga literatur. Di ruang ini orang bisa berdiskusi, melibatkan banyak orang dari berbagai latar belakang. Tapi sisi gelap ruang ini memungkinkan terjadinya percakapan yang berlebihan, tidak akurat (sebut saja disinformasi), hoaks dan bahkan sesuatu yang agresif seperti menyerang.

Ketiga,
presence atau kehadiran. Perangkat ini memungkinkan pemilik akun, personal
maupun lembaga membagikan sesuatu dalam posisi dimana, bagaimana, dan kapan.
Facebook misalnya menggunakan protokol internet (IP) yang dapat menyajikan
secara online soal lokasi. Ada semacam deklarasi pemilik akun sedang dimana.
Tentu saja ini memiliki manfaat soal intimasi sebuah komunikasi, sekaligus
bagaimana interaksi itu bisa memengaruhi. Pemilik akun yang gemar berbagi
informasi soal penyelenggaraan balapan MotoGP, lantas dalam seri race tertentu
dia mengunggah status di media sosialnya. Ia yang memanfaatkan perangkat lokasi
dimana ia sedang berada sirkuit tempat MotoGP itu digelar, tentu akan
memberikan sentuhan atau bobot interaksi tersendiri.
Sisi
buruknya, perangkat dalam media sosial yang memfasilitasi posisi lokasi secara
online memungkinkan pihak lain men-tracking-nya untuk kepentingan-kepentingan tertentu.
Tentu saja privasi dan keamanan bisa menjadi taruhan dengan risiko-risiko buruk.
Keempat,
relationships atau menjalin hubungan. Platfom
media sosial menyediakan ruang dimana penggunanya bisa saling berteman, saling
mengikuti, atau mengikuti secara sepihak. Orang dengan beragam latar belakang
bisa menjalin ‘pertemanan’. Pemilik akun anonim bisa berteman atau sekadar
mem-follow akun profesor B dari kampus tertentu atau artis C dari kota/negara
tertentu. Warga kelurahan B bisa mengikuti akun menteri C, atau presiden dari
negara X. Hubungan dalam media sosial
yang bisa lintas latar belakang ini, memungkinkan terjadinya perundungan
(bullying), atau stalking misalnya. Stalking adalah memantau atau memata-matai
akun media sosial tertentu, tanpa pemilik akun tahu. Selain itu juga memungkinkan
terjadinya tindakan pelecehan secara online melalui pesan yang terjalin dari
pertemanan tersebut.
Kelima,
reputation atau reputasi. Pemilik akun media sosial dapat membangun reputasi
tertentu dengan menunjukkan kompetensi, tampil atraktif dan inspiratif. Juga
memungkinkan lembaga atau seseorang menunjukkan reputasi, jabatan, dan posisinya
di bidang tertentu. Banyak orang reputasinya terangkat oleh cara dia membawa
diri di media sosial. Namun iklim seperti ini juga memungkinkan terjadinya risiko-risiko
buruk. Bukankah kita juga sering mendapati orang dengan posisi tertentu
mengunggah konten yang justru paradoks dengan reputasinya. Atau sekadar
me-‘like’ unggahan akun yang kontennya menyimpang. Ini akan menimbulkan
risiko-risiko buruk bagi pemilik akun tersebut. Tak jarang orang menjadi
depresi karena persoalan ini. Sanksi sosial dan lembaga bisa saja melengkapi
penderitaannya.
Keenam,
groups atau kelompok. Media sosial, termasuk aplikasi WhatssApp dan sejenisnya,
menyediakan perangkat yang memungkinkan pemilik akun dengan kepentingan dan
minat serupa membuat grup. Melalui grup itu, anggota bisa saling
berpartisipasi, saling mengisi, dan saling berbagi. Bahkan bisa menggerakkan
secara sosial. Bukankah kita sering melihat, bahkan mungkin menjadi pelaku,
bagaimana menghimpun dana sosial melalui grup-grup media sosial. Tentu saja ini
sangat positif. Tapi berkelompok di dalam satu grup, jika tanpa dibarengi
dengan kesadaran tinggi, juga kerap membuat anggota grup itu terpeleset. Turner
(2004) menyebutnya sebagai potensi terjadinya ‘in group – out group bias’.
Muncul apa yang disebut sebagai fanatisme kelompok. Bagaimana fanatisme ini
muncul? Insting sosial biasanya mendorong orang yang merasa kuat bisa dekat
dengan kelompok. Kita juga mengenal hukum ‘kesalingan’. Orang yang mudah
menolong biasanya akan cepat mendapatkan pertolongan ketika membutuhkannya.
Selain itu juga faktor kebiasaan memuji dan menyalahkan. Orang dengan
kepentingan dan persepsi yang sama bisa saling memuji, namun sebaliknya,
menyalahkan bahkan membenci untuk yang kepentinganya berbeda di luar
kelompoknya. Di sini fanatisme kelompok muncul. Dalam grup sosial, apalagi
politik, bias-bias seperti ini ‘terwadahi’ melalui perangkat grup yang
disediakan media sosial.
Ketujuh,
identity atau identitas. Pemilik akun media sosial bisa menampilkan identitas
yang dikehendaki di akun pribadinya. Ini bisa dilihat dari foto profil dan
biografi yang ditampilkan, serta narasi, foto atau video yang diunggah.
Personal branding kerap menjadi pintu masuk bagaimana pemilik akun menunjukkan
identitasnya. Melalui ini, tentu ada banyak manfaat yang bisa didapatkan.
Bagaimana seseorang mencitrakan dirinya sebagai penjual yang profesional,
suami-istri yang baik, pasangan yang romantis, pembicara yang andal dan
berpengalaman, atlet yang santun, pejabat yang populis, atau orang kaya yang
sederhana dan gemar berbagi. Potensi gelap sisi ini, pemilik akun bisa terbawa
pada hal-hal yang sifatnya berlebihan dari cara-caranya melakukan personal
branding. Riset yang dilakukan di Inggris menunjukkan bagaimana anak-anak dan
kaum muda kehilangan kontrol dalam mengelola dan memproteksi privasinya saat
menunjukkan identitas diri di akun media sosialnya. (The Children Society,
2018).
Pilihan
Itu
tujuh sisi baik dan buruk sekaligus yang melekat dalam media sosial. Untuk
menghindari sisi gelap, apakah solusinya meninggalkan media sosial? Mungkin
saja, tetapi ini punya konsekuensi. Di masa sekarang orang butuh informasi dan banyak
kemudahan-kemudahan lain yang disediakan media sosial. Apalagi pengguna media
sosial bisa belajar banyak hal tentang keterampilan dan pengetahuan. Bahkan
sekarang menjadi ruang pembelajaran. Komunikasi dan transaksi bisnis juga bermigrasi ke ruang digital.
Dalam kegelapan, spontan orang mungkin takut atau lari. Tapi belum tentu itu sebuah jalan keluar. Bukankah berhati-hati
lebih bijaksana agar tetap bisa berjalan di tengah kegelapan. Toh ada lorong
cahaya yang bisa dijumpai. Itu mengapa banyak peneliti media sosial yang
mengelaborasi ‘a walk on the dark side’ (berjalan di sisi gelap). Ini penting
untuk memahami dan membantu individu, komunitas, maupun lembaga dalam bermedia sosial
dengan aman agar tujuan-tujuannya tercapai dengan baik. Tentu saja perlu
dibangun kesadaran tanpa henti. Literasi internet bukan saja penting, tetapi
keniscayaan. Ini pilihan.
Dokumenter
The Social Dilemma memang mengeksplorasi efek negatif dari sistem algoritma dan
model bisnis setiap media sosial. Tak salah mengingatkan, ada ruang gelap
setelah cahaya, dan ada cahaya setelah ruang gelap. Suka atau tidak suka,
pemilik akun media sosial adalah produk dari platform itu. Tinggal pemilik akun
akan memilih seperti apa.
Di
titik ini saya teringat sejarah Alfred Nobel (1833-1896 M), pria kelahiran
Stockholm, Swedia yang menjadi penemu dinamit. Saat hendak meninggal dunia di
San Remo, Italia pada 10 Desember 1896 ia berwasiat agar dinamit (peledak)
temuannya digunakan untuk kebutuhan kemanusiaan seperti kemajuan-kemajuan di bidang
fisika, kimia, sastra, perdamaian, dan fisiologi. Sebab motivasi awal riset
panjangnya menemukan dinamit adalah untuk menekan kerugian pekerjaan
konstruksi, pengeboran saluran, peledakan batu, dan pembangunan jembatan.
Wasiat itu diungkapkan lantaran dinamit, pada perkembangannya disalahgunakan
menjadi sarana peperangan, hingga Alfred Nobel sendiri pernah diperjara dua
bulan karena temuan dan penyalahgunaan itu.
Barangkali penemu beragam platform
media sosial itu juga tak memiliki motivasi jahat di awal menelurkan ide dan
inovasinya. Bisa jadi niatnya untuk kemajuan perkembangan peradaban manusia.
Meskipun kita tahu, dalam perkembangannya ada sisi gelap dengan risiko-risiko
mengerikan dan dimanfaatkan untuk kepentingan yang menyimpang. Teringat
pemikiran Marshall McLuhan, ‘medium is extension of man’, media (teknologi) adalah
perpanjangan tangan manusia untuk membantu memenuhi kebutuhannya. Sejarah
peradaban memang banyak diwarnai relasi manusia dengan sains. Kita punya
pilihan, memilih lorong gelap atau terang. Kita bisa saja telah terjebak berjalan
di lorong gelap. Saat tersesat, mengambil kembali dan menggunakan tongkat penuntun adalah pilihan bijak, agar bisa menuntun ke jalan terang.

Aku melu nulis oleh rak hhh
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusKe depan dipertimbangkan untuk penulis dari luar. Suwun
HapusJeh durung ilang bakat olehmu mnolang neng swara medeka
BalasHapusAamiin:)
Hapus